
Keesokan harinya Yixi masih berpikir, duduk merenung menghadap jendela. Airav menghampiri Yixi, yang terlihat kebingungan.
"Maafkan aku iya Yixi karena uangnya telah digunakan, hal ini tentu membuat kamu menjadi bimbang." ujar Airav.
"Sungguh ini bukan salahmu, ini merupakan salahku juga. Harusnya tidak begitu senang, karena diberi uang langsung digunakan. Bukan kamu saja, aku pun juga sama. Aku telah menggunakannya, untuk menyewa motor baru." jawab Yixi.
"Dia yang menjebak kita, beralasan ingin memesan perumahan. Sebenarnya kita tidak perlu repot-repot, dengan dia penanggung biaya sewanya. Tapi apa, semuanya dibebankan pada kita." jelas Airav.
"Sudahlah, jangan mengharapkan dia. Intinya, sekarang aku harus menyelesaikan masalah secepatnya." jawab Yixi.
Yixi dan Airav segera mencari pinjaman dana, namun tidak ada yang mau meminjamkan. Padahal mereka sudah ke sana, dan juga kemari untuk mencari uang.
"Airav, kalau aku pikir-pikir ada baiknya juga aku menikah dengan dia. Anggap saja partner kerja, karena tuan Zhuo terlanjur tertipu juga." ucap Yixi.
"Maksudnya, kamu mau berubah pikiran gitu." jawab Airav.
"Sebenarnya, untuk saat ini aku sangat bingung. Aku juga tidak tahu, harus memutuskan hal seperti apa." ujar Yixi.
"Iya sudah, pikirkan baik-baik lagi. Kamu jangan terlalu terburu-buru, dalam mengambil keputusan besar." jawab Airav.
Mereka duduk sebentar, pada kursi yang berada di pinggir jalan. Ternyata diam-diam ada yang mengawasi mereka. Orang itu adalah Yanky, bersama dengan sekretaris pribadinya.
__ADS_1
"Jean, menurutmu rencana aku ini bagus 'kan?" tanya Yanky.
"Tentu saja tuan muda, apapun langkah yang diambil pasti membawa kebaikan. Bisnis tuan muda bisa sebesar ini, karena kecerdasan dalam mengambil keputusan." jelas Jean.
"Aku semakin penasaran, apa mungkin dia akan menolak ku terus." ujar Yanky.
"Harusnya berterus-terang saja, bila tuan muda hanya ingin menikah kontrak." jawab Jean.
"Aku akan menunjukkan surat perjanjiannya, sampai dia setuju menikah denganku." ucap Yanky.
"Baiklah tuan muda." jawabnya.
"Pria sialan, kenapa aku harus bertemu denganmu." Yixi bergumam-gumam lirih.
"Jangan menyesal teman, ini sudah bagian dari takdir." Airav tersenyum ceria.
Yixi memeluk Airav dari samping. "Bagaimana mungkin kamu bisa sebahagia ini, sedangkan aku sedang bersedih."
"Yixi, sebenarnya aku tidak bahagia. Tapi tidak ada yang menghibur, bila kita sama-sama sedih. Maka aku memutuskan, untuk menjadi matahari." jawab Airav.
Yixi langsung beranjak dari duduknya. "Mana mungkin, aku membohongi perasaanku sendiri. Kalau sedih, iya sedih aja. Mana bisa, aku menunjukkan raut wajah bahagia."
__ADS_1
Airav memegang kedua pipi Yixi. "Kalau begitu, kamu harus cepat memutuskan. Terkadang hati perlu bahagia, supaya pikiran kamu encer dalam membuat sketsa."
Yanky sedang duduk di ruangan kerjanya, dan perpisahan dengan San Xia terlintas di pikirannya.
5 tahun lalu...
Yanky dan San Xia sedang duduk di bangku kelas 12 SMA. Saat hari perpisahan tiba, mereka menikmati memakan gulali bersama.
"San, aku punya hadiah perpisahan untukmu." ucap Yanky.
"Iya, aku juga punya hadiah untukmu." jawab San.
Yanky memberikan boneka pada San Xia, lalu dia menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih iya Yanky." ujar San.
"Iya, sama-sama. Mana hadiah untukku San Xia." Yanky menagihnya.
San Xia mengeluarkan jam tangan. "Ini untukmu, dan pakai terus sampai aku kembali."
"Wah bagus sekali, aku sangat suka." Yanky berdecak kagum, tatkala melihat gambar perumahan di dalamnya.
__ADS_1