
Hazel masih bisa berpikir saat dia menyetujui Aiden membawanya ke sebuah hotel di atas mall yang mereka datangi. Hazel hanya tidak bisa menolaknya kali ini. Dia tidak tahu karena perasaannya yang sedang kesal dengan Gavin atau karena dia memang sudah tertarik dengan Aiden. Hazel sudah tidak bisa mundur lagi.
"Aku tanya sekali lagi. Apa ini yang kamu inginkan?" ujar Aiden saat mereka sudah di dalam kamar hotel.
"Aku tidak akan menyesalinya," ucap Hazel dengan datar.
"Oke, aku akan pesan makanan dulu dan mengabari Mia kalau kita akan pergi sebentar." Aiden duduk di tepi ranjang untuk menelepon resepsionis. Hazel terus memperhatikan Aiden dan rasanya semakin menuntutnya.
Hazel mendekati Aiden dan memeluknya dari belakang. Hazel berada di atas tempat tidur saat ini dan memeluk Aiden. Hazel menyandarkan kepalanya di bahu Aiden dan tersenyum melihatnya. Aiden masih tenang menelepon sang resepsionis. Aiden menahan tangan Hazel ketika tangan Hazel menelusuri bagian bawah miliknya. Hazel merasa sedikit kecewa dan akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menjauh. Hazel berdiri di depan jendela sambil memandang ke luar.
Aiden menghampiri Hazel, lalu menarik tubuh Hazel untuk menghadapnya. Hazel menatap wajah Aiden dengan ekspresi datarnya. Aiden tersenyum lalu mengecup singkat bibir Hazel. Keduanya saling diam sambil terus menatap satu sama lain. Aiden mendekatkan wajahnya perlahan, lalu menekan tengkuk Hazel dan mencium bibirnya dengan lembut. Hazel membalas ciuman Aiden sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Aiden. Hazel mendorong pelan tubuh Aiden dan menarik napas panjang untuk mengisi oksigennya lagi.
"Apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Aiden sekali lagi.
"Apa kamu pikir aku tidak pernah melakukan ini?" ucap Hazel sedikit bingung.
"Bukankah kamu memang belum pernah melakukannya?" Aiden sedikit menjauh dari Hazel.
"Kamu salah, aku sudah pernah melakukan ini dan aku sudah tidak memiliki mahkotaku." Hazel berbicara dengan nada datar.
"What? Kapan kamu lakukan itu? Dengan siapa dan bagaimana caranya? Bukankah kamu tidak punya kekasih?" Pertanyaan-pertanyaan Aiden membuat Hazel tersenyum geli.
"Kamu tidak mengenalku, Kak." Hazel berjalan menjauh dan duduk di sisi ranjang.
"Aku mengenal kamu, Hazel. Tapi mungkin aku harus lebih mengenalmu lagi," ujar Aiden sambil mendekati Hazel.
__ADS_1
"Pikirkan lagi tentang itu, Kak. Karena aku bukan perempuan baik seperti apa yang kamu pikirkan." Hazel menggeser duduknya untuk bisa melihat wajah Aiden.
"Itu keputusanku, El. Aku juga punya masa lalu dan kamu punya. Kita sekarang hanya bisa menatap ke depan kalau memang ingin menjalin hubungan." Aiden berbicara dengan serius.
"Tapi sepertinya aku tidak punya masa depan lain, Kak," ucap Hazel dengan tersenyum simpul.
"Aku akan menjadi masa depan kamu, El." Aiden sangat serius saat mengucapkannya. Hazel hanya bisa tersenyum membalas ucapan Aiden.
Hazel mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Aiden. Saat ciuman mereka beralih menjadi semakin menuntut, ketukan di pintu kamar terdengar. Aiden dengan terpaksa melepaskan bibir Hazel dan membuka pintu kamarnya. Makanan telah datang dan Aiden meletakkannya di meja.
"Kita makan dulu, El. Kamu perlu tenaga untuk bisa bermain denganku," ucap Aiden sambil terkekeh.
"Sepertinya aku nggak lapar, Kak. Buat nanti aja." Hazel memang tidak berselera makan karena pikirannya yang sedang bercabang.
Tiba-tiba ponsel Hazel berdering dan terpampang nama Gavin di layarnya. Aiden mengambil ponsel dari tangan Hazel dan mematikannya tanpa melihat siapa yang menelponnya. Hazel hanya bisa menatap datar ponselnya yang diletakkan jauh di atas meja makan. Aiden mendorong tubuh Hazel hingga terlentang di atas ranjang.
Aiden mulai menciumi wajah Hazel dan berakhir di bibirnya. Aiden ******* lembut bibir Hazel dan dibalas oleh Hazel dengan sama lembutnya. Kedua tangan Hazel memeluk leher Aiden dan membuatnya lebih dalam menciumnya. Hazel mulai kehabisan napas dan menepuk pelan bahu Aiden. Hazel menatap wajah Aiden dan teringat Gavin. Namun dengan cepat Hazel membuang pikiran itu.
Aiden mulai membuka baju yang dipakai Hazel dan meninggalkan **********. Aiden menatap dua buah gundukan kenyal milik Hazel dan menelan salivanya dengan susah payah. Hazel menarik tengkuk Aiden untuk lebih mendekat ke arah dadanya. Aiden tahu apa yang diinginkan Hazel dan langsung melakukannya tanpa basa-basi. Dengan cepat Aiden melepaskan dalaman Hazel dan benda kenyal itu terpampang indah di depannya.
"Ayolah, Kak," ucap Hazel tidak sabar. Aiden tersenyum mendengarnya.
Aiden ******* lembut satu gundukan kenyal di depannya dan satunya dia remas dengan perlahan. Hazel memejamkan matanya dan merasakan sensasi yang dia sukai. Hazel mendorong kepala Aiden untuk lebih dalam memainkan dadanya dan menjilatnya dengan cepat. Hazel mengeluarkan suara desahannya dan membuat Aiden semakin terbakar gairah.
"****, aku nggak tahan lagi." Aiden membuka kain yang masih menutupi bagian bawah milik Hazel. Dengan cepat dia juga membuka miliknya.
__ADS_1
Hazel siap dengan segala resiko yang akan dia hadapi nantinya. Untuk sekarang dia hanya ingin merasakan milik Aiden di dalam miliknya. Aiden memasukkan miliknya ke dalam milik Hazel dan dengan suara tertahan Hazel menjerit.
"Apa sakit?" tanya Aiden belum mulai menggoyangkan pinggangnya.
"Sedikit," ucap Hazel sambil meringis malu.
"Punya kamu masih sempit, Sayank," ucap Aiden dengan lembut.
Aiden mulai menggoyangkan pinggangnya dan memaju-mundurkan miliknya di dalam milik Hazel. Aiden tersenyum melihat ekspresi wajah Hazel yang menggairahkan. Hazel menggigit bibirnya untuk menahan suara desahannya. Aiden mulai memainkan temponya lebih cepat dan berakhir setelah satu jam mereka bergelut dalam peluh.
"Makasih, Sayank. Sekarang aku nggak akan lepasin kamu meskipun daddy kamu nggak setuju," ujar Aiden lalu mencium kening Hazel saat milik mereka masih bertaut.
"Aku nggak yakin, Kak." Hazel berkata dalam hati sambil tersenyum tipis.
Ponsel Hazel berdering berkali-kali dan terlihat nama Mia di layarnya. Hazel segera mengangkatnya dan duduk di meja makan tanpa menggunakan sehelai benangpun. Aiden menutupi tubuh Hazel menggunakan kemejanya.
"Kenapa, Mi?" tanya Hazel sambil mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kamu di mana?" Mia balik bertanya.
"Bentar lagi aku nyusul kamu. Sekarang kamu di mana?" Hazel tersenyum saat Aiden memeluknya dari belakang.
"Aku tunggu di toko sepatu ya. Jangan lama." Mia langsung mematikan teleponnya dan ponsel Hazel berbunyi lagi. Hazel menyingkirkan tangan Aiden dan berbicara tanpa suara bahwa itu adalah daddy-nya alias Gavin.
"Ada apa?" tanya Hazel sedikit datar, setelah dia menjauh dari jangkauan dengar Aiden.
__ADS_1
"Di mana kamu?" Gavin ikut bertanya dengan nada dingin.
"Apa aku harus jujur?" Hazel sedikit memberanikan dirinya.