
Aiden terus menciumi leher Hazel dari belakang dan membuat Hazel memejamkan matanya. Hazel teringat dengan kelakuannya sendiri di dalam kamar mandi dengan membayangkan Aiden yang menyentuhnya. Ponsel Hazel kembali berdering dan menampilkan permintaan video call dari Gavin. Hazel mendorong perlahan tubuh Aiden lalu beranjak keluar apartemen milik Aiden. Hazel berlari menuju lift dan segera mengangkat sambungan video dari Gavin.
"Hai ...." Hazel berdiri kaku melihat wajah siapa yang terpampang di layar kaca.
"Hazel?" Lily sama terkejutnya dengan Hazel.
"Iya, Tante." Hazel mencoba berbicara dengan santai meskipun sebenarnya dia sangat tegang.
"Kenapa kamu pegang nomor rekan kerjanya Gavin?" Lily bertanya dengan memikirkan banyak kemungkinan.
"Maaf, Tante, mungkin yang dimaksud Tante memang aku." Hazel tidak bisa mencari kata-kata yang mudah dipahami.
"Maksudnya kamu itu rekan kerja suami saya? Kamu masih kuliah, 'kan?" Lily terus mencecar Hazel dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Maaf, Tante, aku mau pulang dulu. Habis dari rumah teman," ucap Hazel berpamitan, lalu mematikan sambung video call dari Lily.
Hazel segera mencari taksi dan kembali ke apartemennya. Hazel merasa sangat cemas jika hubungannya dengan Gavin akan terungkap karena panggilan video itu. Hazel juga merasa kesal karena ponsel Gavin selalu dipakai Lily untuk mencari tahu. Hazel tidak habis pikir bagaimana caranya Lily mendapat ponsel Gavin atau pemiliknya sendiri yang tidak bisa menyimpan dengan baik.
"Sialan, Tua Bangka." Hazel memaki Gavin saat di dalam taksi.
Sampai di apartemen, Hazel langsung merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Hazel merasa sangat lelah karena memikirkan Gavin dan juga memikirkan ulah Aiden yang semakin lama semakin mencoba mendekatinya. Ponsel Hazel berdering nyaring, tetapi tidak dihiraukan olehnya. Hazel terlelap dan masuk ke alam mimpi.
.
.
Hazel terbangun dan melihat kamarnya gelap serta korden kamar masih terbuka lebar. Hazel bangun dari kasur dan terkejut mendapati ada seseorang di tepi ranjangnya. Hazel memundurkan tubuhnya dan waspada dengan siapa yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Hazel sambil mencari ponselnya untuk menyalakan senter ponsel.
"Aku kangen sama kamu, Sayank." Hazel mengenal suara orang yang ada di hadapannya.
"Gavin?" Hazel segera bangkit dan menyalakan lampu kamarnya. Dia benar-benar melihat Gavin berada di hadapannya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Hazel masih tidak percaya.
"Aku kembali hanya satu hari karena kangen sama kamu, Lynn." Gavin berbicara dengan serius.
"Tapi tadi ... ponsel kamu mana?" Hazel menanyakan keberadaan ponsel Gavin karena dia baru saja mendapat telepon dari Lily melalui nomor miliknya.
Gavin mencari ponselnya di saku celana dan jasnya. Dia tidak menemukan ponsel miliknya dan sedang mengingat-ingat di mana dia kehilangan ponselnya. Hazel menarik nafas panjang dan memijat pangkal hidungnya karena merasa pusing memikirkan hubungannya.
"Ponsel kamu ada sama istri kamu, Gavin. Tadi dia video call pakai nomor kamu dan aku mengangkatnya." Hazel menceritakan apa yang terjadi.
"Lily melihat wajah kamu?" tanya Gavin dengan santai.
"Oh ... dia komentar apa?" Gavin masih saja santai dengan apa yang terjadi pada Hazel.
"Aku langsung matiin sambungan video callnya. Aku nggak mau salah bicara pada istri kamu." Hazel beranjak ke dapur dan meninggalkan Gavin sendiri.
Hazel ingin membuat sesuatu untuk dirinya sendiri, mengganjal perut. Hari ini adalah hari yang paling berantakan menurut Hazel. Dia mencoba lebih dekat dengan Aiden, tetapi dia tetap memikirkan Gavin. Istri Gavin menelepon Hazel menggunakan nomor Gavin dan tahu jika selama ini mereka berhubungan. Hazel menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Seberat itu hari kamu, Sayank?" Gavin memeluk Hazel dari belakang dan menciumi kepalanya dengan lembut.
"Lepaskan aku, Dad. Aku mau masak sesuatu," ucap Hazel sambil mencoba melepaskan tangan Gavin dari pinggangnya.
"Sekarang sudah enak panggil Dad daripada Beb?" tanya Gavin mengubah topiknya.
__ADS_1
"Semua orang tahu aku punya daddy. Bukan sebagai seorang kekasih, tapi daddy seorang ayah. Teman kampusku dapat berita aku sekarang menjadi orang kaya karena diadopsi. Hanya Mia yang tahu sebenarnya, tapi aku masih menutupinya dari Mia." Hazel menghela nafas lagi.
Gavin menarik tubuh Hazel dan menghadapkannya pada dirinya. Gavin menatap mata Hazel dan mengusap pipinya dengan lembut. Hazel selalu saja tersesat jika menatap ke dalam mata Gavin. Begitu menyejukkan dan penuh gairah. Hazel berjinjit dan mencium bibir Gavin dengan lembut. Gavin tersenyum seringai mendapat perlakuan seperti itu dari Hazel.
"Duduk dulu, biar aku yang masak untuk kamu." Gavin meminta Hazel untuk duduk di kursi makan. Hazel tersenyum manis.
"Karena inilah aku dulu terima kamu, Sayank. Kamu bisa perlakukan aku dengan baik dan lembut." Hazel mengingat saat pertama kali dia memutuskan untuk menerima Gavin.
"Aku memang memukau, Sayank. Tidak heran kalau kamu tidak bisa berpaling dariku." Gavin berkata dengan percaya diri. Hazel hanya bisa tersenyum kecil.
Gavin memakai celemek dan mulai mengambil bahan-bahan yang akan dia masak. Hazel mengamatinya sambil terus tersenyum manis. Gavin memotong sayuran dengan lihai dan sesekali menatap ke arah Hazel. Gavin bisa dengan mudah meluluhkan hati Hazel dengan sikapnya.
Hazel mendekati Gavin yang sedang sibuk memasak dan memeluknya untuk menggoda Gavin. Hazel mulai menggerakkan jari-jarinya di dada bidang milik Gavin dan turun sampai ke perutnya. Tangan Hazel mulai mengusap bagian sensitif Gavin dan membuatnya menggeram bergairah.
"Sayank ...." Gavin memanggil Hazel dengan tekanan.
"Aku stres mikirin kamu berdua dengan istrimu di luar negeri. Meskipun kamu bermain dengannya, itu adalah hal wajar. Tapi aku merasa tidak terima." Hazel mengatakan apa yang dipikirkannya.
Gavin mematikan kompornya dan berbalik menghadap Hazel. Mata Hazel sudah mulai sayu, menunjukkan bahwa dirinya telah terangsang. Gavin mengangkat tubuh Hazel dan meletakkannya di meja dapur. Hazel menggigit bibirnya teringat sentuhan Aiden di tubuhnya. Hazel langsung menarik kerah baju Gavin dan mencium bibirnya dengan rakus.
"Aku kangen kamu, Sayank," ucap Hazel dengan suara serak.
"Baru kali ini aku lihat kamu sangat bergairah. Apa ada hal yang tidak aku tahu?" Gavin menatap Hazel dengan intens.
"Nggak ada, jangan banyak tanya. Udah berapa hari aku menahannya." Hazel menarik lagi kerah baju Gavin dan mencium bibirnya.
Gavin mulai melucuti pakaian Hazel dan membuangnya ke sembarang tempat. Gavin menelanjangi Hazel di dapur dan melakukan permainan panasnya di sana. Hazel mengeluarkan suara desahannya dengan keras dan membuat Gavin semakin bergairah. Gavin menghentakkan miliknya di dalam milik Hazel sampai menumpahkan cairannya di dalam milik Hazel. Gavin tidak pernah takut jika Hazel hamil, karena mereka sudah memakai alat kontrasepsi.
__ADS_1
"Lagi, Sayank. Aku mau lagi," ucap Hazel dengan memohon.