
Hazel melihat ke sekeliling kamarnya untuk mencari keberadaan Gavin. Hazel menatap Mia dengan sedikit kesal karena memaksa masuk ke kamarnya. Mia merebahkan tubuhnya dengan santai di atas tempat tidur Hazel. Gavin bersembunyi di dalam lemari pakaian Hazel yang terlihat tidak cukup untuk tubuhnya yang tinggi besar.
"Pulanglah, Mia. Aku juga butuh istirahat," ujar Hazel mencoba mengusir Mia secara halus.
"Aku menginap di sini, El. Makasih," ucap Mia sambil tersenyum manis.
Hazel duduk di tepi ranjang miliknya dan menarik tangan Mia. Dia berusaha mengeluarkan Mia untuk membuat Gavin terbebas dari sana. Hazel mengajak Mia ke bar tempat Jack bekerja supaya Gavin bisa pergi kembali menyusul istrinya.
"Ayo kita ke tempat Jack," ajak Hazel sambil terus menarik tangan Mia.
"Boleh juga," ucap Mia sambil tersenyum lebar. Hazel ikut tersenyum melihat Mia tidak menolak ajakannya.
"Aku akan telepon Kak Aiden," ujar Mia sambil membuka ponselnya dan mulai menelepon.
"Nggak usah, Mi. Kita berdua aja." Hazel berbicara sambil melihat di mana Gavin. Apa dia mendengarkan semua itu? Hazel harus mencari alasan untuk itu.
Setelah bersiap, Hazel meminta Mia untuk menunggu di depan apartemennya. Hazel ingin memastikan bahwa Gavin tahu dia keluar dan segera pergi dari kamarnya. Hazel keluar bersama Mia dan tidak tahu jika Gavin sudah terlelap di tempat persembunyiannya. Gavin tidak sadar jika Hazel pergi dan membuatkan jalan untuknya keluar dari apartemen tersebut.
Hazel dan Mia sampai di bar tempat Jack bekerja. Mereka berdua segera masuk dan duduk di depan meja bar. Jack menyapa mereka dan memberikan minuman yang biasa Hazel dan Mia minum. Mia sudah menelepon Aiden, tetapi orangnya belum terlihat. Hazel sedikit tidak nyaman karena kelakuannya sendiri.
"Apa Kak Aiden akan datang?" tanya Hazel sedikit berharap jika Aiden tidak akan datang.
"Katanya dia akan datang. Meskipun tadinya dia menolak karena katanya kamu tidak akan mau jika ada dia di sini," ujar Mia, lalu menyesap minumannya perlahan.
"Kenapa dia bilang begitu?" tanya Hazel merasa tidak enak hati.
"Mana aku tahu, Hazel. Kalian bertengkar atau ada sesuatu yang membuat kalian berdua tidak nyaman?" Miq bertanya sambil tersenyum meledek.
"Tidak ada, Mia. Kita berdua biasa aja." Hazel mencoba mengelak dan langsung meminum minumannya sampai habis. Jack mengisi kembali gelas Hazel.
__ADS_1
Mia sedang mengobrol dengan Jack saat Hazel mulai mabuk karena tidak sadar sudah berapa gelas yang dia minum. Mia mulai menertawakan Hazel karena terlihat seperti orang frustasi. Hazel masih memikirkan Gavin yang tidak bisa dia hubungi karena ponselnya ada sama Lily. Hazel turun dari bangkunya dan berjalan ke tengah lantai dansa. Dia berjoged mengikuti irama.
Aiden datang dan melihat ke sekeliling untuk mencari Hazel dan Mia. Dia melihat Hazel sedang menari di tengah musik mengalun keras dan menghentak. Aiden menghampiri Hazel dan melambaikan tangannya pada Mia, saat Mia melihatnya. Aiden mendekati Hazel dan memegang lengannya, membuat Hazel sedikit kaget.
"Hei, Kak Aiden. Baru sampai?" tanya Hazel sambil terus menari dan tersenyum manis.
"Kamu udah mabuk, El. Ayo kita pulang," ujar Aiden dengan lembut. Suaranya terkalahkan oleh bunyi musik dan dia harus berbicara di samping telinga Hazel
"Ayo pulang, Hazel," ucap Aiden di samping telinga Hazel dan membuatnya sedikit meremang.
"Ini masih sore, Kak. Ngapain pulang," ucap Hazel terus menggerakkan tubuhnya dan kepalanya mengikuti irama.
"Kamu udah mabuk, Sayank." Aiden sengaja mengatakan kata sayang untuk menggoda Hazel. Mulutnya meniupkan udara ke sekitar telinga Hazel dan membuatnya menutup matanya sejenak.
"Jangan goda aku begitu, Kak. Kamu seperti anak nakal yang menggoda cewek cantik," ujar Hazel sambil terkekeh geli.
"Aku memang sedang menggoda gadis cantik di depanku ini." Aiden berkata dengan nada serius dan sambil memeluk pinggang Hazel dengan posesif.
"Aku akan bicara dengan daddy kamu, Sayank." Aiden mencium telinga Hazel dan mencoba terus menggodanya.
"Mmmhhh ...." Hazel berusaha keras menahan suara gairahnya, tetapi sentuhan Aiden dan alkohol yang diminumnya membuat tubuh Hazel menikmati sentuhan Aiden.
"Kamu nakal sekali, Sayank. Baru seperti ini aja udah bergairah," ledek Aiden sambil tersenyum seringai.
"Itu karena pengaruh alkohol, Kak." Hazel mencoba mengelak.
Mia mendekati Hazel dan Aiden, lalu bergoyang bersama mengikuti suara musik. Hazel merasa sedikit terselamatkan karena adanya Mia. Tangan Aiden yang semula berbuat seenaknya, sekarang diam bersedekap di dadanya sambil memandang lekat ke arah Hazel. Mia tersenyum melihat tingkah Aiden.
"Kalau suka sama Hazel, langsung katakan aja, Kak," ucap Mia sambil terkekeh geli.
__ADS_1
"Aku udah bilang sama dia, Mia. Tapi dia menolak karena takut dengan daddy-nya," ujar Aiden membuat Mia tersadar jika Hazel memiliki kontrak dengan sugar daddy-nya.
"Tidak masalah, Kak. Nanti biar aku yang membujuk Hazel." Mia tersenyum dan kembali mendekati Hazel yang masih semangat menari mengikuti musik.
Aiden memilih duduk di depan meja bar dan ditemani Jack. Aiden tidak meminta minuman beralkohol karena dia ingin mengantar Hazel pulang. Jack memberinya softdrink sambil tersenyum mengejek. Hazel menari dengan penuh gairah dan membuat semua mata yang melihatnya tidak berkedip. Aiden menggeram kesal saat melihat semua itu.
Aiden berjalan cepat ke arah Hazel dan menggendongnya ala karung beras untuk membawanya kembali ke kursi. Hazel tidak memberontak dan meminta minuman lagi pada Jack. Aiden melarangnya dan Hazel tidak suka itu. Hazel menatap tajam Aiden lalu mendekatkan tubuhnya ke depan wajahnya.
"Kamu masih belum menjadi milikku, tapi sudah berani melarangku," ucap Hazel sambil menatap intes ke dalam mata Aiden.
"Karena aku benar-benar menyukai kamu, Hazel. Aku tidak akan membiarkan kamu terlalu mabuk," ujar Aiden sambil memegang tangan Hazel.
"Biarkan aku mabuk, Sayank," ucap Hazel secara tidak sadar. Mia tersenyum lebar mendengar kata-kata Hazel. Begitu juga dengan Aiden.
"Ayo aku antar pulang. Kamu sudah terlalu mabuk," ucap Aiden sambil memapah Hazel.
"Aku tidak mau pulang. Ada si tua bangka di sana," ucap Hazel, menolah untuk dibawa pulang ke apartemennya.
"Sejak kapan si tua bangka di apartemen kamu?" tanya Mia penasaran.
"Sejak kamu datang, Mia. Kamu merusak malamku." Hazel terus berbicara secara tidak sadar karena sudah terlalu mabuk.
"Siapa si tua bangka?" tanya Aiden menatap Mia.
"Oh itu, daddy-nya Hazel, Kak." Mia menjawab dengan gugup.
"Aku akan mengantarnya sekaligus berkenalan," ucap Aiden dengan mantap.
"Jangan, Kak. Sebaiknya Hazel dibawa ke apartemen Kakak aja. Daddy-nya Hazel tidak suka Hazel berpacaran." Mia mencoba mencari alasan. "Aku harap Kak Aiden paham," ucap Mia lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan bawa Hazel ke apartemenku." Aiden menggendong Hazel ala bridal karena kesadaran Hazel.