
Mia membawa Hazel ke rumahnya karena dia tidak tahu apartemen Hazel yang sekarang. Mia dibantu oleh sopirnya untuk menggotong Hazel ke kamarnya. Mia merasa heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Sejak dulu, Mia tidak pernah melihat Hazel melakukan hal seperti itu.
Mia meninggalkan Hazel di kamarnya dan dia kembali ke rumah sakit. Mia melihat ibunya telah siuman dan langsung memeluknya dengan erat. Lily merasakan kehangatan dari pelukan Mia. Gavin tersenyum melihat kedua perempuan yang telah hidup bersamanya selama ini.
"Apa kamu udah antar teman kamu pulang?" tanya Gavin dengan hati-hati.
"Aku bawa Hazel ke rumah, Dad. Aku nggak tahu apartemen barunya di mana," jawab Mia dengan santai.
"Kasihan dia, apa dia sedang banyak masalah, Mia?" Lily ikut bertanya tentang Hazel.
"Mia juga nggak tahu, Mami. Hazel baru pernah seperti ini." Mia menjawab pertanyaan Lily.
"Udah jangan terlalu dipikirkan. Yang terpenting dia sudah berada di rumah kita sekarang." Gavin mencoba menyetop kedua anak dan ibu itu. "Sebaiknya kamu pulang aja, Mia. Temani teman kamu itu."
"Nanti aja, Dad. Aku masih pengen di sini sama Mami," ucap Mia sambil memeluk Lily lagi. Gavin mengacak rambut Mia.
.
.
.
Hazel merasakan tubuhnya melayang saat kepalanya masih terasa berat. Hazel mencoba membuka matanya dan melihat Gavin sedang membawanya. Gavin menatap tajam Hazel dan membuatnya menutup mata lagi karena takut akan tatapan Gavin. Hazel berpura-pura tertidur, tetapi Gavin sudah tahu jika Hazel sudah bangun.
"Buka mata kamu," titah Gavin saat mereka sudah berada di dalam mobil Gavin.
Sebelumnya, Gavin meminta Mia untuk pulang ke rumah dan tidur di rumah. Namun, Mia tetap menolak dan menginginkan tidur bersama dengan Lily di rumah sakit. Gavin segera menuju rumahnya saat Mia dan Lily terlelap tidur. Hari sudah menjelang pagi saat Gavin sampai di rumahnya dan diam-diam membawa Hazel keluar rumah.
"Kenapa kamu bisa sampai membawaku, Gavin?" tanya Hazel dengan perasaan takut dan terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kamu sampai mabuk seperti itu?" Gavin membalikkan pertanyaan pada Hazel.
"Kenapa kamu peduli dengan itu? Bagaimana kalau Mia tahu saat ini kamu sedang bersamaku?" Hazel terus bertanya untuk memojokkan Gavin.
"Apa yang membuat kamu mabuk seperti itu? Jawab Hazel!" Gavin berteriak tepat di depan wajah Hazel.
"Karena aku memikirkan kamu. Aku berpikir untuk melepaskan kamu dan banyak lagi yang harus aku pikirkan," ujar Hazel akhirnya.
Gavin membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan keras. Hari sudah semakin terang dan para asisten rumah tangga di rumah Gavin mulai mengerjakan pekerjaannya tanpa mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Hazel menutup matanya dan merutuki nasibnya saat ini. Gavin tidak akan memaafkannya karena masalah ini tidak sepele.
Gavin meminta sopirnya untuk segera membawa Hazel ke apartemennya. Sementara itu, Gavin kembali ke rumah sakit untuk melihat Mia dan Lily sebelum mereka bangun. Hazel mulai merasakan kesepian karena dia menjadi yang kedua saat ini. Gavin terus mempedulikan sang istri dan anaknya.
Hazel sampai di apartemennya dan langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur seluruh badannya menggunakan shower. Hazel memikirkan bagaimana kelak nasibnya jika Gavin memilih akan kembali bersama dengan sang istri. Hazel akan memulai bekerja kembali jika hal itu terjadi. Hazel tidak akan menahan Gavin karena dari awal Hazel bukan pemiliknya.
Setelah membuat seluruh dirinya basah, Hazel membersihkan badannya dan bersiap-siap untuk ke kampus. Dia ingin segera lulus dan bekerja dengan pekerjaan yang baik dan layak untuk menghidupinya. Hazel mengabaikan semua panggilan dan pesan dari Gavin.
"Ada apa, El? Aku nggak ke kampus hari ini," ucap Aiden menjawab pertanyaan Hazel dengan kebingungan.
"Aku ada kuliah satu mata kuliah aja, setelah itu mau nemenin aku jalan-jalan nggak?" Hazel mengajak lagi Aiden untuk berjalan-jalan.
"Aku mau nemenin kamu, tapi aku nggak mau kejadian kemarin terulang, El. Meskipun itu bodyguard daddy kamu, aku nggak suka caranya." Aiden mengutarakan pemikirannya saat Hazel diseret paksa keluar bioskop oleh para bodyguard Gavin.
"Aku jamin nggak akan terulang lagi," ucap Hazel dengan mantap.
Setelah mengatakan hal itu, Hazel mematikan panggilannya dan bersiap. Hazel tidak tahu jika Gavin sudah akan mengamuk dan sedang dijalan menuju ke apartemen. Hazel tidak ingin bertemu dengan Gavin dan dia mencoba menghindar. Hazel keluar apartemennya setelah semuanya siap.
"Mau ke mana kamu?" tanya suara berat seorang pria yang sangat dikenal Hazel. Gavin menatap tajam ke arah Hazel.
"Aku mau ke kampus, Beb," ujar Hazel menjawab dengan jujur, tetapi matanya tidak menatap langsung ke dalam mata Gavin.
__ADS_1
Hazel ditarik masuk lagi ke dalam apartemen oleh Gavin. Hazel berusaha menolak, tetapi tenaga Davin lebih kuat dan akhirnya dia terkunci di bawah kungkungan Gavin di atas ranjang miliknya. Gavin membuka paksa kemeja Hazel dan dengan bodohnya Hazel hanya diam mendapat perlakuan seperti itu oleh Gavin.
"Jangan menguji batas kesabaranku, Lynn. Selama ini kamu tahu bagaimana aku." Gavin mencengkeram dagu Hazel lalu memagut kasar bibir Hazel. "Kenapa kamu seakan ingin menghindar dari aku?" Gavin bertanya dengan sedikit sendu.
"Aku sedang menatap masa depanku nantinya, Gavin. Aku tidak ingin terus bergantung padamu," ujar Hazel dengan serius.
"Harus berapa kali aku katakan kalau masa depanmu ada di tanganku," ucap Gavin dengan menggertakkan rahangnya karena menahan kesal.
"Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu kalau istri kamu saja sedang dirawat di rumah sakit? Sedangkan aku juga harus memikirkan perasaan Mia jika dia tahu apa yang aku lakukan padanya." Hazel terus mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Apa aku harus menikahimu, Hazel Lynn? Setelah itu kamu baru yakin dengan apa yang aku inginkan darimu." Gavin berbicara dengan tegas dan dingin. Hazel hanya diam saja tidak menanggapi kata-kata Gavin.
Hazel menutup matanya saat Gavin mencium bibirnya dengan paksa dan sedikit kasar. Gavin menahan sesak di dadanya karena ulah Hazel yang tidak bisa mengerti perasaan tulusnya. Setelah membuka kemeja Hazel dan mencium bibirnya dengan kasar, Gavin membiarkan Hazel terlentang di atas ranjang. Gavin membanting barang-barang yang ada di dalam apartemem Hazel.
"Maafin aku, Beb," ucap Hazel dengan tulus setelah melihat Gavin mengamuk seperti itu. Hazel tidak ingin semuanya berlarut-larut karena pikirannya yang terkadang susah juga untuk dikendalikan.
Hazel mendekati Gavin yang sedang berdiri melihat ke arah jendela apartemennya. Dia memeluk Gavin dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Gavin. "Maafin aku, Beb."
.
.
.
Note :
Terima kasih telah mengikuti cerita Hazel dan Gavin dears. Mampir juga ke karya teman author ya dears.
__ADS_1