
Hazel terus mencoba meminta maaf pada Gavin dan merayunya. Perasaannya mudah berubah karena dia masih belum yakin dengan Gavin yang menyukainya sedangkan dia sudah memiliki istri dan keluarga yang sempurna. Hazel mencoba berpikir jernih untuk setiap keputusannya nanti supaya dia tidak sakit hati sendiri. Gavin berbalik melihat ke arah Hazel dan memeluk Hazel dengan erat.
"Maaf untuk semua kata-kata kasarku, Sayank." Gavin meminta maaf juga pada Hazel dan merasa bersalah dengan semua yang dilakukannya.
"Aku akan maafin kamu kalau kamu bereskan kekacauan yang kamu buat ini, Beb," ujar Hazel melihat apartemennya berantakan karena ulah Gavin.
"Biar saja orang yang akan membereskannya. Ayo, aku antar kamu ke kampus." Gavin menggandeng tangan Hazel dan membawanya ke lemari pakaian untuk memilih baju lagi.
Hazel mencari baju yang nyaman untuk kuliahnya hari ini dan Gavin melihatnya dari belakang dengan perasaan ingin. Gavin mendekat ke arah Hazel dan memeluknya lalu meremas gunung kembar milik Hazel dengan lembut. Hazel memejamkan matanya dan menggigit bibirnya untuk menahan keinginannya.
"Kita main sebentar ya, Beb. Kamu buat aku bergairah," ucap Gavin sambil terus meremas gunung kembar Hazel.
"Aku harus kuliah, Beb. Ini aja udah telat." Hazel berkata dengan terengah karena permainan tangan Gavin.
"Sebentar saja, Sayank. Aku akan cepat," ujar Gavin sambil menurunkan celana miliknya untuk mengeluarkan pusakanya.
Gavin langsung memasukkan miliknya ke dalam milik Hazel dan bermain selama setengah jam sampai ke puncak kenikmatannya. Hazel ingin menggerutu, tetapi begitulah Gavin. Hazel juga tidak bisa menolak kenikmatan yang ditawarkan olehnya.
Hazel membersihkan dirinya lagi dan berganti pakaian yang lebih tertutup supaya Gavin tidak melihatnya dengan ingin. Hazel diantar ke kampus oleh Gavin dan sampai di kampus setelah perjalan selama 20 menit. Hazel mencium pipi Gavin lalu keluar mobil dan berlari menuju kelasnya. Dia sudah telat masuk ke kelas.
"Kenapa baru datang?" tanya Mia yang sudah berada di kelas pagi ini.
"Si Tua Bangka bikin ulah," ucap Hazel dengan cuek.
"Bikin ulah apa bikin enak?" Mia terkekeh saat mengatakan hal itu.
"Kenapa sekarang pikiran kamu jadi begitu, Beb?" Hazel menatap tajam ke arah Mia.
"Kamu, kenapa pulang ke apartemen nggak bilang sama aku? Dari rumah sakit aku buru-buru pulang karena takut kamu nyariin. Ternyata kamu udah nggak ada." Mia sedikit cemberut karena Hazel pulang dari rumahnya tanpa berpamitan.
__ADS_1
"Sorry, aku buru-buru karena dijemput si Tua Bangka. Dia telepon aku terus sampai aku terbangun." Hazel mencari alasan yang tepat.
"Ya sudahlah, nanti ceritakan padaku kenapa kamu mabuk seperti semalam." Mia meminta Hazel bercerita dengannya dengan suara lirih.
"Baiklah, aku akan bercerita nanti." Hazel mencoba fokus dengan dosen di depan.
Satu jam berlalu begitu lambat. Hazel merasa sangat bosan dengan mata kuliahnya. Hazel segera membawa Mia ke kafe depan kampus untuk mentraktirnya makan. Hazel ingat jika dia sudah ada janji dengan Aiden. Hazel langsung menghubungi Aiden untuk memintanya menyusul ke kafe.
"Kamu janjian lagi sama Kak Aiden?" tanya Mia sambil melihat daftar menu.
"Iya, janjian tadi pagi waktu si Tua Bangka ngeselin. Habis itu dia buat aku melayang lagi, makanya aku lupa sama Kak Aiden." Hazel bercerita dengan santai.
"Sekarang ceritakan padaku, kenapa kamu sampai mabuk seperti itu?" Mia bertanya lagi tentang hal itu.
"Aku bingung sama si Tua Bangka, Mi. Apa aku harus sama dia terus sampai kapan pun? Dia punya keluarga sendiri, Mi." Hazel menceritakan semua keresahannya pada Mia.
"Kadang aku nggak tega sama keluarganya, Mia." Hazel menatap Mia dengan tatapan intens.
"Mungkin si Tua Bangka lakuin semua itu karena dia butuh atau karena ada masalah di keluarganya. Jadi kamu nggak usah merasa bersalah gitu, El." Mia menenangkan Hazel dengan perkataannya.
"Apa begitu, Mi?" tanya Hazel dengan sedikit berharap.
"Apanya yang begitu?" Aiden datang dan langsung bertanya tentang apa yang sedang diobrolkan oleh Hazel dan Mia.
"Bukan apa-apa, Kak," ucap Hazel dengan cepat. Hazel tersenyum manis di depan Aiden dan membuat Aiden salah tingkah.
"Kalian udah selesai kuliahnya?" tanya Aiden lagi untuk menyingkirkan perasaan yang tidak dia inginkan itu.
"Udah, Kak. Hazel ngajak makan di sini dan dia yang akan bayar katanya," jawab Mia dengan antusias.
__ADS_1
"Nggak jadi jalan-jalan lagi, El?" Aiden bertanya khusus pada Hazel.
"Jalan-jalan nggak ngajak aku nih." Mia memperlihatkan wajah cemberut.
"Kata Hazel, kamu lagi sibuk jaga mama kamu, Mia. Bagaimana keadaannya sekarang? Semoga cepat sembuh ya," ucap Aiden dengan rasa prihatin untuk Mia.
"Mama masih di rumah sakit, Kak. Makasih udah perhatian sama mama aku, Kak." Mia tersenyum mendapat perhatian kecil dari Aiden.
"Nanti aku ikut ke rumah sakit ya, Mi. Aku mau jenguk mama kamu." Hazel memberanikan diri untuk menemui Lily.
"Berarti nggak jadi jalan-jalan ini?" tanya Aiden menatap Hazel.
"Kapan-kapan lagi ya, Kak. Nanti kita mau ke rumah sakit jenguk mamanya Mia." Hazel tersenyum lagi di depan Aiden. Mia ikut tersenyum saat mengetahui jika Aiden salah tingkah saat melihat senyuman Hazel.
Makanan yang dipesan Mia datang dan mereka bertiga menikmatinya sambil mengobrol ringan. Sepanjang obrolan Hazel dan dua temannya, ada seseorang yang sedang melihatnya dari balik kaca mobil dengan mimik wajah kesal. Aiden sendiri tidak lepas tatapannya ke arah Hazel. Di dalam mobil, Gavin sangat kesal karena Hazel berulah lagi.
Setelah Hazel dan Mia selesai makan, mereka pamit pada Aiden untuk ke rumah sakit. Aiden tidak bisa ikut karena dosen pembimbingnya memanggil dirinya. Hazel dan Mia menaiki mobil milik Mia dan Hazel tidak meminta izin pada Gavin. Dia juga tidak tahu jika Gavin mengiriminya pesan.
Tiga puluh menit perjalanan dari kampus Hazel, akhirnya sampai di rumah sakit. Hazel dan Mia berjalan santai ke kamar rawat Lily di ruangan VVIP. Mia membuka pintu kamar mamanya dengan perlahan dan sedikit terkejut saat melihat sang mama sedang berciuman dengan seseorang. Mia tersenyum menyaksikan itu.
"Kenapa berhenti?" tanya Hazel yang sedikit melongokkan kepalanya dan sangat syok melihat pemandangan di depannya. Gavin sedang berciuman dengan Lily dan mereka berdua tidak sadar jika ada yang datang.
"Ehem, serasa dunia milik berdua ya," ucap Mia membuat Gavin dan Lily segera melepas ciuman mereka.
"Sayank, mami pikir kamu masih ada kelas." Lily berkata dengan santai.
"Hari ini cuma satu mata kuliah aja, Mami," jawab Mia sambil menarik tangan Hazel untuk masuk, "Hazel mau jenguk Mami katanya."
Hazel masuk dan tatapannya langsung tertuju pada Gavin yang sedang duduk di samping Lily. Setelah beberapa detik, dia mencoba menampilkan senyumnya dan menyapa Lily. "Selamat siang, Tante."
__ADS_1