
Hazel sudah sering bertemu dengan Aiden saat Gavin sedang di luar negeri. Gavin baru saja pulang dan langsung menemui Hazel di apartemennya. Hazel terkejut melihat kedatangan Gavin. Tidak ada pesan maupun telepon yang memberitahu Hazel jika Gavin akan pulang. Hazel menatap wajah Gavin yang terlihat berantakan dan tidak terawat.
"Apa kamu tidak dirawat oleh istrimu, Gavin?" tanya Hazel dengan santai. Gavin sedikit terkejut saat mendengar Hazel hanya memanggil namanya saja.
"Apa kamu bersenang-senang saat aku tidak ada?" Alih-alih menjawab pertanyaan Hazel, Gavin berbalik bertanya.
"Tentu aku bersenang-senang. Aku punya sahabat yang baik hati dan sangat menyayangiku," ujar Hazel dengan bangga.
"Apa kamu lupa kalau sahabat kamu itu adalah anakku?" Gavin membuat Hazel merasa kesal karena diingatkan fakta tersebut.
"Fu*ck you, Gavin." Hazel langsung pergi ke kamar dan meninggalkan Gavin dengan kesal. Gavin tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Hazel sedang bersiap untuk pergi ke kampus saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan tangan yang lain meremas dadanya. Hazel berjengit kaget dan melengkungkan tubuhnya saat dengan lihainya Gavin memainkan jarinya di gunung kembar milik Hazel. Dengan kuat Hazel menggigit bibirnya untuk menahan suaranya yang bisa lebih memancing gairah Gavin. Hazel mencoba melepaskan diri dari aksi Gavin.
"Lepaskan, Sayank, aku ada kuliah penting hari ini. Aku nggak bisa bolos," ucap Hazel dengan merayu.
"Aku suka saat kamu memanggilku dengan sebutan itu, Sayank. Aku semakin menginginkanmu." Gavin benar dengan ucapannya. Dia semakin cepat memainkan gunung kembar milik Hazel sampai bajunya tersingkap.
"Stop, Gavin. Aku harus berangkat sekarang," ujar Hazel dengan dibarengi bunyi bel apartemen Hazel.
"Apa kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Gavin dengan sedikit kesal.
"Apa kamu tega meninggalkanku?" Gavin merengek melihat Hazel pergi. Hazel kembali dan mencium bibir Gavin sebentar.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu," ujar Hazel melambaikan tangannya.
Hazel membuka pintu apartemennya dan terkejut melihat Aiden di depan pintu. Hazel bergegas menarik tangan Aiden dan membawanya masuk ke lift. Aiden bingung mendapat perlakuan seperti itu. Kemudian sedikit mengerti jika di dalam apartemen Hazel ada daddy-nya. Aiden menggenggam tangan Hazel dengan erat.
"Seharusnya tadi aku menemui daddy kamu, El," ucap Aiden dengan serius.
"Jangan dulu, Kak. Daddy baru pulang dari luar negeri dan mood-nya sedang tidak baik." Hazel mencoba mengarang semuanya. Dia sudah tidak bisa mundur lagi.
Hazel dan Aiden menuju ke kampus menggunakan mobil milik Aiden. Hazel merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih. Dulu dia tidak pernah memikirkan hal-hal istimewa seperti itu. Karena dia terlalu fokus untuk bertahan hidup dan mencari uang untuk kesehariannya. Hazel tersenyum sendiri mengingat hal itu.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Aiden yang melihat senyuman Hazel secara sekilas.
__ADS_1
"Karena aku bahagia," ucap Hazel sambil tersenyum lebar. Hazel tidak tahu jika di belakang mobil Aiden ada seseorang yang sedari tadi mengikutinya dengan wajah menahan amarah.
Sampai di kampus, Aiden turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Hazel. Dengan wajah sumringah Hazel keluar dari mobil dan menyambut uluran tangan Aiden. Dari kejauhan Gavin melihat semua itu dan mengepalkan tangannya. Gavin memukul setirnya dengan keras dan menatap tajam ke arah Hazel dan Aiden. Gavin mengikuti Hazel saat melihatnya masuk ke dalam lift bersama Aiden.