Menjadi Istri Karena Dijebak

Menjadi Istri Karena Dijebak
Yanky Terlihat Licik


__ADS_3

Ketika ingin mematikan sambungan panggilan, mereka berdua saling melambaikan tangan. Yanky tiba-tiba masuk kamar Yixi, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Tuan Yan, bisakah kau bersikap sopan?" tanya Yixi, dengan tatapan tidak suka.


"Maaf Yixi, aku benar-benar panik. Tuan Zhuo mendadak mengundang kita, untuk datang ke pesta dansa." jawab Yanky.


"Hah, sangat mendadak, bahkan aku belum mempersiapkan semuanya. Aku juga tidak bisa berdansa, apa tuan tidak bisa menolaknya." Yixi protes.


"Bisa saja, namun itu akan membuatnya curiga. Apa lagi, pesta ini sebenarnya rencana tuan Smith. Dia ingin melihat pasangan saling mencintai, dengan rencana pesta khusus untuk meramaikan dunianya." jawab Yanky.


"Apa besok malam pestanya?" tanya Yixi.


"Bukan besok malam, lebih tepatnya malam ini." jawab Yanky.


"Oh baiklah, aku mengerti." ujar Yixi.


"Iya, segera bersiap. Aku tunggu di luar." jawab Yanky.


Yanky melangkahkan kakinya keluar kamar, lalu Yixi segera mengganti bajunya. Ponsel Yixi kembali berbunyi, kali ini dari ayahnya. Yixi menggeser tanda berwarna hijau, untuk menerima panggilan telepon dari Zero.


"Nona San memberikan cincin emas untukku." ujar Zero.


"Oh, nona San Xia teman masa kecil Yanky iya." Yixi mengingat pesta pernikahan.

__ADS_1


"Nah benar Yixi, dia baik sekali. Coba saja, kamu berteman dekat dengan dia." ucap Zero.


"Aku tidak terlalu mengenalnya Ayah, ketemu pun hanya sekali. Dia datang dari luar negeri, saat kami menikah." jawab Yixi.


"Justru itu, kamu harus lebih kenal lagi." Zero terus mendorong pikirannya.


"Ayah, aku tidak suka memandang seseorang hanya sebatas permukaan. Kita tidak pernah tahu, kalau laut itu dalam." jawab Yixi.


"Iya, Ayah mengerti maksudmu. Kamu tidak suka ayah terlalu senang, bila menerima pemberian orang asing." ucap Zero.


"Nah, itu Ayah tahu." jawab Yixi.


Sambungan telepon terputus, setelah Yixi berpamitan. Dia ingin menarik resleting bajunya, namun malah tidak sampai. Berulang kali tangannya meraih punggung sendiri, meski tidak dapat sampai. Yixi keluar dari kamar, lalu menepuk pundak Yanky.


"Iya, aku akan membantu menolong darimu." jawab Yanky.


Yixi berbalik badan membelakangi Yanky, lalu pria itu membantu menariknya ke atas. Yixi segera menutup pintu kamar, lalu dia memoles wajahnya dengan make up. Tak berselang lama, dia keluar kamar.


"Aku sudah siap, ayo kita pergi." ajak Yixi.


"Iya Yixi, ayo pergi sekarang." jawab Yanky.


"Eh, tuan kenapa mengenakan jas warna lain. Setidaknya kalau kita samaan, tuan Zhuo dan tuan Smith semakin percaya." ujar Yixi.

__ADS_1


"Iya, kamu benar juga." jawab Yanky.


Yanky segera masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti jas. Lalu setelah itu, pergi menggunakan mobil bersama Yixi. Yanky masih fokus menyetir mobil, dan Yixi menoleh ke arah Yanky.


"Kenapa kau memperhatikan aku, apa terlihat tampan?" tanya Yanky datar.


"Siapa juga memperhatikan tuan, aku melihat ke arah luar jendela." jawabnya.


Yanky dan Yixi sudah sampai ke tempat pesta, lalu Yanky menghentikan kendaraannya, di parkiran rumah milik tuan Smith.


"Sayang, kau harus menggandeng tanganku, biar semua orang tidak menaruh rasa curiga." ujar Yanky.


Yixi tersenyum masam. "Oh iya, aku akan selalu tersenyum padamu."


"Tidak perlu seperti itu, malah orang akan mengira kau gila." ujar Yanky.


"Makanya kau tersenyum, dan tebarkan pada semua orang." jawab Yixi.


"Terima kasih tuan Yan dan nona Yixi, karena sudah datang ke pesta dansa ini." ujar Smith.


"Iya tuan Smith." jawab Yanky dan Yixi, hampir bersamaan.


"Sekarang, silakan duduk dan menikmati jamuan makanan." tawar Smith.

__ADS_1


"Baik, terima kasih." Yanky tersenyum jahat.


__ADS_2