
Yixi segera memutuskan sambungan panggilan video, karena melihat Yanky sudah keluar dari toilet.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya Yanky.
"Bicara dengan Airav." jawab Yixi datar.
"Harusnya tidak perlu dimatikan, saat aku baru datang." ujar Yanky.
"Memangnya kenapa, bukankah tidak masalah. Lagipula, tidak ada yang ingin kami bicarakan lagi." jawab Yixi.
Keesokan harinya, Yixi diam-diam bertemu Ubay. Dia pergi keluar, tanpa berpamitan lagi. Bila dia berpamitan juga percuma, pasti Yanky tidak akan mengizinkannya.
”Dasar iblis sinting, dia membuat diriku kerepotan saja.” batin Yixi.
Yixi sudah sampai, pada tempat yang disepakati. Ubay telah memesan air minum, untuk menemani obrolan mereka.
"Yixi, kamu diizinkan keluar oleh suamimu?" tanya Ubay.
"Iya tentu saja, dia 'kan orang yang pengertian." Yixi tersenyum palsu.
"Beruntung sekali kamu, bisa menjadi istrinya. Jarang loh, ada suami seperti dia. Palingan cuma seribu satu di dunia." ujar Ubay.
__ADS_1
"Hah, yang benarnya laki-laki seperti dia pasaran." jawab Yixi.
"Oh iya, aku berencana ingin menyuruhmu membuat miniatur rumah seperti ini." Ubay memperlihatkan contoh desain miniatur rumah, yang ada di dalam ponselnya.
"Memangnya, banyak iya yang minat. Selama ini, aku hanya mengerjakan pesanan kecil-kecilan saja." jawab Yixi.
"Jangan salah paham dalam hal ini. Bila ditekuni dengan baik, banyak distributor mainan anak yang mau membelinya. Apalagi bila desain miniatur rumahnya bagus, siapa yang tidak tertarik." ucap Ubay.
"Iya, dulu juga lagi sekolah SMA pernah praktik membuat rumah dari stik es krim." jawab Yixi.
"Nah, akhirnya kamu mengingat juga. Ternyata kode kalimat panjang dariku, berhasil tertangkap otakmu." ujar Ubay.
Yanky mendapatkan laporan dari sekretaris Jean, bahwa perusahaan Global Abjad adalah milik Ubay. Yanky merasa sedikit kesal, karena dapat wewenang dari papanya untuk melakukan permohonan kerjasama.
"Hah, benar-benar menyebalkan. Ternyata, dia pemilik perusahaan di Jerman ini. Biarkan saja, masih keren aku." Ubay tersenyum, merasa senang dapat pujian.
Pada malam harinya, Yanky melemparkan selebaran foto. Yixi terkejut, mendapati hasil bidikan tersebut. Ternyata itu momen saat dia bertemu Ubay, di kedai tadi pagi.
"Tuan Yan sengaja iya, memata-matai aku?" Yixi menunjuknya.
"Perhatikan tindakan dan sikapmu, atau aku tidak akan enggan lagi." jawab Yanky mengancamnya.
__ADS_1
"Tuan Yan, jangan keterlaluan." ujar Yixi, dengan kesal.
"Bukankah, keterlaluan tidak termasuk pelanggaran. Lagipula, aku melakukan hal ini hanya denganmu." jawab Yanky.
"Sekarang juga, kamu hanya boleh makan dengan mie. Dilarang makan nasi, dan menyentuh lauk enak." ucap Yanky, dengan seenaknya.
"Tuan Yan, dalam hal ini aku seperti budak mu saja. Semua perkataan mu adalah perintah, yang harus dilaksanakan layaknya kewajiban." jawab Yixi.
"Kau memang harus melakukan itu, karena hal tersebut keharusan dalam kerjasama." ujar Yanky mengingatkannya.
"Aku ingat, tidak ada kesepakatan seperti ini." jawab Yixi membantah.
"Kau bertemu pria lain, dan aku membiarkan dengan santai. Lalu, apa tanggapan orang-orang yang melihatnya." ucap Yanky.
"Lagipula kita hanya pasangan sandiwara, kenapa harus begitu repot." jawab Yixi.
"Sekarang juga, makanlah mie mentah tersebut." ujar Yanky.
Yixi melirik kardus mie, yang sudah disediakan oleh Yanky. "Berdebat denganmu, sama saja memaksa baju sempit masuk ke tubuh besar. Kali ini, aku mengalah."
Yixi melepas lem putih, yang menempel pada kardus. Lalu dia menumpahkan semua isinya, yang hanya ada mie kuah.
__ADS_1