Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Kembali Luluh


__ADS_3

Hazel bertanya tentang alasan mereka saling kesal dan marah karena kelakuan masing-masing. Hazel kesal karena melihat Gavin berciuman dengan istrinya, sedangkan Gavin kesal karena melihat Hazel tersenyum bersama laki-laki lain. Hazel dan Gavin sama-sama kesal dan menumpahkannya dengan saling marah satu sama lain. Membuat Hazel berpikiran aneh dan pergi meninggalkan Gavin.


"Kita sama-sama cemburu, Sayank. Makanya ayo pulang dan jangan ngambek lagi." Gavin meminta Hazel untuk kembali.


"Aku nggak cemburu," ujar Hazel, tidak mengakui perasaannya sendiri.


"Oke, aku minta maaf karena buat kamu kesal. Tapi itu bukan kesalahanku kalau ternyata kamu lihat semua itu." Gavin terus mencoba membujuk Hazel untuk kembali bersamanya.


"Memang nasibku melihat kamu berciuman dengan istrimu. Mungkin, aku yang berlebihan memikirkan semua itu. Seharusnya aku tidak peduli." Hazel memalingkan wajahnya dan tidak ingin larut dalam tatapan tajam Gavin.


"Ayolah, Sayank, jangan cemburu begitu. Aku berciuman dengan Lily juga sambil memikirkan kamu." Gavin mencoba meluluhkan hati Hazel.


"Tidak usah bohong, Gavin. Aku tahu bagaimana perasaan kamu pada istrimu. Meskipun kamu bersamaku, tapi kamu juga masih cinta sama dia."


Gavin mendorong tubuh Hazel dan menguncinya di bawah kungkungannya. Hazel memberontak tetapi tenaganya habis terkuras oleh permainan tadi. Gavin tersenyum lalu menciumi pipi Hazel dengan lembut. Hazel menatap tajam Gavin yang berada di atas tubuhnya.


"Jangan paksa aku. Kalau aku ingin pulang, aku pasti akan pulang," ucap Hazel dengan serius.


"Aku nggak bisa pulang tanpa kamu, Sayank. Kalau kamu tidak pulang, aku juga akan di sini bersamamu." Gavin mencoba mengancam Hazel dengan ucapannya dan permintaannya.


"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Biarkan aku sendiri dulu." Hazel sangat ingin menata kembali pikiran dan perasaannya. Jika ada Gavin di sisinya, pikiran Hazel tidak akan bisa dinetralkan karena Gavin sangat berpengaruh sekarang.


"Aku tidak akan kembali. Biarkan aku menumpang di sini." Gavin terus bersikap keras kepala.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku akan tidur dan jangan ganggu aku." Hazel langsung memunggungi Gavin dan tidak menghiraukan jika dirinya masih tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Gavin menyelimuti Hazel lalu mencium belakang kepala Hazel dengan lembut.


"Selamat tidur, Sayank. I love you." Gavin membisikkan kata-kata cintanya untuk Hazel.


.


.


.


Hazel membuka matanya di pagi hari saat merasakan silau di matanya karena sinar yang terang dari luar jendela kamarnya. Hazel memicingkan matanya dan tidak melihat Gavin di sampingnya. Hazel melihat ke arah kamar mandi dan kosong. Gavin sudah pergi lagi dari sisinya. Hazel menghela nafas dalam. Hazel beranjak dari tempat tidur dan menemukan makanan di atas meja beserta secarik kertas dengan beberapa tulisan kalimat.


Gavin telah menyiapkan semuanya untuk Hazel. Sarapan, air panas di bathtub kamar mandi dengan beberapa kelopak mawar di atasnya, serta meninggalkan beberapa pakaian untuk Hazel gunakan hari ini. Hazel merasa tersanjung dengan perlakuan Gavin. Dia tidak bisa tidak jatuh cinta dengan Gavin karena perlakuan manis yang selalu Gavin berikan padanya. Hazel mungkin akan disebut sebagai wanita yang tidak tahu diri dan serakah. Namun, untuk saat ini Hazel ingin tidak memperdulikan hal itu.


Hazel segera mengambil gawainya dan menekan nomor telepom Gavin. Dia masuk ke dalam bathtub yang telah disediakan Gavin untuknya dengan suhu yang pas. Hazel menghubungi Gavin, tetapi belum tersambung. Dia terus mencobanya sampai teleponnya diangkat oleh Gavin.


"Oh, sorry, Gavin sedang di kamar mandi. Apa ada yang penting yang perlu saya sampaikan ke Gavin, nanti?" Hazel sedikit terkejut karena yang berbicara di telepon dengannya adalah Lily, sang istri.


"Tidak ada, minta tolong Gavin untuk menghubungi saya kembali. Terima kasih," ucap Hazel lalu segera mematikan teleponnya dan membuangnya ke lantai.


Gavin keluar dari kamar mandi dan melihat ponselnya sedang dipegang oleh Lily. Gavin tidak pernah merasa takut jika dirinya ketahuan oleh Lily karena dia tahu istrinya telah mengetahui perbuatannya hanya saja tidak tahu dengan siapa dia berbuat. Gavin meminta ponselnya dari tangan Lily dan bersikap biasa saja di depannya.


"Lynn itu siapa? Dia tadi telepon dan minta kamu telepon balik." Lily berbicara dengan santai pada Gavin.

__ADS_1


"Klien untuk pengembangan apartemen. Dia yang akan kerja sama denganku. Terima kasih sudah mengangkat telponnya untukku, Sayank. Karena jika tidak diangkat, dia mungkin berpikir buruk tentang kinerjaku." Gavin mencium kening Lily lalu tersenyum.


"Aku pikir aku salah telah mengangkat telepon itu?" Lily merasa tidak enak hati sendiri karena Gavin bersikap seperti itu.


"Tidak apa. Nanti biar aku telepon balik." Gavin bersiap untuk pergi ke kantor dan mencium kening Lily lagi lalu berpamitan.


Gavin segera menelepon Hazel saat sudah di dalam mobil. Beberapa kali Gavin mencoba menelepon Hazel, tetapi belum tersambung juga. Mobil Gavin hampir sampai di perusahaan miliknya dan Gavin mencoba menelepon Hazel lagi. Kali ini tersambung dan Hazel mengangkatnya.


"Kenapa baru angkat telepon aku?" tanya Gavin dengan sedikit cemas, "Apa kamu baik-baik aja?" Gavin bertanya lagi untuk memastikan.


"Aku baik-baik aja. Aku ada di depan kantor kamu." Hazel mengatakan sesuatu yang membuat Gavin terkejut.


"Kamu di depan kantor? Pergilah ke parkiran basement sekarang juga, aku menunggu di mobil." Gavin segera meminta sang sopir untuk menunggu di luar dan membiarkan Hazel masuk jika telah datang.


Hazel berjalan menuju basement gedung perusahaan milik Gavin. Hazel mengetahui mobil mana yang dipakai oleh Gavin. Hazel tersenyum tipis lalu mengetuk pintu kaca mobil dan Gavin membukakan pintu mobilnya untuk Hazel. Sang sopir berjalan sedikit menjauh untuk memberikan privasi pada bosnya. Hazel sudah duduk di dalam mobil Gavin dan tersenyum manis pada Gavin.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Gavin tidak percaya saat melihat Hazel di hadapannya.


"Aku telepon kamu tapi yang angkat istri kamu. Aku pikir akan bertemu denganmu jika aku ke sini." Hazel berkata dengan sedikit malu.


"Apa ada hal yang penting? Kamu bisa memintaku menjemput kamu, Sayank. Kamu tahu aku akan selalu ada untuk kamu." Gavin mengusap lembut rambut Hazel.


"Tidak ada hal penting, hanya saja aku ingin segera bertemu denganmu," ucap Hazel sambil mengerling pada Gavin.

__ADS_1


Hazel mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Gavin dan mencium bibirnya dengan lembut. Hazel beranjak naik ke atas pangkuan Gavin dan mencoba menambah ritme ciumannya. Gavin tersenyum melihat kelakuan Hazel padanya. Gavin tidak membiarkan kedua tangannya menganggur dan mulai meremas gunung kembar seksi milik Hazel.


"Aku tidak mau kamu pergi lagi, Sayank." Gavin semakin intens mencium bibir Hazel.


__ADS_2