Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Kesalahan 2


__ADS_3

Hazel kembali masuk ke ruang tamu dan melihat Aiden sudah memutarkan sebuah film romance. Hazel duduk di sofa di samping Aiden. Hazel menyandarkan punggungnya ke sofa dan menikmati cemilah yang telah disiapkan oleh Aiden. Film dimulai dan Hazel mulai larut dalam tontonannya. Aiden memperhatikan wajah serius Hazel dan terpikat oleh kecantikannya. Tanpa sadar, Aiden mendekatkan wajahnya ke arah Hazel dan mencium bibir Hazel dengan tiba-tiba. Hazel terkejut, tetapi tidak marah maupun kesal dengan kelakuan Aiden. Hazel kembali fokus pada film di hadapannya.


"Apa kamu nggak marah?" tanya Aiden merasa tidak enak hati.


"Enggak," ucap Hazel dengan santai. Hazel kembali menonton film yang sedang diputar.


Hazel tidak tahu jika Aiden terus memandanginya di samping dirinya. Aiden ingin maju untuk mendekatkan dirinya pada Hazel, tetapi dia ragu-ragu. Hazel beranjak ingin mengambil minuman, tetapi dicegat oleh Aiden. Tangan Hazel ditarik dan akhirnya duduk di samping Aiden dengan kakinya naik di pangkuan Aiden.


"I'm sorry, El," ucap Aiden, lalu dengan cepat mencium bibir Hazel dengan lembut dan menekan tengkuknya untuk dapat mencium lebih dalam. Hazel terdiam tidak membalas ciuman Aiden, tetapi tidak juga menolaknya.


Aiden meneruskan ciumannya turun ke leher jenjang Hazel dan memberikan tanda di sana. Namum, Hazel menggeleng cepat. Aiden kembali melahap bibir Hazel dan kali ini Hazel membalasnya, membuat Aiden semakin berani. Hazel tanpa sengaja mengeluarkan lenguhannya saat tangan Aiden meremas gunung kembar miliknya.


"Sorry," ujar Aiden lalu memundurkan tubuhnya dan sedikit menjauh. Hazel mendekat lalu beranjak ke pangkuan Aiden. Hazel tidak bisa mundur lagi karena Aiden sudah membuatnya ingin menikmati tubuh itu.


Hazel berinisiatif mencium bibir Aiden dan mendorong kepalanya untuk membuat ciumannya lebih dalam. Aiden tidak tinggal diam karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Hazel. Aiden mengangkat tubuh Hazel dan membawanya ke kamar. Hazel mengalungkan kedua lengannya di leher Aiden.


"Apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Hazel pada Aiden.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, El? Aku tidak tahu kamu sudah punya pacar atau belum. Yang jelas aku menyikaimu. Mungkin kamu tahu, karena Mia saja memyadari itu." Aiden mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tidak biasa.


"Aku tidak tahu itu," ucap Hazel mencoba meledek Aiden.


"Aku sudah mengatakannya tadi." Aiden mendudukkan Hazel di pinggir ranjang miliknya.

__ADS_1


"Aku bukan perempuan yang kamu pikirkan, Kak. Aku tidak pantas untuk kamu," ucap Hazel dengan tersenyum tipis.


"Aku tidak memikirkan itu, Hazel. Aku hanya menyukaimu dan aku sudah mengungkapkannya padamu. Aku tahu kamu juga suka sama aku, 'kan?" Aiden tersenyum lebar saat mengatakan hal itu.


"Tidak ... kenapa kamu percaya diri sekali?" Hazel tertawa mendengar pernyataan Aiden.


"Kalau kamu tidak suka sama aku, kenapa kamu melakukan ini?" Aiden bertanya langsung pada Hazel tentang apa yang sedang dan akan mereka lakukan.


"Karena aku penasaran," ujar Hazel dengan santai.


Aiden mendorong tubuh Hazel hingga terlentang di tempat tidurnya dan menindihnya langsung. Hazel tersenyum seringai dan Aiden semakin tertantang. Aiden membuka pakaian Hazel dengan cepat dan memperlihatkan pakaian dalam Hazel yang tidak sepenuhnya bisa menutupi buah dada Hazel yang besar dan kenyal, membuat Aiden menelan salivanya dengan susah payah.


"Apa kamu semakin tertarik padaku setelah melihat semua ini?" tanya Hazel menantang.


Hazel menggigit bibirnya saat Aiden mencoba meremas dua buah gunung kembarnya. Hazel memejamkan matanya dan tiba-tiba teringat Gavin. Hazel mendorong tubuh Aiden, sampai Aiden terlentang di sampingnya. Aiden menatap wajah Hazel dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Maaf kalau aku udah lancang menyentuh kamu," ucap Aiden sambil tersenyum lalu mencium kening Hazel.


Aiden beranjak dan mengambil pakaian milik Hazel lalu memakaikannya kembali. Hazel menatap wajah Aiden dengan intens. Aiden tersenyum lalu mengusap kepala Hazel dan menarik tangannya untuk kembali ke ruang tamu. Hazel masih menatap Aiden dengan perasaan tidak enak.


"Apa kamu marah?" tanya Hazel.


"Tidak, El. Aku nggak akan memaksa kamu dan perasaan kamu. Mungkin ada yang lain di hidup kamu. Aku tidak akan memaksakan keinginanku dan perasaanku sendiri." Aiden berbicara dengan begitu santai, tetapi menyentuh hati Hazel.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Hazel lalu pergi dari apartemen Aiden tanpa menunggu diantarkan oleh Aiden.


Hazel merasa kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Hazel mengingat kontrak yang telah dia tanda tangani dengan Gavin. Hazel sedikit menyukai Aiden, tetapi dia tidak bisa melakukan itu. Di sisi lain, Hazel juga menginginkan Gavin seutuhnya. Namun, dia tidak memiliki kekuatan untuk itu.


Hazel berhenti setelah berada di depan apartemen Aiden. Dia tidak tahu jika Aiden mengikutinya. Aiden berdiri di samping Hazel dan memberikan jaket miliknya untuk Hazel. Aiden menatap wajah Hazel yang sedang kebingungan.


"Ayo aku antar pulang," ajak Aiden sambil menggenggam erat tangan Hazel menuju tempat parkir mobilnya.


Hari sudah menjelang pagi, Aiden mengantarkan Hazel menuju apartemen barunya. Baru pertama kali Aiden mengantar Hazel ke sana. Aiden berpikir itu fasilitas yang diberikan keluarga barunya untuk Hazel. Aiden tidak bisa memikirkan hal lain selain apa yang dikatakan Hazel padanya.


"Makasih, Kak," ucap Hazel setelah sampai di depan apartemennya.


"Masuklah, aku akan pergi setelah melihatmu." Aiden tersenyum di balik setir mobilnya. Hazel melambaikan tangannya dan masuk tanpa menoleh lagi.


Hazel menyalakan ponselnya setelah sampai di dalam apartemen miliknya. Banyak sekali pesan suara dan pesan teks dari Gavin. Ada juga panggilan telepon dan video call dari Gavin. Hazel tidak merasa bersalah dengan itu. Saat ini Gavin sedang bersama istrinya dan Hazel tidak ingin mengganggu mereka. Meskipun dia juga merasa kesepian.


Hazel menyiapkan air hangat di bathtub untuk berendam dan membersihkan tubuhnya. Saat itulah ponsel Hazel berdering dan terpampang nama Gavin di layar. Hazel segera mengangkatnya dan tidak akan mengalah jika Gavin marah padanya.


"Hai, Dad," sapa Hazel melalui sambungan teleponnya.


"Apa ini Lynn?" Suara seorang perempuan membuat Hazel terkejut dan melihat lagi siapa yang meneleponnya. Hazel segera mematikan teleponnya dan membanting ponselnya ke atas tempat tidur.


Hazel masuk ke kamar mandi dan berendam di air hangat yang sudah diberi minyak aroma terapi. Hazel ingin membuat tubuhnya rilek dan tidak memikirkan siapa yang telah meneleponnya. Hazel menyentuh tubuhnya sendiri dan merasakan sensasi yang lain. Dia menutup matanya dan menikmati setiap sentuhan tangannya sendiri. Hazel membayangkan wajah Aiden di depan matanya dan sedang menggerayanginya.

__ADS_1


"Aaahhh ... Aiden."


__ADS_2