Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Terdengar Gavin


__ADS_3

Hazel memohon pada Gavin untuk melanjutkan permainannya. Gavin dengan senang hati mengikuti keinginan Hazel. Gavin mengangkat tubuh Hazel dan membawanya ke kamar. Gavin merebahkan Hazel dan langsung menindihnya sambil memasukkan miliknya. Hazel sedikit berteriak menahan sengatan yang dirasakannya di daerah sensitifnya.


"Kapan kamu kembali ke istri kamu?" tanya Hazel di tengah permainan.


"Setelah ini, Sayank. Ponselku ada sama dia dan aku tidak mau dia menyalahgunakannya," ucap Gavin lalu mendorong miliknya sampai ke dasar spot milik Hazel.


"Aarrrhhh ...!" Hazel berteriak sambil mencengkeram erat punggung Gavin.


Berkali-kali Gavin menghentakkan miliknya ke dasar lubang kenikmatan milik Hazel dan membuat Hazel berteriak keras merasakan sensasinya. Hazel meracau nikmat dan terus membuat Gavin semakin bergairah. Hazel tersenyum puas bisa menumpahkan semuanya malam itu. Gavin tidak rugi saat dirinya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, meskipun ponselnya ditahan oleh Lily.


.


.


Di hotel tempat Lily dan Gavin menginap di luar negeri, Lily sedang mondar-mandir di kamarnya. Dia menatap ponsel milik Gavin yang tidak bisa dia pergunakan lagi karena semua aplikasi penting dikunci oleh Gavin. Lily sempat menelpon nomor kontak Lynn yang ada di ponsel Gavin dan menemukan fakta jika Lynn adalah Hazel. Lily sedikit curiga, tetapi dia tidak ingin gegabah.


Lily mencoba menelepon Mia dan menanyakan bagaimana sikap Hazel jika sedang bersamanya. Lily ingin mengetahui keseharian Hazel juga. Dia menghubungi ponsel Mia dan dalam beberapa detik akhirnya tersambung juga.


"Mami, ada apa?" tanya Mia setelah dia mengangkat telepon dari Lily.


"Tidak apa-apa, Sayank. Mami kangen sama kamu," ucap Lily sambil mencari kata-kata yang pas untuk menanyakan tentang Hazel.


"Apa Mami baik-baik aja? Daddy mana?" Mia menanyakan keberadaan Gavin. Kedua orang tuanya berpamitan ke luar negeri untuk berobat selama satu minggu. Mia sudah terbiasa dengan itu.


"Daddy bilang ingin pulang terlebih dahulu, apa dia tidak menghubungi kamu?" tanya Lily, "Oh, mami lupa ponsel daddy ketinggalan."


"Kenapa daddy pulang? Apa ada yang tertinggal?" Mia bertanya dengan bingung.


"Iya, katanya ada yang tertinggal. Kamu di mana, Sayank?" Lily bertanya sambil terus memikirkan cara menanyakan hal tentang Hazel.

__ADS_1


"Mia lagi menuju apartemen Hazel, Mami. Dia sepertinya sedang dalam masalah," ujar Mia sambil masuk ke dalam lift gedung apartemen Hazel.


"Apa Hazel sekarang tinggal di apartemen? Kamu bilang Hazel harus bekerja keras buat kuliahnya. Bagaimana dia bisa tinggal di sana?" Lily sering mendengar cerita tentang Hazel sebelumnya dari Mia. Namun, beberapa bulan belakangan Mia sudah jarang bercerita dengannya.


"Itu karena ... Hazel punya pekerjaan yang lebih bagus, Mami. Bayarannya besar juga," ujar Mia. Dia bingung harus mengatakan apa.


"Apa dia dan daddy memang sedang bekerja sama dalam suatu pekerjaan?" Lily bergumam sehingga Mia tidak begitu mendengar apa yang dikatakan olehnya.


"Mami bilang apa?" tanya Mia dan dia sampai di lantai unit milik Hazel.


"Tidak apa-apa, Sayank. Apa kamu udah sampai di tempat Hazel?" tanya Lily sedikit penasaran.


"Udah, Mami. Sepertinya Hazel sedang tidur atau sibuk. Pintunya belum dibuka," ujar Mia sambil terus berusaha memencet bel pintu apartemen Hazel.


"Ya sudah, salam buat Hazel dari mami." Lily mengakhiri panggilannya dan mencoba memikirkan lagi semuanya.


Di dalam apartemen miliknya, Hazel sedang bingung menyembunyikan Gavin karena kedatangan Mia yang secara tiba-tiba. Hazel menyembunyikan semua milik Gavin supaya tidak terlihat oleh Mia. Setelah semua dirasa aman, Hazel membuka pintu apartemennya dan menemui Mia.


"Apa kamu baik-baik aja? Kamu terlihat seperti habis berlarian," ujar Mia sambil berjalan masuk ke unit apartemen Hazel.


"Aku baik-baik aja. Aku habis olahraga sedikit." Hazel tersenyum kaku menjawab pertanyaan Mia.


"Aku pikir kamu masih bersama Kak Aiden. Bagaimana tadi, apa kalian mencoba ...." Hazel segera menutup mulut Mia karena tidak ingin Gavin mendengar apa yang telah dilakukannya dengan Aiden. "Kenapa kamu menutup mulut aku, El?" Mia sedikit kesal.


"Aku tidak mau membahasnya," ujar Hazel mencari alasan.


"Apa kamu masih marah sama daddy kamu?" Mia bertanya lagi sambil duduk santai di sofa ruang tamu Hazel.


"Sedikit kesal aja, Mia. Aku belum tahu alasan kamu ke sini karena apa." Hazel sesekali menatap ke arah pintu kamarnya karena Gavin berada di sana.

__ADS_1


"Ayo kita ke Bar. Aku kesepian nggak ada daddy dan mami. Apa boleh aku menginap di sini?" Mia menatap Hazel dengan intens.


"Berapa lama mereka pergi?" tanya Hazel berbasa-basi.


"Satu minggu katanya. Aku udah biasa ditinggal, tapi kali ini rasanya aku sangat merindukan mereka," ujar Mia dengan helaan nafas berat.


"Kenapa tidak telepon mereka saja," ucap Hazel sedikit merasa iba pada Mia.


"Tadi mami udah telepon. Dia titip salam buat kamu, El. Dia tanya sejak kapan kamu tinggal di apartemen. Aku lupa dulu kamu tinggal di kost. Tapi tenang aja, aku nggak bilang kalau kamu jadi sugar baby." Mia tersenyum menenangkan Hazel.


"Apa kalau mami kamu tahu, kamu tidak boleh berteman denganku lagi?" Hazel tiba-tiba ingin tahu tentang hal itu.


"Sepertinya tidak. Mami bukan orang yang kolot." Mia memeluk Hazel dari samping. "Mami akan mendukung kamu seperti aku mendukungmu, El. Mami tahu bagaimana kamu bekerja keras untuk kuliah kamu."


"Makasih, Mia." Hazel tersenyum tipis mendengar dukungan dari Mia.


"Apa jika kamu tahu bahwa aku sugar baby Daddy Gavin, kamu akan memaafkanku dan tetap mendukungku? Sepertinya aku gila menginginkan hal itu." Hazel berbicara dan berpikir di dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan, El? Aku tidak akan menilai kamu buruk. Aku akan terus mendukung kamu." Mia memeluk Hazel dan mengusap punggungnya pelan.


"Makasih, Mia. Ayo kita ke bar untuk menghilangkan pikiran negatif kita," ujar Hazel sambil mengurai pelukan Mia dan bersiap menuju kamarnya.


"Aku ikut ke kamar," ucap Mia secara tiba-tiba dan mengikuti langkah Hazel.


Di dalam kamar Hazel, Gavin berusaha langsung bersembunyi karena kedatangan Mia. Awalnya Hazel menahan langkah Mia untuk tidak masuk ke kamarnya, tetapi Mia terus saja masuk dan Hazel sedikit menutup matanya karena takut Gavin masih ada di sana. Mia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Hazel yang sedikit berantakan karena pergumulan Hazel dengan Gavin.


"Apa kamu habis bermain di kamar ini dengan Kak Aiden?" tanya Mia dengan lantang.


"Apa? Tidak... bagaimana mungkin aku sama Kak Aiden," ujar Hazel dengan gugup.

__ADS_1


"Aku akan mendukungmu juga, El. Kak Aiden orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga tampan." Mia terus saja memuji Aiden di depan Hazel.


"Aku udah ada daddy, Mia," ujar Hazel sedikit ragu.


__ADS_2