Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Kecurigaan


__ADS_3

"Siapa yang telepon?" tanya Hazel sambil menerima ponselnya dari tangan Mia.


"Daddy," jawab Mia singkat, membuat Hazel bingung.


"Daddy siapa nih?" tanya Hazel sambil mengecek riwayat panggilan dan terlihat nama Gavin di sana.


"Daddy aku, El, bukan daddy kamu," ucap Mia sambil tersenyum lebar.


"Ngapain telepon aku?" Hazel berusaha bersikap biasa saja.


"HP aku mati ternyata, nggak bisa dihubungi," ujar Mia santai.


Mia selalu mendapatkan kebetulan-kebetulan yang membuatnya penasaran. Di saat dia mau menelepon Hazel, bunyi ponselnya terdengar di dalam mobil sang ayah. Sekarang, ayahnya menelepon nomor Hazel dan seperti terkejut saat Mia yang mengangkatnya. Mia tidak ingin berpikiran buruk tentang ayahnya dan sahabatnya sendiri. Apalagi selama ini, kedua orang tuanya dalam hubungan baik-baik saja.


"Kamu mikirin apa?" tanya Hazel yang melihat Mia terpaku.


"Nggak mikir apa-apa. Ayo kita ke kantin dulu sebelum lanjut mata kuliah selanjutnya," ajak Mia sambil menggandeng tangan Hazel.


"Tumben nggak ngajak ke kafe depan kampus?" Hazel tersenyum melihat ekspresi wajah Mia yang masih memikirkan sesuatu.


"Lagi males jalan ke luar kampus, El," ucap Mia sambil menatap ke arah Aiden dan melambaikan tangannya saat Aiden mendekat.


"Di mana-mana ada dia," ujar Hazel terkekeh.


"Jodoh kamu sepertinya." Mia meledek Hazel dan hanya dibalas dengan kekehan oleh Hazel.


"Pada mau ke mana nih?" tanya Aiden dengan wajah sumringah melihat Hazel dan Mia.


"Ke kantin, kalau mau ikut aja, Kak." Mia menjawab dengan santai dan mengajak Aiden ikut serta ke kantin bersamanya. Hazel hanya tersenyum manis menanggapi Mia dan Aiden.


"Boleh deh." Aiden mengikuti Hazel dan Mia menuju ke kantin.Mia sengaja memberikan tempatnya untuk Aiden supaya duduk bersebelahan dengan Hazel. Aiden merasa sedikit kaku jika harus didekatkan seperti itu.


"Kak Aiden kayaknya lagi senang banget, ada apa?" Mia bertanya setelah melihat wajah sumringah Aiden.


"Mau tahu aja urusan orang," ucap Hazel sambil tersenyum meledek.


"Aku senang karena skripsiku udah acc sama dosen. Tinggal nanti sidang dan wisuda." Aiden bercerita dengan gembira.

__ADS_1


"Wah, selamat Kak Aiden. Semoga semuanya lancar sampai wisuda nanti." Mia memberikan ucapannya dan mengulurkan tangannya untuk Aiden.


"Makasih, Mia." Aiden menyambut uluran tangan Mia.


"Selamat, Kak," ucap Hazel singkat. Hazel tidak memikirkan kata-kata pujian untuk Aiden. Dia tidak ingin terlalu memuji Aiden karena takut disalah-artikan olehnya.


"Makasih, nanti malam kita ke kafe ya. Aku yang traktir." Aiden mengusap kepala Hazel dengan lembut. Hazel terdiam merasakan ketulusan dalam perbuatan Aiden padanya. Mia yang mengetahui gerik Hazel langsung tersenyum.


"Boleh aku bawa seseorang, Kak?" tanya Mia dengan senang hati.


"Mau bawa siapa?" tanya Hazel penasaran.


"Mau ngajakim Jack, siapa tahu dia mau," ujar Mia sambil terkekeh.


"Apa dia ada waktu libur?" tanya Hazel lagi.


"Kalau aku yang minta libur, pasti dia akan memenuhinya," ucap Mia dengan percaya diri.


"Aku akan bertaruh sepuluh juta kalau Jack bisa ikut sama kamu." Hazel menantang Mia.


.


.


Hazel sedang bersiap-siap saat pintu apartemennya berbunyi menandakan ada orang yang masuk. Hazel tidak berusaha menengok siapa yang datang karena dia tahu pasti Gavin. Hazel mengenakan rok mini yang memperlihatkan setengah pahanya dengan dipadukan atasan crop dengan model sabrina yang menampilkan bahu indahnya. Gavin masuk ke kamar dan menatap tajam Hazel yang berpakaian rapi, tetapi pakaiannya begitu terbuka.


"Mau ke mana kamu?" tanya Gavin sambil menatap Hazel dari atas ke bawah.


"Ke kafe sama Mia, mau ikut?" Hazel berusaha menantang Gavin.


"Kalau boleh, aku akan ikut," ucap Gavin membuat Hazel terkejut.


"Yang benar saja, aku mau sama Mia, Gavin." Hazel memanggil nama Gavin dengan sedikit tekanan.


"Ke mana panggilan sayang kamu buat aku?" Gavin menarik dagu Hazel dan mendekatkannya ke depan wajah Gavin.


"Sorry, Dad. Aku pikir kalau panggil Gavin lebih terasa romantisnya." Hazel beralasan, tetapi terdengar ambigu di telinganya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah terserah kamu. Aku mau bilang kalau satu minggu ini aku akan pergi ke luar negeri untuk pengobatan istriku." Gavin berbicara seakan tidak bersemangat.


"Oke, pergilah. Aku tidak akan berkata apa pun karena itu akan membuat kita jadi bertengkar." Hazel mencoba mencium bibir Gavin dan ********** dengan lembut.


Gavin mengangkat tubuh Hazel dan merebahkannya di atas tempat tidur. Hazel tersenyum sambil menghalangi tindakan Gavin padanya. Hazel tidak ingin melakukannya kali ini karena dia sedang ingin pergi bersama teman-temannya. Gavin menaikkan alisnya melihat aneh kelakuan Hazel.


"Kenapa nggak mau?" tanya Gavin dengan sedikit kesal.


"Aku mau pergi sama Mia, kamu juga mau pergi. Jadi untuk saat ini aja, biarkan kita tahan itu dulu. Gimana?" Hazel menantang Gavin untuk tidak melakukan apa yang diinginkannya.


"Aku akan pergi satu minggu dan kamu minta untuk menahannya?" Gavin bertanya dengan serius. Hazel mengangguk sambil tersenyum manis.


"Jangan tampilkan senyum itu kalau kamu tidak ingin memberi aku jatah hari ini." Gavin beranjak dari atas tubuh Hazel dan menyingkir ke dapur.


"Ayolah, Sayank, jangan cemberut begitu." Hazel mencoba merayu Gavin supaya tidak marah padanya.


"Pergilah kalau ingin pergi. Aku akan di sini dulu." Gavin mengambil minuman beralkohol dan menenggaknya langsung dari botolnya.


Hazel mengambil botol minuman dari tangan Gavin dan meminumnya dengan satu tegukan juga. Gavin menatap tajam Hazel dan menarik tengkuknya, lalu mencium bibir Hazel dengan sedikit kasar. Hazel membalas ciuman Gavin dan sedikit lebih agresif setelah terpengaruh alkohol dari minuman yang tadi dia minum. Kegiatan Hazel dan Gavin terhenti karena ponsel keduanya berbunyi. Hazel dan Gavin saling pandang lalu menerima panggilan teleponnya.


"Kenapa, Mi?" tanya Hazel sambil menyingkir ke kamar.


"Aku udah di jalan menuju apartemen kamu. Tunggu aku di sana, jangan ke mana-mana." Mia telah mengetahui alamat apartemen baru Hazel setelah meminta pada sahabatnya itu dengan sedikit memaksa.


"Kamu sampai mana, aku akan turun untuk menunggu kamu." Hazel cemas karena Gavin masih berada di apartemen bersamanya.


"Sebentar lagi sampai." Mia langsung mematikan teleponnya dan fokus dengan jalanan di depannya.


"Pergilah, Mia sebentar lagi datang," usir Hazel pada Gavin yang masih mengobrol di telepon dengan seseorang. Hazel terlalu heboh dan khawatir sehingga tidak sadar jika Gavin masih berbicara dengan seseorang.


"Sebentar, ini Lily," ucap Gavin dengan gerakan mulut.


"Aku akan segera pulang dan bersiap-siap," ucap Gavin dengan tenang.


"Itu siapa? Kenapa dia menyebut nama anak kita?" Lily bertanya di seberang telepon karena mendengar ucapan Hazel.


"Kamu salah dengar, Sayank." Gavin mencoba mengelak.

__ADS_1


__ADS_2