
Selesai minum kopi bersama, mereka keluar dari kedai tersebut. Tiba-tiba saja, rintik-rintik hujan membasahi tanah aspal yang kering.
"Haduh, sepertinya hujan akan turun. Sebaiknya, kita tunda untuk pulang." ujar Yixi.
"Sebaiknya, pulang sekarang saja." jawab Yanky.
"Yixi, kamu 'kan naik mobil juga. Tidak akan basah, meskipun hujan deras." sahut Ubay.
"Iya, tapi tetap harus berjalan ke parkiran. Lihatlah, letak mobilnya lumayan jauh dari emperan ini." jawab Yixi.
Ubay segera berlari ke arah mobilnya, dan mengambil payung lalu membentangkannya. Ubay menghampiri Yixi, dan memayungi kepalanya.
"Apa-apaan kamu, beraninya bertindak seperti ini. Masih ada aku suaminya, yang akan melindungi istri sendiri." ujar Yanky.
"Aku lihat, tuan Yan tidak bergerak sama sekali. Bahkan, takut untuk menerobos hujan." jawab Ubay.
Yanky menunjuk wajahnya. "Kau? berani-beraninya meremehkan aku."
"Berbicara sesuai realita saja." jawab Ubay.
Yanky melepaskan jaketnya, lalu menutup kepala Yixi. Yanky sengaja merangkul pundaknya, berusaha merebut Yixi yang berada dekat Ubay.
"Kita pulang sekarang." bisik Yanky.
__ADS_1
"Iya, tidak masalah." jawab Yixi.
Mereka segera berjalan menuju mobil Yanky, lalu kendaraan roda empat itu melesat ke jalanan umum.
"Kamu itu, semakin membuat sandiwara kita terbongkar. Kamu selalu saja seenaknya, bersama pria lain." gerutu Yanky.
"Berisik tuan Yan, bagaikan bebek yang bersuara." jawab Yixi.
Yixi segera berjalan terlebih dulu, saat sudah sampai ke apartemen. Dia masuk ke dalam kamar, tanpa menghiraukan Yanky yang berada di belakangnya.
"Seperti rumah sendiri, berlaku seenaknya padaku." gerutu Yanky.
Yanky melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruangan tersebut. Ubay yang berada di belakang Yanky, segera masuk ke ruangan di sebelah kamar mereka.
Sebelum tidur, Yixi masuk ke dalam toilet. Hal itu dia lakukan, hanya untuk membalas pesan Ubay. Yixi membaca pesan, yang Ubay kirimkan.
Yixi tertarik dengan tawaran Ubay, yang mengajaknya untuk bekerjasama. Yixi mengetik huruf pada papan tombol, untuk membalas pesan dari Ubay. Pria itu membaca pesan masuk, yang dikirim oleh Yixi.
"Aku mau Ubay, tapi kita diam-diam dari Yanky iya."
"Oke, aku setuju. Besok, kita bertemu berdua saja."
Yixi tersenyum, karena balasan dari Ubay sangat cepat. "Apa dia menungguku membalas, hingga seperti roket melesat."
__ADS_1
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan Yixi yakin itu adalah Yanky. Memangnya siapa lagi bila bukan Yanky, sedangkan teman satu ruangannya hanya dia.
"Kamu ngapain si di dalam, kok lama banget." ucapnya.
"Tuan Yan, tidak semuanya 'kan harus aku lapor." jawab Yixi.
"Iya, tapi aku kebelet nih. Kalau sudah selesai, cepat keluar." gerutu Yanky.
"Iya, aku sudah selesai." Yixi berjalan meraih gagang pintu.
Tak berselang lama pintu terbuka, dan Yanky melewati arah samping. Dia segera mendorong tubuh Yixi, agar cepat keluar dari sana.
"Hih, dasar pria menyebalkan!"
Yixi melihat ponselnya berbunyi, ternyata panggilan video dari Airav. Yixi dengan gesit, menggeser tanda berwarna hijau.
"Hai Airav, apa kabar?" Yixi tersenyum ke arahnya.
Airav melambaikan tangannya. "Hai juga Yixi, kabarku baik."
"Kamu tidak mau menanyakan kabarku?" Yixi menyentil layar ponselnya.
__ADS_1
Airav nyengir. "Oh iya, aku lupa. Yixi apa kabar?"
"Kabarku baik, My love my beautiful." jawab Yixi.