Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Kesalahan


__ADS_3

Hazel merasa dirinya seperti tersentrun sesuatu karena ulah Aiden atau hanya karena pengaruh alkohol yang diminumnya. Hazel memaki dirinya sendiri dan beranjak menuju ke toilet sebelum dirinya berulah di depan meja bar milik Jack. Aiden mengikuti Hazel ke toilet karena diminta oleh Mia. Hazel tidak menyadari jika Aiden mengikutinya.


Di depan toilet ada seorang laki-laki mabuk yang menggoda Hazel ketika lewat. Hazel tidak mempedulikannya, tetapi laki-laki itu menahan tangannya. Aiden bergegas menepis tangan laki-laki itu dari tangan Hazel. Laki-laki mabuk itu kesal dan hendak memukul Aiden. Dengan cepat Aiden memukul terlebih dahulu dan membawa Hazel pergi dari sana.


"Bagaimana kalau laki-laki itu membalas pukulan kamu, Kak?" Hazel sedikit khawatir.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Aiden melupakan Mia yang masih berada di bar bersama Jack.


Hazel yang sudah setengah mabuk, hanya mengikuti apa yang diminta oleh Aiden. Hazel juga berpikir jika mereka tetap di bar, laki-laki tadi akan membalas dendam. Aiden membawa Hazel keluar bar dan masuk ke dalam mobil Aiden. Hazel menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Aiden mendekati Hazel dan membuatnya terkejut.


"Kamu mau ngapain?" tanya Hazel dengan menatap waspada ke arah Aiden.


"Seatbelt, Hazel." Aiden berkata dengan santai.


Hazel segera memakai seatbelt seperti yang diminta oleh Aiden. Hazel sedikit malu karena bereaksi berlebihan. Kepala Hazel sedikit pusing karena pengaruh alkohol. Aiden meletakkan tangannya di dahi Hazel dan membuat Hazel sedikit tergerak.


"Kita beli pereda mabuk dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ujar Aiden dengan tulus.


"Aku nggak mau pulang, Kak. Di rumah sepi nggak ada siapa-siapa," ucap Hazel dengan cemberut.


"Mau main ke apartemen gue? Kita bisa nonton film di sana," ujar Aiden dengan tidak memikirkan hal apapun, hanya ingin menawarkan tumpangan saja.


"Boleh, Kak. Lebih baik daripada di rumah sendiri." Hazel mengangguk sambil tersenyum manis. Aiden merasa jantungnya sedang berulah karena memompa lebih cepat.


Hazel memejamkan matanya membuang rasa pusing akibat alkohol yang diminumnya. Aiden melajukan mobilnya dengan perlahan karena tidak ingin mengganggu ketenangan Hazel. Aiden berhenti di minimarket dekat gedung apartemennya untuk membeli minuman pereda mabuk untuk Hazel. Aiden meninggalkan Hazel di dalam mobil dan beranjak masuk ke minimarket. Hazel membuka matanya dan melihat Aiden turun.


Ponsel Hazel berdering dan nama Mia terpampang di layarnya. "Hai, Mia," sapa Hazel dengan santai.


"Kamu di mana, El?" tanya Mia menyelidik.


"Di jalan dengan Kak Aiden. Kenapa?" Hazel tidak tahu jika Mia khawatir padanya.

__ADS_1


"Aku pikir kamu akan langsung kembali ke apartemen. Aku di depan apartemen kamu bersama Jack." Mia memberitahu Hazel.


"Aku nggak akan pulang malam ini. Aku kesepian Mia," ucap Hazel dengan nada sendu.


"Baiklah, bersenang-senanglah dengan Kak Aiden," ujar Mia, "Jangan sampai daddy kamu tahu."


"Ah ... sialan, kenapa kamu mengingatkan aku padanya." Hazel memaki Mia dan hanya dijawab dengan kekehan olehnya.


Hazel mematikan telepon Mia dan ponselnya berkedip lagi tanda ada yang menelepon. Hazel melihat nama Gavin di layar teleponnya. Hazel menimbang-nimbang ingin mengangkatnya atau tidak. Akhirnya ponsel Hazel berhenti berdering, tetapi tidak berapa lama berbunyi lagi.


"Sedang apa kamu? Kenapa lama sekali?" tanya Gavin langsung saat Hazel menerima panggilan teleponnya.


"Aku sedang bersama Mia. Aku akan menghubungi kamu lagi." Hazel segera mematikan teleponnya saat melihat Aiden keluar dari minimarket.


"Aku pikir kamu tidak akan terbangun sampai nanti di apartemen," ucap Aiden sambil menyerahkan minuman pereda mabuk.


"Ada telepon dari Mia. Dia menanyakan keberadaanku," ujar Hazel, tersenyum manis.


"Tidak akan apa?" Hazel bertanya-tanya.


"Lupakan saja." Aiden melajukan lagi mobilnya menuju gedung apartemennya yang sudah tidak jauh dari minimarket tersebut.


Sampai di parkiran basement gedung, Aiden mematikan mobilnya dan meminta Hazel keluar. Hazel mengikuti Aiden menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana unit apartemen Aiden berada. Hazel tidak berpikir macam-macam dengan membawa dirinya ke apartemen seorang laki-laki.


"Kak Aiden tinggal sendiri?" tanya Hazel akhirnya.


"Iya, aku sendiri di kota ini. Kedua orang tuaku ada di luar kota," ucap Aiden menjawab dengan jujur.


Lift berhenti di lantai 17 dan Aiden mengajak Hazel keluar lalu menuju unit apartemennya. Aiden membuka pintu unitnya dan mempersilakan Hazel untuk masuk. Pertama kali masuk ke dalam apartemen seorang pria, Hazel terkejut karena keadaannya begitu rapi dan tertata.


"Apa Kak Aiden membersihkan sendiri apartemen ini?" tanya Hazel penasaran.

__ADS_1


"Tidak, El. Setiap hari ada yang datang membersihkannya." Aiden membawa barang belanjaannya tadi ke dapur. Hazel mengikuti Aiden menuju ke dapur.


"Apa kamu lapar?" tanya Aiden saat melihat Hazel mengikutinya.


"Sedikit," jawab Hazel dengan malu-malu.


Aiden tersenyum lalu mencoba memasakkan sesuatu untuk Hazel. Dengan wajah terkejut, Hazel melihat cara Aiden memasak dan merasa takjub karena dia baru mengetahui hal itu. Hazel terpesona dengan sikap Aiden saat sedang memasak.


"Sejak kapan Kak Aiden bisa memasak?" Hazel tambah penasaran tentang kehidupan Aiden.


"Sejak tinggal di apartemen ini sendiri. Aku nggak bisa setiap hari makan di luar, jadi aku belajar memasak sedikit." Aiden menjawab sambil tersenyum.


Hazel mengingat Gavin yang juga suka memasak untuk dirinya. Hazel menggeleng kepalanya cepat untuk mengusir Gavin di dalam otaknya saat ini. Gavin sedang pergi ke luar negeri bersama istrinya untuk melakukan pengobatan. Hazel berniat tidak akan mengganggunya.


Masakan yang dibuat Aiden selesai dan dia meletakkannya di atas meja makan. Hazel menatap takjub hasil masakan Aiden. Meskipun hanya sepiring spagheti, tetapi baunya sangat harum dan sepertinya rasanya lezat. Hazel segera mencicipi masakan Aiden dan tersenyum bahagia karena rasanya sangat enak.


"Spagheti terenak yang pernah aku makan," ujar Hazel secara berlebihan, tetapi benar-benar tulus.


"Kamu terlalu berlebihan, El." Aiden merasa tersanjung.


Hazel menyelesaikan makannya dan beranjak ke ruang tamu sekaligus ruang santai. Aiden menyalakan televisi yang ada di sana dan mencari film yang bagus untuk ditonton. Hazel mendengar ponselnya berbunyi dan melihat nama Gavin di layarnya. Hazel keluar balkon apartemen Aiden dan menerima telepon itu.


"Apa lagi, Gavin?" tanya Hazel dengan santai.


"Pulang sekarang juga atau aku yang akan menyeret kamu pulang." Gavin berkata dengan serius.


"Aku sudah dalam perjalanan pulang," ucap Hazel berbohong.


"Aku tahu saat kamu berkata tidak jujur, Sayank." Gavin terus merongrong Hazel.


"Sudahlah, nikmati saja waktumu dengan istrimu." Hazel mematikan teleponnya lalu menonaktifkannya.

__ADS_1


__ADS_2