
Ubay memesan makanan, di kedai kopi latte tersebut. Yixi dan Yanky duduk duluan di kursi masing-masing. San Xia duduk di sebelah Yanky.
"Sudah aku pesankan Yixi, kamu pasti suka." ujar Ubay.
"Terima kasih Ubay." jawab Yixi.
"Kamu kira hanya dia saja di sana, aku juga ada di sini." ujar Yanky.
"Tuan Yan tidak perlu cemas, sudah aku pesankan minumannya. Tentu bersamaan, dengan nona San Xia juga." jawab Ubay.
Tak berselang lama, pelayan membawakan minuman yang telah dipesan Ubay tadi. Semua mata memandang ke arah gelas, yang bergiliran di letakkan ke atas meja. Kepulan asap naik ke atas udara, karena air tersebut baru saja mendidih.
"Silahkan diminum." Pelayan berucap dengan ramah, sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Iya Mbak." jawab semuanya.
Mereka minum air tersebut, dengan pelan-pelan. Tidak terkecuali Yixi, yang membiarkan kopinya utuh. Dia malah fokus dengan ponselnya, dengan jari-jari yang terus mengetik.
__ADS_1
"Apa kau ini ingin disuapi, sehingga membiarkan airmu tidak diminum." ujar Yanky spontan.
"Yanky sayang, aku tidak terbiasa minum air yang masih panas. Lebih baik, aku menunggu dia sedikit dingin." jawab Yixi.
"Latte ini, lebih enak diminum saat panas. Ayolah, diminum sekarang juga." Yanky memaksanya, sambil tersenyum.
"Yixi memang tidak terbiasa, dengan air yang baru mendidih. Saat SMA dulu, dia pasti menunggu airnya sampai hangat kuku." Ubay malah menjawab.
"Sepertinya, sangat memahami istriku. Aku ingin tahu, sejauh apa kalian kenal." Yanky tersenyum mengembang, namun tampak tidak tulus.
"Tidak sangat paham juga. Namun bila dianggap seperti itu, aku tidak akan mengelak." Ubay tersenyum kecut, ke arah Yanky.
Yanky dan Ubay memberikan benda yang dipinta Yixi, secara bersamaan. Keduanya sampai beradu gelas dan piring, di atas udara. San Xia merasa cemburu, karena Yixi diperebutkan oleh dua pria sekaligus. Tapi dia lebih cemburu bila Yanky juga, termasuk orang yang rela melakukannya.
"Lebih baik, gelas dan piring mu untukku saja." San Xia merebut benda, yang ada di tangan Yanky.
Yanky pasrah. "Kalau kau menerimanya jauh lebih baik, daripada dia kembali ke tempat dengan sia-sia."
__ADS_1
Yanky tampak kesal, saat melihat Yixi menggunakan benda yang diberikan Ubay. Yixi menuang air ke dalam gelas, lalu ke dalam piring lagi.
Airav memasak di rumah ibunya, dia memutuskan menginap di sana. Airav malas tinggal di kosan, hanya seorang diri saja.
"Airav, temanmu memangnya pergi kemana, sehingga kamu sendirian di kosan?" tanya Yuva.
"Dia pergi Bu, ada urusan sendiri. Harap maklum, akhir-akhir ini kami sibuk." jawab Airav.
"Apa temanmu itu, masih menekuni bidang desain bangunan?" tanya Yuva penasaran.
"Iya, dia sering mempromosikannya ke sosial media. Terkadang ada yang membelinya, hanya untuk sekadar tugas anaknya yang masih sekolah." jawab Airav.
"Ibu salut padanya, mau berjuang untuk mimpinya." ujar Yuva.
"Bu, aku juga berjuang. Apa Ibu tahu, aku sampai terkena cakar sama fans penari profesional itu." jawab Airav.
"Siapa suruh kamu untuk mewawancarai, kehidupan pribadi seseorang secara mendalam." ucap Yuva.
__ADS_1
"Aku 'kan, ingin belajar lebih banyak darinya. Setidaknya, perempuan itu bisa berbagi pengalamannya padaku." Airav memajukan bibirnya perlahan.