Menjadi Istri Karena Dijebak

Menjadi Istri Karena Dijebak
Bertengkar Lagi


__ADS_3

Airav berada tidak jauh dari mereka. Tentu saja dapat mendengarkan, apa yang menjadi pembicaraan mereka.


”Giliran Yixi diatur, mau melakukan ini dan itu. Dia sendiri seenaknya, untuk mengambil keputusan.” batin Airav.


Yanky hanya manggut-manggut, mendengar penuturan dari Cheryl. Sampai pada akhirnya Yixi datang, membawakan makanan dan minuman. Airav memainkan alisnya pada Yixi, untuk memberi kode tentang sebuah hal.


"Ada apa?" bisik Yixi.


"Suamimu mendua, kita gebukin aja." Airav sedikit menyorongkan tangan.


"Gak ah, cuma nikah kontrak doang." ujar Yixi.


"Iya aku tahu itu. Tapi dia banyak mengatur, kalau lagi dekat Ubay. Lihatlah, dia sendiri saja bicara dengan Cheryl. Mana yang dibahasnya tadi, nona San Xia melulu." jelas Airav.


"Dia 'kan iblis sinting, jelas saja licik. Suka kumat, kalau obatnya habis." ujar Yixi, dengan kesal.


"Pokoknya, kamu harus tetap kerjasama dengan Ubay. Diam-diam saja di belakangnya." jawab Airav.

__ADS_1


Yixi mengacungkan dua jempolnya, seraya melihat ke arah Cheryl. Begitupun Airav yang terus menatap, sampai tidak sadar kalau memelototinya.


"Tuan Yanky, sepertinya aku harus pulang. Di rumahmu sangat panas, karena banyak mata-mata seram." Cheryl giliran melihat Airav, dengan tatapan tidak suka.


"Hah, tidak mungkin Cheryl. Rumahku ini rumah baru, memangnya siapa orang yang akan mengincar." jawab Yanky, dengan senyum mengembang.


"Tuan Yanky bukanlah orang biasa, pria yang merupakan CEO dari perusahaan Shi'ing Grup. Siapa yang tidak akan mencari tahu, mengenai rumah ini." ujar Airav.


"Heheh... kau benar juga. Aku baru sadar, aku ini cukup terkenal." Mengeluarkan senyum kebanggaan, yang semakin ingin membuat Yixi muntah.


"Kenapa cepat-cepat pulang?" tanya Nafsih.


"Tidak apa-apa kok Nek, ada banyak pekerjaan." jawab Cheryl.


Nafsih melirik Yixi. "Apa kau tidak mau mengajak Cheryl mengobrol. Dia ini 'kan temannya Yanky juga. Tidak baik angkuh seperti itu, meskipun terbiasa dengan Airav."


Yixi risih mendengar komat-kamit sang nenek. "Iya Nek, Yixi kelupaan."

__ADS_1


"Iya sudah, sekarang ngobrol sana." titah Nafsih.


Yixi mengajak Cheryl ke halaman belakang. Ada beberapa kursi, yang tidak jauh dari kolam renang. Cheryl duduk, menikmati semilir angin.


"Ternyata, rumah ini cukup luas juga. Terlebih lagi, ada taman yang sangat disukai oleh nona San." ujar Cheryl.


Airav tersenyum masam. "Yixi adalah istrinya, tidak peduli nona San Xia siapa. Intinya di masa depan, Yixi merupakan perempuan satu-satunya."


Cheryl geleng-geleng kepala, sambil tersenyum meremehkan. "Aku heran, kok bisa iya Yanky dan Yixi menikah. Kenal juga baru loh, apa jangan-jangan Yixi menjebak Yanky. Aww... semoga tidak seperti yang aku pikirkan."


Yixi tetap berusaha tenang, meski ada rasa kesal menjelma. "Sepertinya, kau berpikir terlalu jauh. Siapa yang akan mengurung diri, di dalam jebakan yang diciptakan diri sendiri."


"Nona Yixi yang terhormat, semua orang juga bisa bersandiwara. Apalagi bila berkaitan dengan uang, siapa yang tidak akan melakukan apapun."


Yixi masih tetap tersenyum, meski ada masam-masamnya. "Mungkin itu dirimu sendiri, karena logikamu memikirkan hal begitu buruk."


”Ini perempuan, minta ditembak sampai mati kali. Terus mulutnya aku jahit, sampai tidak berbentuk lagi. Bicara kok enak banget, kayak sedang makan saja.” batin Airav geram.

__ADS_1


__ADS_2