Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Hampir Terbongkar


__ADS_3

Hazel mencoba bergoyang di atas pangkuan Gavin dan membuat milik Gavin terbangun dan terasa mengembang. Hazel tersenyum melihat ekspresi Gavin. Hazel terus berusaha menggoyangkan pinggulnya dan membuat Gavin menggeram karena miliknya semakin berontak ingin dikeluarkan. Hazel menggoda Gavin dengan semangat.


Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Hazel dan Gavin di dalam mobil. Hazel beranjak dari atas pangkuan Gavin dan membenarkan pakaiannya. Gavin membuka sedikit kaca mobilnya dan sang sopir membisikkan sesuatu. Gavin segera keluar dari dalam mobil dan meminta Hazel untuk tetap di dalam mobil sebelum Gavin pergi dari tempat parkir basement.


"Daddy kenapa masih di sini? Aku tunggu di ruangan Daddy dan ternyata masih di tempat parkir." Mia menghampiri mobil Gavin dan Hazel mendengar suaranya.


"Sorry, Sayank, daddy baru aja sampai. Kamu bukannya sudah di kampus tadi?" Gavin bertanya sambil melihat ke arah mobilnya.


"Kuliah pagi ini ditiadakan dan Hazel juga belum ke kampus, jadi aku ke sini aja. Ternyata daddy juga belum datang." Mia mengambil ponselnya sambil menggerutu. "Hazel ke mana sih?" tanya Mia sambil menempelkan ponselnya untuk menelepon Hazel.


Di dalam mobil Hazel terkejut mendengar dering teleponnya dan segera mematikannya. Gavin dan Mia saling pandang lalu melihat ke arah mobil Gavin bersamaan. Mia menghampiri mobil Gavin secara perlahan dan langsung dicegat oleh Gavin.


"Ponsel daddy sepertinya berbunyi." Gavin segera masuk ke dalam mobil dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kursi. Gavin memberikan kode pada Hazel untuk tenang.


"Ya, Vin, saya sudah di parkiran kantor. Sebentar lagi saya naik." Gavin berpura-pura menerima telepon dan tersenyum setelahnya. "Ayo ke atas lagi, kamu kenapa turun?" Gavin menggandeng tangan Mia dan membawanya kembali ke ruangan Gavin yang terletak di lantai paling atas.


"Aku bosan nunggu Daddy, makanya mau pulang aja atau cari Hazel ada di mana. Dia sepertinya sedang ada masalah." Mia sangat mengkhawatirkan Hazel semenjak telepon terakhir dari Hazel.


"Coba nanti ditelepon lagi aja. Sekarang naik dulu temenin daddy sebentar," ujar Gavin sambil tersenyum lebar.


Gavin telah pergi membawa Mia ke ruangannya dan membiarkan Hazel di dalam mobil miliknya. Hazel keluar dari mobil setelah meyakinkan diri tidak ada orang di sana. Hazel berjalan keluar perusahaan Gavin dan menuju apartemennya menggunakan taksi. Hazel harus bersiap ke kampus karena ada jadwal kuliah full hari ini.


Setelah sampai di apartemen dan selesai bersiap diri, Hazel menuju kampusnya dengan berjalan kaki. Dia ingin menikmati perjalanannya dengan mengisi waktu luang sebelum jam kuliahnya tiba. Di tengah jalan, Hazel dikejutkan oleh sebuah klakson mobil dan seketika itu Hazel diam berdiri.


"Mau ikut nggak?" tanya suara Aiden di balik kemudi mobilnya yang berhenti tepat di depan Hazel.


"Boleh deh, walaupun sebentar lagi juga sampai," ucap Hazel sambil terkekeh.

__ADS_1


Hazel masuk ke kursi penumpang di samping Aiden dan menuju kampus bersama-sama. Hazel melihat mobil Mia juga baru memasuki parkiran kampus. Hazel dan Aiden turun dari mobil setelah berhasil memarkirkannya. Hazel memanggil Mia dan menghampirinya.


"Kamu ke mana aja, Beb?" tanya Mia sambil menggandeng lengan Hazel.


"Mencari ketenangan," ucap Hazel dengan asal.


"Memangnya dari mana?" tanya Aiden yang tidak tahu jika Hazel telah pergi selama satu hari.


"Nggak dari mana-mana, Kak. Mia yang lebay suka nyariin aku." Hazel merangkul pundak Mia dan berjalan di depan Aiden.


"Kalian berdua kenapa bareng ke kampus?" tanya Mia curiga.


"Kita ketemu di jalan, Mia. Jangan berpikiran macam-macam." Hazel melotot ke arah Mia yang terkadang suka menjodohkan Hazel dengan Aiden. Padahal Mia tahu keadaan Hazel sebagai sugar babby.


Hazel dan Mia menuju kelas mereka setelah berpisah dengan Aiden di depan ruangan dosen. Mia menatap penasaran kepada Hazel karena akhir-akhir ini Hazel sering terlihat bersama Aiden. Hazel merasa diperhatikan oleh Mia dan berhenti berjalan lalu menatap tajam Mia.


"Kamu sama Kak Aiden semakin dekat ya? Aku perhatiin akhir-akhir ini kalian sering kelihatan sama-sama," ucap Mia sambil berkacak pinggang.


"Cuma cari teman aja kalau kamu sibuk jaga mami kamu, Mia. Kamu tahu sendiri status aku sekarang." Hazel menarik nafas dalam mengingat pekerjaannya saat ini.


"Kak Aiden suka sama kamu, El. Jangan kamu kasih dia harapan kalau nggak mau dia semakin suka kamu." Mia memberi peringatan pada Hazel.


"Sepertinya aku udah kasih dia harapan, Mi." Hazel mengingat ciumannya dengan Aiden pada saat di bioskop.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mia penasaran dan juga cemas.


"Dia cium aku dan aku membalasnya," jawab Hazel dengan jujur.

__ADS_1


"Kamu gila, El. Kalau daddy kamu tahu gimana kamu dan Kak Aiden juga?" Mia bersikap heboh mendengar semua itu.


"Aku bisa beralasan, Mia. Lagian dia nggak akan tahu kalau nggak aku kasih tahu." Hazel merasa percaya diri.


"Apa kamu mau berpacaran dengan Kak Aiden juga?" tanya Mia menebak.


"Enggak, Mi. Kak Aiden terlalu baik buat aku." Hazel berjalan mendahului Mia dan masuk ke kelasnya.


Hazel mengikuti mata kuliahnya dengan serius. Dia tetap ingin lulus dengan nilai yang memuaskan karena dia berharap bisa keluar dari lingkaran yang telah membelenggunya. Suatu saat Hazel ingin lepas dari Gavin dan menjalani hidupnya lagi dengan mandiri. Hazel harus mendapatkan ijazah untuk bekerja dengan layak.


Hazel meninggalkan ponselnya di dalam tas saat dia pergi ke kamar mandi. Tas Hazel dipegang oleh Mia dan menunggu di depan kamar mandi. Ponsel Hazel berdering dan Mia seperti pernah mendengar dering tersebut. Mia mengambil ponsel Hazel dan terlihat nomor kantor sang ayah menelepon Hazel. Mia hafal dengan nomor kantor ayahnya sendiri.


"Hallo, Daddy?" Mia menyapa Gavin melalui sambungan telepon Hazel.


"Mia?" Gavin sangat terkejut karena Mia yang mengangkat telepon Hazel.


"Daddy kenapa telepon Hazel? Apa Daddy cari aku?" Mia terus saha bertanya.


"Iya daddy cari kamu dan kebetulan daddy punya nomor Hazel. Kamu kenapa nggak bisa ditelepon?" Gavin mencoba mencari alasan.


"Masa sih? HP aku aktif kok." Mia mengambil ponselnya dan melihat layarnya mati. "Ternyata mati, Dad. Sorry." Mia meminta maaf melalui sambungan telepon.


"Ya udah. Kamu pulang malam 'kan hari ini? Hati-hati bawa mobilnya." Gavin memberi nasihat untuk anak satu-satunya.


Hazel keluar kamar mandi dan terkejut ponselnya sedang dipegang oleh Mia. Hazel memberikan kode untuk bertanya siapa yang telepon. Hazel kaget saat mulut Mia mengeluarkan nama ayahnya.


"Daddy mau bicara sama Hazel?" tanya Mia sambil tersenyum. Hazel menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Tidak usah, daddy sudah bicara sama kamu."


__ADS_2