
Gavin mencoba menelepon nomor telepon Hazel, tetapi tidak diangkat oleh Hazel. Gavin sangat marah dan ingin segera menyeret Hazel pergi dan mencoba meminta penjelasannya. Namun saat ini Hazel sedang berada di kampus yang sama dengan kampus anaknya, Mia. Gavin mencoba menelepon lagi dan akhirnya diangkat oleh Hazel.
"Ada apa?" tanya Hazel dengan cuek.
"Apa aku harus menyingkirkan pria itu supaya kamu kembali sama aku?" Gavin langsung menyampaikan ancamannya.
"Apa maksud kamu?" Hazel sedikit takut karena Gavin berbicara dengan nada super dingin.
"Siapa laki-laki yang menjemput kamu? Aku lihat semuanya, Lynn. Jangan sampai aku cari tahu sendiri semuanya." Gavin sangat tegas saat ini.
"Jangan bawa laki-laki lain untuk masalah kita, Gavin. Aku akan bicara denganmu nanti. Aku masuk kelas dulu." Hazel langsung menutup panggilan dari Gavin dan merasa cemas dengan ancaman Gavin.
"Ada apa?" tanya Mia tiba-tiba, saat melihat sahabatnya terlihat kesal dan cemas sekaligus.
__ADS_1
"Daddy lihat aku dijemput sama Kak Aiden. Dia telepon dan mengancam akan menyingkirkan Kak Aiden." Hazel merasa sangat cemas. "Gimana ini, Mia?" tanya Hazel sambil menatap mata Mia.
"Kamu harus menjelaskan semuanya sama Kak Aiden, El. Cepat atau lambat Kak Aiden pasti akan tahu yang sebenarnya. Dan aku pikir kamu harus memberitahunya sendiri daripada dia tahu dari orang lain." Mia mencoba memberi saran untuk Hazel.
"Aku akan selesaikan masalahku dulu dengan Si Tua Bangka itu. Setelah itu, aku akan bicara dengan Kak Aiden." Hazel mencoba tenang dan berpikir jernih. Dia harus bisa menyelesaikan satu per satu masalahnya tanpa merusak semuanya.
Hazel mengikuti mata kuliahnya dengan tidak fokus. Dia memikirkan alasan apa yang akan diberikannya untuk Gavin. Hazel sangat tahu bagaimana sikap Gavin jika sedang marah. Sebelum bersama Hazel, Gavin adalah pria yang dingin dan keras. Hazel harus bisa membuatnya luluh dan memaafkannya. Jika dia tidak bisa membuat Gavin mengerti, mungkin Hazel harus bersiap untuk kehilangan Gavin.
Selesai mata kuliah hari ini, Hazel langsung pergi dari kampus tanpa menunggu Aiden. Hazel betpamitan pada Mia dan meminta Mia untuk memberitahu Aiden alasannya pergi terlebih dahulu. Hazel segera pulang ke apartemennya karena Gavin menunggunya di sana.
"Apa kamu tidak tahu jika aku terus mengikutimu?" Suara Gavin terdengar di belakang Hazel dan membuatnya sangat terkejut.
"Sayank ...." Hazel tidak bisa berkata apapun saat menengok dan melihat wajah Gavin yang terlihat memerah menahan amarah.
__ADS_1
Gavin mencengkram erat pipi Hazel dan menahan tangannya untuk tidak menampar Hazel dan menyakitinya. Gavin menggenggam erat tangannya karena merasa sangat marah dengan kelakuan Hazel. Sebelum semuanya dimulai, Hazel sudah menyetujui syarat yang diberikan Gavin. Namun saat ini Hazel telah melanggarnya.
"Kita bisa bicarakan semuanya, Gavin," ucap Hazel mencoba untuk tenang.
"Apa yang harus dibicarakan?" Gavin bertanya dengan nada dingin.
"Semua yang kamu lihat, aku akan menjelaskannya," ujar Hazel sedikit memohon.
Gavin melepaskan Hazel dan duduk di ujung tempat tidur dengan wajah datar. Hazel mendekat dan berjongkok di hadapan Gavin. Hazel akan melakukan apapun untuk membuat Gavin tidak marah lagi terhadapnya. Hazel mengusap lembut paha Gavin sambil menatap wajahnya dengan tatapan manja.
"Laki-laki itu hanya seorang teman. Dia juga dekat dengan Mia. Kita bertiga bersahabat dan sering pergi bersama. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," ucap Hazel sambil terus mengusap paha Gavin untuk menggodanya. Sesekali tangannya sengaja mengenai bagian inti milik Gavin.
Tidak ada tanggapan dari Gavin dan Hazel mencoba untuk terus berusaha menjelaskan. Hazel kemudian berdiri dan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gavin. Hazel mencium bibir Gavin lalu menciumi wajahnya. Gavin memejamkan matanya untuk menahan diri supaya tidak terpancing.
__ADS_1
"Aku melihat semuanya, Lynn. Kamu tertawa bersama dengan pria itu. Aku juga melihat pria itu menyukai kamu dari matanya dan cara dia memandang kamu. Apa aku harus diam saja?" Gavin berbicara dengan sangat tegas.