
Gavin tahu di mana posisi Hazel karena dia memiliki insting yang kuat. Hazel tidak takut saat ini karena dia ingin semuanya lebih jelas. Gavin kembali menanyakan di mana Hazel berada dan diabaikan oleh Hazel. Gavin sangat marah dan mengancam akan menghukum Hazel saat dia kembali.
"Aku tidak akan takut dengan hukuman kamu," ucap Hazel dengan berani.
"Karena kamu menikmati hukuman dari aku, Sayank," ujar Gavin menyeringai.
"Aku akan pergi, bye." Hazel langsung menutup panggilan dari Gavin dan menenangkan jantungnya. Aiden mendekat setelah melihat Hazel selesai menelepon.
"Apa daddy kamu marah?" tanya Aiden dengan lembut.
"Enggak, Kak. Hanya mau tahu di mana aku sekarang," ucap Hazel tidak sepenuhnya berbohong.
"Lebih baik aku cepat ketemu sama daddy kamu, El. Aku akan meminta izin padanya." Aiden berbicara dengan serius.
"Biar aku dulu yang bicara dengan daddy ya, Kak. Setelah itu aku akan bawa Kakak ke daddy." Hazel mencoba meyakinkan Aiden.
"Aku akan ikuti apapun yang kamu ucapkan, Sayank," ucap Aiden sambil tersenyum. Hazel merasa sedikit bersalah mendengar penuturan Aiden.
__ADS_1
Hazel dan Aiden sudah membersihkan diri dan siap untuk menghampiri Mia dan Jack di toko sepatu. Hazel sedikit tidak nyaman di **** *************. Dia merasa Aiden sangat ganas memperlakukannya tadi. Meskipun Hazel menyukainya, tetapi rasanya remuk badan Hazel.
"Apa kamu capek?" tanya Aiden melihat raut wajah Hazel.
"Sedikit," ucap Hazel singkat, tetapi tetap tersenyum.
"Sorry, aku udah lama nggak lakuin itu," ucap Aiden merasa bersalah. Hazel hanya tersenyum tipis.
Mia melihat Hazel dan Aiden dari kejauhan dan terkejut dengan tangan mereka yang saling bertautan. Mia menatap tajam ke arah Hazel meminta penjelasan. Hazel menggeleng pelan untuk tidak menanyakannya saat ini. Namun, Jack tidak mengerti kode yang dilakukan antara Hazel dan Mia.
"Apa kalian sudah berkencan?" tanya Jack dengan polos.
"Selamat kalau memang benar. Aku berharap bisa bahagia juga sama Mia," ujar Jack membuat Mia tersipu malu.
"Jangan terlalu berharap, Kak. Aku belum bisa memastikan," ucap Hazel dengan tersenyum tipis. Mia langsung menarik tangan Hazel dan menjauh dari Aiden dan Jack.
"Kenapa kamu bilang seperti itu sama Kak Aiden?" tanya Mia dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
"Aku nggak yakin akan bisa bebas dari si Tua Bangka, Mia." Hazel berbicara dengan serius.
"Cobalah berbicara dengan baik-baik sama si Tua Bangka, El. Kamu harus bisa lepas darinya. Mungkin awalnya terlihat biasa, tapi mau sampai kapan kamu seperti itu?" Mia membuat Hazel berpikir.
"Apa yang harus aku lakukan?" Hazel terlihat frustasi.
"Berusaha, Beb. Kamu pasti bisa meyakinkan si Tua Bangka. Aku akan dukung kamu," ucap Mia sambil menepuk bahu Hazel.
"Dulu waktu aku minta pendapat soal daddy, kamu juga bilang akan mendukungnya." Hazel sedikit tersenyum mengingat ucapan Mia dulu.
"Aku akan dukung apapun yang terbaik buat kamu, El. Aku mau kamu bahagia," ucap Mia dengan tulus. Hazel teringat kenyataan bahwa Mia adalah anak dari daddy yang dia maksud.
"Aku akan mencoba lepas dari daddy, Mi." Hazel sangat berniat.
"Apa udah selesai rapatnya?" tanya Aiden sambil menatap Hazel dan Mia satu per satu.
"Kasih aku waktu satu minggu untuk bicara sama daddy, Kak," ucap Hazel, tiba-tiba.
__ADS_1
"Berapa lama pun waktunya, aku akan tunggu," ujar Aiden menatap serius ke arah Hazel. Ada perasaan nyaman dan aman saat Aiden mengatakan hal itu.