Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Sakit Rasanya


__ADS_3

Hazel tidak menyapa Gavin karena dia tidak ingin menyapanya. Sebelumnya juga Hazel belum pernah mengenal Gavin sebagai ayah Mia karena dia tidak pernah bertemu jika dirinya bertandang ke rumah Mia. Lily tersenyum dan mengenalkan Gavin pada Hazel.


"Siang, Hazel. Makasih udah mau jenguk saya. Sepertinya kamu belum pernah bertemu dengan daddynya Mia ya. Kenalkan ini Gavin, daddy Mia." Lily menunjuk ke arah Gavin sambil tersenyum lebar. Hazel menahan dirinya dengan sekuat tenaga.


"Selamat siang, Om, salam kenal saya Hazel." Hazel mencoba menyapa Gavin seramah mungkin. Mia langsung mendekati Gavin dan Lily lalu mencium pipi keduanya.


"Siang, Hazel." Gavin hanya membalas sapaan itu tanpa memberitahukan siapa dirinya.


"Apa Daddy sama Mami sering ciuman di saat nggak ada orang di sini?" tanya Mia tiba-tiba dan berhasil membuat Hazel syok dan sempat sedikit lemas.


"Kamu ini tanya yang tidak-tidak." Gavin mencubit hidung Mia sambil tersenyum kaku.


"Maaf kalau kamu harus melihatnya, Sayank." Lily mengusap lembut kepala Mia. Hazel melihat betapa bahagianya keluarga di depannya.


"Maaf, Tante, Om, saya permisi ke kamar mandi ya." Hazel segera berlari dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar rawat Lily.


Hazel membuka kran air dan menangis tanpa suara. Dadanya terasa sangat sesak dan ingin meledak. Hazel berada di kamar mandi sedikit lama karena mencoba menenangkan dirinya sendiri. Hazel keluar setelah dia mencuci wajahnya dan memakai riasan tipisnya lagi. Hazel tidak melihat Gavin di sana.


"Kamu ngapain di kamar mandi, El? Lama amat," ucap Mia sambil tersenyum meledek.


"Sedikit nggak enak perut aku, Mia. Aku pulang ya, naik taksi aja." Hazel berpamitan pada Mia dan Lily lalu keluar kamar Lily dengan wajah ditekuk.


Hazel berjalan dengan sedikit melamun. Dia tidak memperhatikan jalan sehingga menabrak seseorang. Hazel hanya meminta maaf dan langsung pergi begitu saja. Hazel berjalan melewati tempat parkir rumah sakit dan terus berjalan menuju gerbang luar rumah sakit. Suara mobil mendekat tidak membuat Hazel menepi dan dia terus saja berjalan.

__ADS_1


Hazel ditarik tangannya dan dimasukkan ke mobil oleh seseorang. Itu semua adalah ulah Gavin. Hazel tidak menolak, tetapi dia juga tidak menerimanya. Dia hanya diam tanpa berniat melakukan apa pun. Gavin mendekati Hazel dan langsung mencium bibirnya. Hazel terdiam kaku tidak membalas ciuman Gavin.


"Apa tadi masih kurang ciumannya?" tanya Hazel menyindir, setelah Gavin melepaskan bibirnya.


"Apa kamu marah?" Gavin bertanya tanpa merasa bersalah.


"Buat apa aku marah. Dia istri kamu, aku nggak ada hak." Hazel berbicara dengan santai.


Mobil Gavin melaju meninggalkan rumah sakit. Hazel mencoba biasa saja di hadapan Gavin. Dia tidak ingin terlihat marah dengan apa yang sudah dilihatnya. Di dalam mobil, Gavin berusaha merayu Hazel dan menggodanya. Namun, semuanya terasa hambar bagi Hazel dan dia juga berusaha tidak menanggapi Gavin.


"Ayolah maafkan aku, Lynn. Aku melakukan itu karena aku kesal setelah melihat kamu mengobrol dengan teman kamu di kampus." Gavin akhirnya mengakui semua itu. Hazel langsung menatap tajam ke arah Gavin.


"Aku hanya mengobrol dan kau berciuman dengan mesranya. Ups, sorry ... aku lupa kalau aku bukan siapa-siapa. Dia yang istri kamu." Hazel langsung sadar diri.


"Bisa tolong turunkan aku di sini? Untuk sementara mungkin kita nggak usah ketemu dulu." Hazel berbicara dengan tegas. Gavin langsung mencengkeram rahang Hazel dan mencium bibirnya dengan kasar.


"Keputusan di tangan aku, Beb. Kamu nggak bisa seenaknya begitu." Gavin berbicara dengan lebih tegas dan dingin. Hazel telah membangkitkan macan tidur. "Dari tadi aku mencoba untuk meledek kamu dan tidak mengingat bagaimana isi kontrak kita. Kamu tidak diperbolehkan untuk berkencan dengan laki-laki lain, Lynn."


"Aku tidak berkencan, Gavin. Dia hanya temanku dan aku bersama Mia juga di sana."


"Tetap saja kamu bertemu dengan laki-laki lain." Suara Gavin meninggi dan membuat Hazel meneteskan air matanya tidak kuat.


"Aku mencoba pengertian dengan semua yang kamu lakukan pada istrimu meskipun rasanya sakit di sini." Hazel menunjukkan dadanya. "Tapi kamu malah tidak percaya sama aku."

__ADS_1


Hazel membuang wajahnya dan melihat keluar jendela samping. Rasanya sakit ketika dia mencoba mengerti semuanya tentang Gavin, tetapi tidak dipercaya oleh Gavin. Hazel menghapus air matanya dengan kasar dan menarik nafas dalam.


"Maafin aku, Beb. Maaf," ucap Gavin mendekati Hazel dan memeluknya. Gavin menciumi tengkuk Hazel dan membuat rasa sakit di dalam diri Hazel bertambah. Dia merasa dirinya tidak berharga dan hanya sebatas teman ranjang Gavin.


Hazel masih terdiam tidak menanggapi Gavin. Sampai di apartemen, Gavin menggandeng tangan Hazel menuju unitnya. Hazel ingin sekali pergi dari samping Gavin untuk sementara waktu, sekedar menata hatinya lagi dan menyadarkan dirinya jika dia tidak akan bisa memiliki Gavin seutuhnya. Gavin membawa Hazel ke kamar setelah masuk ke unit apartemen mereka.


"Aku ingin menyentuhmu, Beby." Gavin menyentuh bibir Hazel dan tersenyum seringai.


"Apa aku memang cuma teman ranjangmu, Gavin?" tanya Hazel dengan berani.


"Tidak usah berpikiran seperti itu. Aku menginginkanmu lebih dari itu, Sayank." Gavin mencium bibir Hazel dengan lembut. Hazel mencoba bertahan tidak membalas ciuman dari Gavin.


Hazel memejamkan matanya saat Gavin mulai menyentuh bagian sensitif miliknya. Gavin terus mencoba merangsang Hazel dengan semua caranya. Hazel meloloskan satu desahannya dan membuat Gavin tersenyum senang. Hazel merutuki dirinya sendiri karena kelakuan tubuhnya.


"Tubuh kamu tidak bisa berbohong, Beby." Gavin membuka pakaian Hazel satu per satu dan membuangnya ke sembarang tempat. Gavin mengangkat tubuh Hazel dan membawanya ke kamar mandi.


Gavin ingin bermain di dalam bathtub sambil berendam air hangat dengan ditambah aroma terapi yang menenangkan tubuh dan pikiran. Gavin menambahkan kelopak bunga mawar ke dalam air. Gavil menanggalkan dalaman Hazel dan membuatnya telanjang bulat. Sudah sering Gavin melihatnya, tetapi dia tetap menelan ludahnya saat menyaksikan tubuh indah Hazel.


Gavin dan Hazel masuk bersama ke dalam bathtub dan tangan Gavin mulai perlahan menyusuri tubuh Hazel. Kedua gunung kembar Hazel tidak luput dari genggaman tangan Gavin. Hazel hanya diam menikmati apa yang dilakukan Gavin padanya. Bukankah itu tugasnya?


"Aku akan membuktikan kalau aku juga menginginkan kamu di dalam hidupku, Sayank. Bukan hanya untuk nafsu sesaat," ucap Gavin lalu memasukkan miliknya ke dalam milik Hazel. Gavin terus mendorong miliknya maju mundur dan membuat Hazel melayang melupakan rasa sakit hatinya.


"Buat aku melupakan hal-hal yang lain, Beb." Hazel berucap dengan suara seraknya.

__ADS_1


__ADS_2