
Ubay tiba-tiba menelepon, dan Yixi menggeser layar untuk menerima panggilan. Ubay yang memulai membuka pembicaraan.
"Halo Yixi!" ujar Ubay.
"Halo juga." jawab Yixi.
"Aku dapat nomor kamu dari Airav." ucap Ubay.
"Iya, aku tahu kok." jawab Yixi.
"Bisa gak, kita ketemuan sekarang?" tanya Ubay.
"Kamu aja yang ke sini, aku ada di kosan Airav." jawab Yixi.
Ubay mematikan sambungan teleponnya, setelah berpamitan dengan Yixi. Dia melangkahkan kakinya, menuju ke parkiran mobil. Kendaraan tersebut mulai melaju dengan kekuatan sedang, sampai tiba di rumah kos Airav.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang diketuk, membuat Yixi ikut keluar. Airav yang membuka pintu, karena dia tuan rumah.
"Ngobrolnya di luar aja iya." ujar Yixi.
"Iya Yixi." jawab Ubay.
Mereka duduk bersama, sambil menatap kupu-kupu yang berterbangan. Bunga dan pohon di sana tampak segar.
"Yixi, kamu kenapa tidak mau bertemu di luar?" tanya Ubay.
"Aku gak bisa bertemu dengan pria di luaran." jawab Yixi.
__ADS_1
"Takut pacar kamu marah iya?" tanya Ubay.
"Gak kok." jawab Yixi.
Keesokan harinya Paman Bone berkunjung ke rumah Yanky, dengan pandangan mata menatap rinci. Dia kagum pada desain rumah tersebut.
"Yanky, rumahmu bagus sekali." ujar Bone.
"Bukan Paman, ini sebenarnya mahar rumah untuk Yixi." jawab Yanky.
"Oh gitu iya, aku kira rumahmu." ucap Bone.
"Rumah bersama Paman, ini tetap rumah Yanky juga." jawab Yixi.
"Kelihatannya, kamu perempuan yang hebat. Tidak semudah itu, menaklukan hati es beku ini." Bone menepuk pundak Yanky.
Yixi dan Yanky menawari Bone, untuk makan bersama mereka. Ada Nifsah dan Zero juga, yang duduk di sana.
"Halo Paman, Nenek!" sapa Bone.
"Halo juga, ayo duduk." jawab Nifsah ramah.
Yanky dan Yixi saling bersenggolan, sebelum pada akhirnya duduk bersamaan. Nifsah mendorong mangkuk berisi daun sayur pepaya, agar lebih mendekat ke arah Yanky.
"Ini, sayur kesukaan kamu sudah Nenek masak." ujar Nifsah.
"Nenek tidak perlu repot-repot." jawab Yanky.
"Ah tidak apa-apa, kami sudah menumpang tinggal." ucap Nifsah.
__ADS_1
"Tidak bisa dikatakan menumpang, ini rumah kalian juga." jawab Yixi.
Bone tersenyum, mungkin saja hampir tertawa. "Ternyata, kamu banyak membuatnya berubah. Dia menjadi lebih empati, ditambah lagi makanan kesukaannya. Anehnya, sekarang suka dengan daun pepaya."
"Oh, memangnya dulu dia tidak suka?" tanya Yixi, pura-pura tidak tahu.
"Tidak, dia hanya suka dengan daging. Atau bila memungkinkan, memakan sayuran yang tidak pahit." jawab Bone.
"Paman, besok lusa aku akan pergi ke Italia." ujar Yanky.
"Memangnya ada urusan apa, hingga mengharuskan untuk pergi." jawab Bone.
"Biasalah urusan untuk bertemu rekan bisnis." ujar Yanky.
"Oh baiklah." jawab Bone.
Pukul 20.00 Yanky meletakkan kamus bahasa Italia, tepat di depan meja Yixi. Perempuan itu terkejut, karena lemparan dadakan dari Yanky. Namun tangannya, tetap meraih buku tebal tersebut.
"Kau pelajari dan hafalkan ini, jangan mempermalukan aku." ujar Yanky.
"Hah, tuan menyuruhku mempelajarinya. Apa tidak cukup dibaca saja, tanpa perlu dihafalkan." jawab Yixi.
"Mana bisa begitu, kau harus menghafalnya." ujar Yanky memaksa.
"Baiklah, baiklah." jawab Yixi, memilih mengalah.
Yixi mulai membaca satu persatu, kosakata yang membuatnya pusing. Baru saja ingin mencari inspirasi, malah sudah harus perang dengan kamus. Padahal niatnya, ingin membuat desain gambar rumah.
”Nasib, nasib, dinikahi iblis sinting tidak membawa keberuntungan. Setiap hari dia melakukan hal seenaknya, dan aku harus menjadi budak penurut.” batin Yixi.
__ADS_1