
Ubay membenarkan jasnya, yang terbang oleh angin. Dia melihat ke pintu restoran, terdapat dua orang yang sedang berjalan. Siapa lagi, bila bukan Yanky dan Yixi.
"Halo tuan Yan, selamat pagi!" sapa Ubay.
Yanky duduk. "Selamat pagi juga."
"Yixi, kamu ikut juga?" tanya Ubay, dengan ramah.
"Iya ikutlah, dia 'kan istriku." jawab Yanky.
"Oh iya, nona San Xia ini yang akan menjadi investor dalam kerjasama kita." ucap Ubay.
"Nona San, tindakan muliamu ini membuatku tersanjung." Yanky memujinya, sambil tersenyum.
”Giliran aku yang dekat sama pria, kamu seperti ular yang siap menggigit diriku. Memberikan bisanya, sampai membuat jantungku panas.” batin Yixi kesal.
"Nona San, bisakah aku duduk didekat Ubay." Yixi tersenyum, dengan rencana dalam kepalanya.
"Tentu saja, mari tukar posisi." jawab San Xia.
Yanky melirik tajam, dengan tindakan yang dilakukan oleh Yixi. Dia benar-benar kesal, tatkala melihat perempuan itu cari simpati. Semua orang akan fokus, untuk memandang ke arahnya.
__ADS_1
"Bagaimana rencana kita?" bisik Yixi.
"Akan segera dilaksanakan, bila kamu setuju." jawab Ubay.
"Aku si setuju, tapi suamiku kamu tahu sendiri. Dia sudah seperti kodok beracun, sangat pelit, pelit." Yixi mengejek Yanky, dengan suara lirih.
"Nanti kita lanjutkan obrolannya, sekarang aku mau membahas obrolan bisnis dengan mereka." jawab Ubay.
Airav diam-diam mengikuti Cheryl, seorang penari balet paling profesional. Dia segera bersembunyi, saat Cheryl menoleh ke belakang.
"Tidak ada siapa-siapa, tapi kok aku merasa sedang diikuti." monolog Cheryl.
"Mbak, ada kunci cadangan nomor 28 tidak?" tanya Airav.
"Itu 'kan kamar VIP milik penari balet terkenal. Tidak bisa sembarangan untuk memasukinya." jawab mereka.
"Hmmm... Cheryl adalah temanku." ujar Airav mengaku-ngaku.
"Biar kami hubungi dulu dia, untuk mengkonfirmasi kebenarannya." jawabnya.
”Waduh gawat!” batin Airav, diselimuti rasa cemas.
__ADS_1
"Jangan hubungi dia, karena Cheryl sibuk. Harusnya kalian percaya 'kan, bahwa aku adalah temannya. Buktinya saja, aku tahu dia menginap di sini." jelas Airav.
Mereka akhirnya setuju memberikan kunci cadangan. Airav memasuki kamar Cheryl, saat perempuan itu sudah pergi. Dia memasang kamera di ruangan itu, lalu segera berlari keluar. Namun, tetap memastikan jalannya mengendap-endap.
Sementara di sisi lain tepatnya di hotel. Terlihat Yanky yang mondar-mandir, sambil mengenakan handuk saja.
"Eh, dimana shampo botol ku? Kok tidak ada di kamar mandi?" tanya Yanky.
"Siapa yang menggunakannya, kenapa bertanya padaku." Yixi fokus ke arah ponselnya.
"Meski kamu tidak menggunakannya, ada kemungkinan kamu mengalihkan dia dari tempatnya." jawab Yanky.
"Ucapan semacam apa ini, tuan menuduhku?" tanya Yixi, dengan mendelik tajam.
"Hei, aku hanya menduga-duga. Kenapa kau harus mendelik seperti tadi." gerutu Yanky.
”Siapa suruh menuduhku mengambil shampo mu. Dasar pria tidak tahu diri, harusnya si malu.” batin Yixi.
Yanky segera pergi ke kamar mandi, dan Yixi tinggal seorang diri. Namun Yixi merasa lebih nyaman, daripada munculnya Yanky dalam ruangan tempat tinggalnya.
"Iblis sinting, sejak tinggal denganmu hidupku berubah drastis. Tidak bisa sebebas dulu, dan terbelenggu dalam aturan konyol. Kita hanya menikah kontrak, tapi aku tidak bisa dekat dengan pria lain." Yixi bergumam-gumam lirih.
__ADS_1