
Gavin menelepon orang-orangnya untuk mencari keberadaan Hazel. Gavin tidak akan membiarkan Hazel pergi darinya hanya karena tahu fakta tentang status Gavin. Mungkin dia egois, tetapi Gavin sangat tidak ingin kehilangan Hazel. Hanya Hazel yang dia inginkan.
Hazel dan Aiden sampai di bioskop untuk menonton film yang diinginkan Hazel. Aiden membayar tiket untuk Hazel juga karena dia merasa sebagai laki-laki. Hazel tersenyum saat tahu jika tiketnya sudah dibelikan oleh Aiden.
"Seharusnya aku yang bayar, Kak. Aku yang ngajak Kak Aiden nonton." Hazel tersenyum manis dan itu membuat jantung Aiden berdebar lebih kencang.
Hazel dan Aiden masuk ke dalam studio tempatnya menonton film. Hazel memilih film yang tidak terlalu menegangkan. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya dan merefresh otaknya. Hazel dan Aiden duduk berdampingan serta film dimulai. Hazel dan Aiden menonton dengan fokus.
"Filmnya kurang menarik, Kak," bisik Hazel di telinga Aiden saat film yang diputar sampai di pertengahan, tetapi tidak ada yang istimewa. Aiden hanya tersenyum mendengarnya.
Saat Hazel mencoba fokus lagi ke layar besar di depannya, dia terkejut karena di layar sedang diperlihatkan sepasang kekasih sedang berciuman dengan intens. Hazel sempat teringat Gavin dan bagaimana cara Gavin menciumnya. Hazel menggigit bibirnya dan Aiden tiba-tiba mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Hazel dengan lembut. Hazel terbawa suasana dan membalas ciuman dari Aiden.
Hazel mendorong pelan bahu Aiden dan membuatnya melepaskan ciumannya. Aiden mengusap lembut bibir Hazel yang sedikit basah karena salivanya. Tangan Hazel tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan Hazel mengenali itu. Orang itu adalah anak buah Gavin dan Hazel berusahà melepaskan genggaman tangannya.
"Tolong kerja samanya, Nona. Jangan sampai Tuan melakukan hal yang lebih ekstrem. Anda tahu sendiri bagaimana Tuan."
Hazel segera berpamitan dengan Aiden dan mengikuti anak buah Gavin keluar dari studio. Aiden mengikuti Hazel dan mencoba mencegat tangan Hazel. Anak buah Gavin melotot ke arah Aiden dan membuat Hazel merasa bersalah.
"Nggak pa-pa, Kak. Ini anak buah Daddy aku. Tadi aku nggak pamit jadi mungkin dia nyariin dan kesal karena HP-ku mati." Hazel mencoba menjelaskan.
"Beneran nggak pa-pa?" Aiden bertanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku pulang dulu, nanti aku hubungin Kak Aiden."
Hazel melambaikan tangannya berpamitan pada Aiden. Tangan Aiden masih merasakan kulit lembut Hazel dan dengan terpaksa dia membiarkan Hazel di bawa pulang oleh anak buah daddy-nya. Aiden mengingat ciuman yang dilakukannya dengan Hazel. Dia meraba bibirnya sendiri masih merasakan betapa lembutnya bibir Hazel.
Perlahan Hazel berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu di tempat parkir gedung bioskop yang didatanginya. Hazel membuka pintu mobil dan terkejut saat melihat Gavin ada di dalamnya. Gavin menarik tangan Hazel dan membuatnya duduk di pangkuan. Wajah Gavin sangat dingin dan Hazel sendiri juga masih sedikit enggan dengan Gavin.
"Kamu nggak di kantor, Beb?" tanya Hazel mencoba mencairkan suasana saat mobil telah melaju, tetapi mereka berdua masih saling diam.
"Beb, aku tanya sama kamu." Hazel berbicara lagi karena tidak ada jawaban dari Gavin. "Baiklah kalau kamu tak mau menjawab."
Hazel ikut diam dan hanya menyandarkan kepalanya ke dada Gavin. Dalam posisi di pangkuan Gavin, Hazel mencoba menggerakkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Hazel tidak berniat untuk menggoda Gavin, tetapi gerakannya membuat sesuatu milik Gavin terbangun.
"Jangan bergerak lagi atau aku akan melakukannya di sini," titah Gavin yang membuat Hazel langsung berhenti mencari posisi nyaman.
"Kamu sudah mulai nakal dan berani, Lynn. Aku akan menghukum kamu karena perbuatanmu." Gavin meremas keras dua gunung milik Hazel dan membuat Hazel menjerit karena sedikit sakit.
"Jangan siksa aku hanya karena kamu cemburu, Gavin. Aku tidak akan macam-macam karena hanya kamu yang mampu di sisiku," ucap Hazel sambil memandang Gavin dengan tatapan sendu.
"Bagaimana bisa kamu pergi dengan seorang laki-laki hanya berdua saja? Apa yang sudah kamu lakukan?" Gavin bersikap sangat dominan saat ini. Hazel sedikit tidak terima ditindas seperti itu.
"Karena aku masih tidak bisa bertemu dengan Mia. Aku masih tidak mampu menatap wajahnya seakan tidak terjadi apa pun. Padahal kenyataannya aku menjadi kekasih dari ayahnya." Hazel mengeluarkan semua pikirannya saat ini.
__ADS_1
"Kamu bilang tidak akan memikirkannya lagi, Sayang. Aku tidak akan melepaskan kamu meskipun itu kenyataannya." Gavin mulai berbicara dengan lembut.
"Tetap saja aku masih belum bisa berhadapan langsung dengan Mia. Apalagi maminya sedang sakit dan aku memanfaatkan keadaan kamu. Aku sangat tidak pantas bersahabat dengan Mia." Hazel menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya tidak bisa dia tahan dan mengalir begitu saja. Gavin memeluk erat tubuh Hazel untuk mencoba menenangkannya.
"Maafin aku karena telah marah-marah sama kamu, Beb. Kamu mungkin akan merasa aneh, tapi aku mohon tetaplah menjadi teman Mia. Aku tahu kalian saling menyayangi satu sama lain. Kalian sudah seperti saudara, kan?" Gavin terus berbicara dengan nada lembut. Hazel tersenyum seringai mendengar ucapan Gavin.
"Saudara kamu bilang? Sekarang aku seperti ibu tiri yang jahat karena telah mengambil ayahnya dari ibu kandungnya," ucap Hazel dengan tersenyum jijik.
"Jangan bicara seperti itu atau aku akan benar-benar membuatnya menjadi nyata. Aku akan menikahi kamu dan kamu akan menjadi ibu tiri Mia. Bagaimana?" Gavin mengatakannya dengan suara sedikit meninggi. Hazel telah salah membuat gurauan saat ini.
"Baiklah, cukup untuk perdebatannya. Aku lelah dan ingin cepat sampai di apartemen." Hazel tidak menyadari jika mereka tidak akan pulang ke apartemen.
"Kita tidak akan pulang hari ini. Aku akan membawamu ke luar kota lagi karena aku juga ada pekerjaan di sana." Gavin mengatakannya dengan santai.
"Bagaimana dengan kuliahku, Gavin? Kamu selalu memutuskan semuanya sendiri," ucap Hazel sedikit kesal.
"Karena aku kepala rumah tangga, jadi aku berhak memutuskan sesuatu sendiri. Kamu hanya bisa mengikuti aku dan selalu di sampingku." Gavin mencium bibir Hazel dengan lembut. Dia merasa sangat menginginkan Hazel karena dari kemarin mereka terus berdebat.
"Oke, terserah. Ke mana kita kali ini?" tanya Hazel akhirnya mengalah setelah mendapat ciuman dari Gavin. Dia teringat ciumannya dengan Aiden saat di bioskop. Dia merasa malu sendiri.
"Kenapa wajah kamu tersipu?" tanya Gavin yang tidak sengaja melihat pipi Hazel memerah.
__ADS_1
"Karena kamu selalu membuat aku tersipu, Beb," jawab Hazel dengan santai, "Ke mana kita sekarang?" Hazel mencoba bertanya lagi untuk menutupi sebuah fakta.
"Ke L.A, Sayang. Kita akan bersenang-senang di sana." Gavin mencium lagi bibir Hazel dan kali ini Hazel membalasnya.