Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Fakta yang Menyakitkan


__ADS_3

Hazel dan Mia diantar pulang oleh Aiden ke rumah Mia. Hazel terpaksa menginap di tempat Mia karena dia tidak ingin Aiden tahu tempat tinggalnya saat ini. Hazel tidur di kamar Mia dan langsung terlelap karena sedikit mabuk. Dia tidak begitu peduli dengan ponselnya yang terus berdering karena ada telepon dari Gavin.


Hazel terbangun di pagi buta karena merasa pusing dan mual. Dia membangunkan Mia, tetapi Mia tidak bangun juga. Hazel berusaha berjalan menuju dapur sendiri karena dia pernah datang ke rumah Mia. Hazel mengambil air putih di kulkas dan meminumnya hingga habis. Hazel melihat ke sekeliling dan rumah besar itu terlihat sepi. Hazel sudah dua kali datang ke rumah Mia dan bertemu dengan ibunya, tetapi Hazel tidak pernah bertemu dengan ayah Mia.


Hazel kembali ke kamar Mia yang berada di lantai dua. Saat Hazel menaiki tangga, dia melihat sosok pria paruh baya yang sangat dikenalnya. Hazel memicingkan matanya untuk meyakinkan diri. Ruangan yang gelap membuat matanya sulit mengenali.


"Gavin?" Hazel memanggil pria paruh baya itu yang tidak menyadari ada seseorang di tangga.


"Lynn?" Pria paruh baya itu yang ternyata adalah Gavin, terkejut dengan panggilan Hazel. "Kamu ... kenapa kamu di sini?" Gavin tergagap karena dia merasa terpergok.


"Kamu sendiri ngapain di sini? Apa kamu ...?" Hazel tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.


"Aku akan menjelaskannya. Ikut aku keluar." Gavin menarik tangan Hazel dan dengan enggan Hazel mengikutinya.


"Sekarang lepaskan aku," ujar Hazel dengan sedikit kesal.


"Apa yang kamu pikirkan?" Gavin menatap tajam ke arah Hazel. Dia tidak mengira bahwa Hazel akan berada di rumahnya setelah dia pulang dari Bar. Gavin tidak ingin Hazel tahu jika dia adalah ayah Mia.


"Apa semua ini benar? Apa kamu ayah dari sahabatku sendiri? Apa kamu ayah Mia?" Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiran Hazel.


Gavin langsung membawa Hazel menuju apartemen. Dia tidak ingin Hazel lari darinya setelah mengetahui fakta tersebut. Selama ini Gavin masih menyembunyikannya setelah dia tahu jika Hazel dan Mia bersahabat. Gavin tidak ingin Hazel menolaknya jika tahu dia adalah ayah dari sahabatnya sendiri.


"Aku tidak menyangka ternyata kamu ...." Hazel tidak meneruskan kata-katanya karena merasa sulit.


"Jangan lihat aku seperti itu, Beb. Aku tidak tahu jika kamu adalah sahabat Mia. Aku benar-benar menyukaimu." Gavin mencoba fokus dengan jalanan di depannya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku menjadi sugar baby ayah dari sahabatku sendiri? Apa yang aku pikirkan?" Hazel menyalahkan dirinya sendiri. Dia menatap ke luar jendela melalui jendela samping mobil. Pikirannya sedikit kalut karena mengetahui fakta tersebut.


"Aku juga tidak tahu jika kamu sahabat Mia, Lynn. Please, jangan berpikiran macam-macam." Gavin mencoba meraih tangan Hazel, tetapi ditolaknya.


Sesampainya di apartemen, Hazel langsung masuk ke kamar dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyiram seluruh badannya untuk membuat dirinya sedikit segar dan sadar karena mabuk. Gavin menyusul Hazel masuk ke dalam kamar mandi dan memeluknya dari belakang.


"Please, jangan berpikiran untuk meninggalkan aku," ucap Gavin di telinga Hazel. Tidak ada jawaban dari Hazel. Selama beberapa menit mereka berdua tetap dalam posisi itu.


Gavin mengangkat tubuh Hazel dan membawanya keluar ruangan kaca. Gavin membuka pakaian Hazel yang basah, lalu memakaikan handuk kimono padanya. Hazel masih tidak berbuat apapun dan membiarkan Gavin melakukan yang dia inginkan. Gavin membawa Hazel masuk ke kamar setelah dirinya juga memakai handuk.


"Jangan diam saja, Beb. Bicaralah sesuatu. Kalau kamu ingin memaki, aku akan siap mendengarkan." Gavin mengusap lembut pipi Hazel lalu mencium bibirnya. Hazel tidak merespon maupun menolak. Gavin terus mencium bibir Hazel dan tangannya mulai bergerilya di atas gunung kembar Hazel.


"Jangan lakukan itu dulu, Gavin. Aku masih memikirkan semuanya." Hazel menahan tangan Gavin dan menyingkirkannya dari dua miliknya.


"Jangan tinggalkan aku, Beb. Kita sama-sama tidak tahu jika kamu berhubungan dengan Mia dan ternyata dia adalah anakku."


"Bukan kamu yang meminta semua ini, Beb. Aku yang meminta kamu untuk jadi kekasihku. Aku tidak ingin semua ini berakhir." Gavin memeluk erat Hazel dan menciumi rambutnya.


"Aku mungkin emang brengsek, Gavin. Aku tidak ingin melepaskan kamu meskipun tahu kamu ayah Mia. Tapi bagaimana aku menghadapi Mia?" Hazel menutupi wajahnya karena tidak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Bersikaplah seperti biasa, Sayang. Kita sudah janji untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing."


"Aku akan coba." Hazel merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Dia harus bisa bersikap tenang dan menerima kenyataan bahwa Gavin adalah ayah Mia.


"Aku tidak akan melihat kamu sebagai sahabat anakku. Aku hanya akan memandang kamu sebagai Lynn yang aku kenal. Lynn yang menarik dan membuat aku jatuh hati."

__ADS_1


Gavin mendekati Hazel dan naik di atas tubuhnya. Mata Hazel menatap ke dalam mata Gavin dan merasakan kebenaran atas perkataannya. Hazel menautkan kedua tangannya di leher Gavin dan mencium bibirnya sekilas. Gavin tersenyum melihat tingkah Hazel.


"Maafin aku, Mia," ucap Hazel dalam hati.


Gavin mencium bibir Hazel dan melakukan hal yang membuat keduanya melayang merasakan kesenangan di waktu yang hampir pagi itu. Hazel terlelap setelah mengeluarkan cairan kenikmatannya berkali-kali. Gavin selalu bisa membuatnya melayang dan puas.


.


.


.


Hazel terbangun saat ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Mia. Hazel tidak melihat Gavin dan mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Hazel mengangkat telepon dari Mia dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Pagi, Mia," sapa Hazel dengan suara serak.


"Apa kamu pulang ke apartemen kamu?" tanya Mia dengan sedikit khawatir.


"Iya, aku ada di apartemen. Semalam aku menghubungi Daddy untuk menjemputku," ucap Hazel dengan santai.


"Senangnya yang punya sugar daddy," sindir Mia sambil terkekeh geli. Hazel merasa tidak enak hati mendengar ucapan Mia.


Setelah menutup telepon dari Mia, Hazel beranjak ke kamar mandi dan ikut membersihkan badannya. Hazel menyentuh tubuh polos milik Gavin dan membangkitkan lagi gairah Gavin. Hazel ingin melupakan apa yang dia ketahui dan membuangnya di tempat yang seharusnya.


"Aku akan menutup masalah ini. Aku tidak ingin mengingat jika kamu adalah ayah dari sahabatku." Hazel berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Aku suka ketegasan kamu, Beby." Gavin mengangkat tubuh Hazel dan melakulan permainannya lagi di kamar mandi. Hazel memaki dirinya di dalam hati karena telah melakukan hal yang salah, tetapi dia tidak ingin mengakuinya.


"Maafkan aku, Mia."


__ADS_2