Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Hazel dan Aiden


__ADS_3

Gavin terperanjat saat dirinya terbangun dan masih berada di dalam lemari pakaian Hazel. Perlahan Gavin membuka pintu lemari dan melihat kamar Hazel gelap. Gavin keluar dari lemari pakaian tersebut, lalu mencoba mencari Hazel. Gavin memanggil nama Hazel dengan lirih karena takut Mia masih berada di apartemen Hazel.


Gavin tidak menemukan Hazel di manapun. Gavin tidak bisa menghubungi Hazel karena ponselnya tertinggal di hotel tempatnya menginap di luar negeri. Gavin melihat jam di tangannya dan menunjukkan pukul dua dini hari. Gavin segera keluar dari apartemen milik Hazel dan menuju ke hotel terdekat. Gavin ingin mencoba menelepon Hazel melalui telepon kabel yang ada di kamar hotelnya, tetapi dia tidak mengingat nomor Hazel.


"Bagaimana aku bisa meneleponnya kalau nomornya saja tidak ingat," ucap Gavin menggerutu.


Di apartemen milik Aiden, Hazel terlelap tidur karena mabuk. Aiden sengaja membawanya ke apartemen miliknya karena Mia yang menyuruhnya. Hazel juga melarang Aiden membawanya ke apartemen karena ada Gavin di sana. Hazel tidak ingin Gavin tahu jika dia mabuk dan diantar pulang oleh Aiden.


"Minum ... minum." Hazel meracau menginginkan air minum sambil membuka atasannya menyisakan **********. Aiden melihat tingkah Hazel dan menelan salivanya dengan susah payah.


"Air putih ... aku mau air putih." Hazel meminta lagi sambil menengadahkan tangannya, tetapi matanya tetap terpejam.


Aiden memberikan gelas berisi air minum pada Hazel. Dalam sekali teguk, Hazel menghabiskan setengah gelas air minumnya. Aiden memegang gelasnya sambil terus menatap Hazel yang sudah setengah telanjang. Hazel membaringkan tubuhnya lagi dan tidak sadar jika ada sepasang mata yang melihatnya dengan bergairah.


"Bagaimana bisa aku tidur dengan tenang?" ujar Aiden sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Aiden keluar dari kamarnya dan tidur di sofa ruang tamunya. Hazel terlelap dengan nyenyak dan tidak menyadari jika dia tidak tidur di apartemennya sendiri. Aiden mencoba tidur supaya pikirannya tidak ke mana-mana. Pagi terasa lama, saat Aiden dihadapkan dengan kenyataan yang membuatnya gelisah.


.


.


Hazel terbangun saat matanya merasa silau karena cahaya yang masuk ke dalam kamarnya. Hazel membuka mata dan sedikit terkejut karena tidak berada di dalam kamarnya sendiri. Hazel melihat ke sekeliling dan terdapat beberapa bingkai foto Aiden di meja. Hazel menghela nafas lega, tetapi juga gugup karena melihat dirinya hanya memakai dalaman. Dengan cepat Hazel menutup dadanya dengan selimut.


"Aku udah melihatnya tadi malam," ujar Aiden sambil tersenyum lebar. Aiden membawa nampan berisi makanan untuk Hazel.


"Bagaimana bisa aku seperti ini?" Hazel bertanya dengan malu.


"Kamu buka sendiri baju kamu. Aku tidak melakukan apapun. Tidak dengan kamu dalam keadaan mabuk," ujar Aiden menyeringai.


"Sialan," umpat Hazel sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Sarapan kamu, Sayank." Aiden bersikap manis layaknya seorang kekasih.


"Siapa pun yang mendengar itu, akan menganggap kita sepasang kekasih," ucap Hazel dengan sedikit gugup.


"Tidak masalah bagi aku. Karena aku memang akan membuat kamu menjadi kekasihku." Aiden duduk di sebelah Hazel dan meletakkan sarapan Hazel di depannya. Aiden memberikan baju Hazel untuk dipakainya kembali. Hazel memakai bajunya di depan Aiden dan tidak merasa malu atau pun ragu.


"Makasih sarapannya," ucap Hazel dengan tulus.


Hazel memakan sarapannya sambil sesekali melihat ke arah Aiden. Hazel tersenyum saat Aiden menatapnya tanpa berkedip. Aiden mendekatkan wajahnya lalu menjilat sisa makanan di samping bibir Hazel. Aiden membuat Hazel terkejut dan gugup seketika.


"Manis," ucap Aiden dengan santai.


"Tolong jangan lakuin hal yang buat aku malas bertemu dengan kamu." Hazel berkata dengan serius. Hazel menutupi detak jantungnya yang tidak teratur.


"Kamu bukannya malas, Sayank. Tapi kamu ragu dan malu," ujar Aiden dengan percaya diri.


Setelah Hazel selesai sarapan, Aiden membawa nampannya ke luar kamar dan Hazel menuju ke kamar mandi. Hazel membersihkan diri dan bersiap untuk pulang ke apartemennya sendiri. Dia berharap Gavin sudah tidak ada di apartemennya. Hazel ke luar kamar Aiden dan melihat Mia di ruang tamu.


"Aku khawatir sama kamu, Beb. Aku pikir Kak Aiden akan melakukan hal aneh sama kamu," ucap Mia sambil tertawa.


"Apa kamu pikir aku orang mesum?" Aiden menatap tajam ke arah Mia.


"Siapa tahu, Kak." Mia terkekeh geli.


"Ayo antar aku pulang dulu, Beb. Aku mau ganti baju." Hazel langsung menarik tangan Mia dan berjalan ke arah pintu keluar. Aiden menahan tangan Hazel dan membuatnya berhenti melangkah.


"Aku ikut. Aku mau ketemu sama daddy kamu," ucap Aiden dengan tegas.


"Jangan dulu, Kak. Aku nggak mau daddy nilai kamu jelek karena nggak antar anaknya pulang tadi malam." Hazel mencoba mencari alasan.


"Betul kata Hazel, Kak. Biar Hazel cari waktu yang tepat buat ngenalin Kak Aiden sebagai pacarnya Hazel." Mia berkata sembarangan dan membuat Hazel menatapnya tajam.

__ADS_1


"Oke kalau gitu. Kalian hati-hati. Sampai ketemu di kampus, Sayank," ucap Aiden sambil mencium kening Hazel.


Aiden mengantarkan Hazel dan Mia sampai ke depan pintu lift gedung apartemen. Aiden tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Hazel membalas senyuman Aiden dan pintu lift menutup. Hazel langsung memukul lengan Mia dengan keras.


"Sakit, Hazel," ucap Mia sambil mengusap lengannya yang dipukul Hazel.


"Kenapa kamu memberi harapan palsu sama Kak Aiden?" Hazel memarahi Mia sambil melotot ke arahnya.


"Aku senang kalau Kak Aiden bahagia," ucap Mia.


"Kamu tahu sendiri status aku, Mia. Aku nggak bisa pacaran sama Kak Aiden." Hazel berkacak pinggang.


"Tapi kamu suka sama Kak Aiden, 'kan?" Mia bertanya dengan serius.


"Aku nggak tahu, Mia. Sesaat aku merasa nyaman bersamanya. Tapi aku sadar aku nggak bisa seperti itu." Hazel menghela nafas dalam.


"Mungkin suatu saat kamu bisa lepas dari si tua bangka itu, El. Kamu bisa jujur sama Kak Aiden." Mia selalu bisa membuat Hazel berpikir lagi.


"Semoga aja." Hazel tersenyum kaku. Mia mengusap bahu Hazel untuk menguatkannya.


Hazel dan Mia menuju apartemen Hazel yang berada tidak jauh dari gedung apartemen milik Aiden. Hazel sedikit cemas karena Mia akan masuk bersamanya ke dalam apartemen. Dia berharap Gavin sudah keluar dari apartemennya. Mia menuju minimarket dekat gedung apartemen Hazel dan tiba-tiba ada seseorang yang menyeret Hazel menjauh dan bersembunyi.


"Dari mana saja kamu?" Suara Gavin terdengar dingin.


"Aku menginap di rumah Mia," ucap Hazel dengan tenang.


"Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku di dalam lemari kamar kamu?" Gavin menggeram di samping telinga Hazel.


"Mana aku tahu kamu bersembunyi di dalam lemari pakaianku," ujar Hazel sambil tersenyum geli.


"Aku harus kembali ke Lily. Sampai jumpa minggu depan," pamit Gavin, lalu mencium bibir Hazel dengan lembut.

__ADS_1


"Pergilah, aku nggak akan menahan kamu." Hazel sedikit merasa sesak, tetapi begitulah keadaannya.


__ADS_2