
Gavin membuka paksa pakaian Hazel dan membuatnya polos di bawah kungkungannya. Gavin tersenyum melihat tubuh indah milik Hazel. Tidak menunggu lana, Gavin langsung memasukkan miliknya ke dalam milik Hazel dan membuat Hazel menjerit nikmat. Gavin memberi hukuman Hazel seperti apa yang sedang dia lakukan saat ini.
"Kamu memang selalu bisa membuatku luluh, Gavin." Hazel berbicara dengan suara tersengal.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bersama pria lain, Sayank. Aku tidak akan rela melihatmu tersenyum karena pria lain," ujar Gavin dengan serius.
"Aku ingin mempunyai pacar yang bisa aku ajak jalan-jalan tanpa takut dipergoki oleh istri dan anak," ucap Hazel dengan tatapan sendu.
"Kita bisa berpacaran di luar negeri, Sayank. Tidak ada alasan untuk kamu memikirkan hal lain selain diriku." Gavin berbicara dengan tegas sambil terus memainkan jari-jarinya di tubuh Hazel.
"Aku lelah dengan semua ini, Gavin." Hazel mengatakan apa yang dirasakannya dengan suara terengah karena perlakuan Gavin.
"Apa aku harus menceraikan istriku dan hidup bersamamu?" tanya Gavin sambil menatap mata sayu Hazel yang sudah diselimuti gairah.
"Jangan ... aku tidak mau menyakiti Mia." Hazel menaikkan tubuhnya saat tangan Gavin memainkan bagian inti miliknya. "Aaarrgghh ... Gavin ...!" Hazel meneriakkan nama Gavin dengan ditambah ******* nikmat. Gavin hanya menyeringai melihat Hazel.
Gavin menyelesaikan permainannya dan membuat Hazel kelelahan dengan permainan yang dilakukan Gavin terhadapnya. Hazel memejamkan matanya meskipun tubuhnya basah dan lengket karena peluh dan cairan milik Gavin. Hazel menerima hukumannya dari Gavin, tetapi hukuman yang membuatnya ketagihan.
"Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh cinta dengan pria lain, Lynn." Gavin berbicara dengan nada dingin, lalu menyelimuti Hazel dan beranjak ke kamar mandi.
Gavin meninggalkan apartemen Hazel setelah membersihkan badannya dan melihat Hazel terlelap. Gavin akan pulang ke rumah dan mencari informasi tentang pria di dekat Hazel kepada Mia. Gavin tidak ingin Hazel kembali bersama pria itu.
***
Hazel terbangun dari tidurnya dan merasakan bagian intinya sedikit sakit dan kaku. Hazel mencoba bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hazel mencoba membuka ponselnya dan melihat ada pesan serta panggilan tak terjawab dari Aiden. Hazel segera menghubungi Aiden dan tidak lama panggilannya tersambung.
"Kamu ke mana aja, El?" tanya Aiden, nada suaranya terdengar khawatir.
"Aku ketiduran di apartemen, Kak. Maaf ...." Hazel merasa tidak enak hati sudah membohongi Aiden.
__ADS_1
"Apa kamu udah makan?" tanya Aiden di seberang telepon.
"Belum, Kak. Aku baru bangun tidur dan mau mandi," jawab Hazel sambil tersenyum tipis.
"Bersiaplah, aku udah mau sampai di apartemen kamu." Aiden mematikan panggilan dari Hazel dan segera melajukan mobilnya ke apartemen Hazel.
Setelah meletakkan ponselnya, Hazel bersiap dan memakai pakaian yang nyaman. Hazel melihat dirinya di cermin dan melihat beberapa tanda merah di tubuhnya dan leher. Hazel merutuki Gavin dan mencoba menutupi tanda merah di lehernya.
"Sialan si tua bangka itu. Dia benar-benar nggak akan membiarkan aku bersenang-senang dengan yang lain." Hazel menggerutu sambil membuat tanda merahnya tersamarkan.
Ponsel Hazel berdering dan menampilkan nama Gavin di layarnya. Hazel hendak mengabaikannya, tetapi dia tidak ingin Gavin terus-terusan menelponnya dan yang lebih parah lagi Gavin akan datang ke apartemennya. Hazel akhirnya mengangkat panggilan dari Gavin.
"Iya ...," ucap Hazel dengan sedikit enggan.
"Apa kamu belum bangun, Sayank?" tanya Gavin dengan suara lembut.
"Baru aja bangun. Kenapa kamu pergi?" Hazel mencoba bertanya dan membuat Gavin senang.
"Tidak usah, terima kasih," ucap Hazel sambil menyisir rambutnya.
Hazel mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya adalah Lily. Gavin terdengar berbicara sambil menutup ponselnya, tetapi Hazel masih mendengarnya sedikit. Hazel mendengar Gavin akan makan malam bersama dengan Lily dan Mia. Hazel merasa perasaannya menjadi aneh. Hazel lalu mematikan panggilan telepon Gavin dan memasukkan ponselnya ke tas. Hazel menunggu Aiden di ruang tamu.
Tidak lama Aiden datang dan mengajak Hazel makan malam di luar. Hazel merasa senang, tetapi dia juga sedikit kesal karena Gavin. Hazel mencoba menyingkirkan perasaan kesalnya dan bersenang-senang bersama Aiden. Namun Hazel tidak menyangka jika malam itu adalah malam sial untuk dirinya.
Aiden membawa Hazel makan malam di restoran yang cukup terkenal. Hazel melihat Mia ada di sana sedang berdiri di depan pintu masuk restoran. Hazel sudah memiliki perasaan tidak enak. Hazel hendak mengajak Aiden untuk pergi dari restoran tersebut, tetapi Mia sudah melihatnya dan memanggil Hazel serta Aiden.
"Hai, Mia, kamu ngapain di sini?" tanya Hazel sedikit gugup sambil melihat ke sekeliling.
"Aku mau makan malam sama mami dan daddy," ujar Mia sambil tersenyum dan melirik Aiden.
__ADS_1
"Ooh ... mana mereka?" Hazel bertanya karena dia belum melihat Gavin dan juga Lily.
"Mereka masih di tempat parkir." Mia menjawab pertanyaan Hazel. "Kalian mau makan malam juga?" tanya Mia sambil tersenyum lagi.
"Enggak, kita mau jalan-jalan," ujar Aiden bercanda. Mia tertawa, tetapi tidak dengan Hazel.
"Mia," panggil suara yang sangat dikenal oleh Hazel. Mia melambaikan tangannya dan Hazel menengok dengan perlahan. Gavin berjalan ke arah Mia dan matanya terlihat terkejut melihat Hazel di sana.
"Daddy, lihat ada Hazel juga, dia sama pacarnya," ucap Mia sambil menghampiri Gavin dan bergelayut manja di lengannya. Hazel hanya terdiam kaku mendengar ucapan Mia.
"Selamat malam, Hazel. Siapa nama pria ini?" Gavin bertanya dengan nada dingin.
"Selamat malam, Om. Saya Aiden pacarnya Hazel dan juga teman Mia," ucap Aiden sambil tersenyum.
"Pacarnya Hazel ya? Mia apa udah punya pacar?" Gavin mencoba bertanya pada Mia. Lily masih diam mendengarkan pembicaraan semua orang.
"Mia masih pedekate, Dad. Daddy terlalu sibuk dengan pekerjaan makanya nggak tahu apa-apa soal Mia," ucap Mia sedikit kecewa.
"Maaf, Sayank. Daddy akan lebih perhatian lagi sama kamu," ujar Gavin sambil mengusap kepala Mia.
"Ayo ikut makan malam sama kami, Hazel," ajak Lily akhirnya. Hazel ingin menolaknya, tetapi dia tidak ingin membuat semuanya curiga. Hazel hanya mengangguk menjawab tawaran Lily.
Gavin membuka ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Tiba-tiba ponsel Hazel bergetar dan Hazel memiliki firasat yang tidak enak. Hazel membuka ponselnya dan melihat pesan ancaman dari Gavin. Hazel terkejut dan memegang erat ponselnya.
"Kenapa?" tanya Aiden yang sadar dengan perubahan ekspresi Hazel.
"Nggak pa-pa, Kak," ucap Hazel sambil tersenyum kaku.
Semuanya masuk ke dalam restoran dan duduk di tempat yang sudah dipesan oleh Lily. Gavin sengaja berjalan mensejajari Hazel dan sedikit mendekat ke samping Hazel. Gavin menyeringai lalu berbisik di telinga Hazel.
__ADS_1
"Tunggu hukuman apa yang akan aku kasih nanti," bisik Gavin di telinga Hazel.