
Hazel menikmati setiap sentuhan Gavin dan permainan Gavin di dalam tubuhnya. Hazel tidak pernah menolak karena memang Hazel selalu merasa ketagihan dengan itu. Hazel sedikit jijik dengan dirinya sendiri yang tidak lain dari seorang wanita penghibur. Awalnya Hazel menerima Gavin hanya untuk memperbaiki kehidupan dan ekonominya saja. Namun, semua yang Mia katakan ada benarnya. Hazel harus siap dengan segalanya.
Gavin menuntaskan permainannya dan menekan dalam miliknya saat dirinya melepaskan cairan kenikmatan miliknya. Hazel selalu diberi obat dari dokter untuk menekan kesuburannya. Gavin tidak ingin melakukan hubungan menggunakan alat kontrasepsi. Gavin sendiri juga selalu ke dokter untuk memeriksakan kesehatan alat kelaminnya.
Gavin membersihkan tubuh Hazel dan memakaikan handuk kimono lalu mengangkat tubuh Hazel dan direbahkan ke atas ranjang. Gavin mencium bibir Hazel sekilas, lalu mencium keningnya. Gavin mengusap lembut pipi Hazel dan tersenyum.
"Makasih, Beb. Istirahatlah, aku akan ke kantor dulu," ujar Gavin sambil beranjak. Hazel hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Gavin menyelimuti Hazel tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Hazel mencoba memejamkan matanya dan tidak menghiraukan Gavin yang pergi dari apartemennya. Hazel terlelap setelah lelah melayani Gavin dan lelah karena pikirannya sendiri.
.
.
Malam telah tiba dan Hazel baru saja terbangun dari tidurnya. Apartemennya masih gelap karena lampu-lampu belum dia nyalakan. Hazel beranjak dari tempat tidurnya dan langsung ke kamar mandi. Dia nyalakan shower air hangat dan membersihkan badannya di bawah guyuran air shower.
Hazel memakai pakaian santai celana jins panjang dan kaos ditambah hoodie di luarnya, setelah selesai mandi. Hazel membawa beberapa pakaian yang muat di tas ranselnya. Dia juga membawa uang tunai yang ada di dalam brangkas miliknya. Dia tidak ingin saat dia menggunakan kartu yang diberikan Gavin, dia akan ketahuan di mana berada.
Hazel keluar apartemen tanpa menyalakan lampunya. Semuanya tetap gelap seperti hatinya saat ini. Hazel memakai hoodienya untuk menutupi rambutnya. Hazel menggendong tas ransel berisi sedikit pakaiannya dan keluar gedung apartemen dengan santai. Hazel ingin menjauh dari Gavin untuk sementara waktu. Hazel pergi dari apartemen menuju tempat yang belum dia pikirkan.
Hazel terus berjalan dengan santai menikmati udara malam di kota New York. Sudah lama dia tidak jalan kaki seperti saat ini. Hazel tersenyum mengingat hidupnya beberapa minggu ini. Terasa begitu indah dan seperti mimpi. Namun, nyatanya dia hanya sebuah boneka tanpa masa depan yang jelas.
Gavin pulang dari perusahaannya langsung menuju apartemen Hazel. Gavin selalu teringat senyuman Hazel saat sedang berada di bawah kungkungannya dan suara ******* lembut dari mulutnya. Gavin langsung bergairah memikirkan semua itu. Sesampainya di unit apartemen Hazel, Gavin mencari keberadaan kekasihnya itu karena lampu unitnya belum menyala padahal hari sudah malam.
__ADS_1
Gavin menyalakan lampu dan tidak melihat Hazel di manapun. Gavin mencarinya di seluruh ruangan yang ada di apartemen tersebut. Gavin tidak menemukan Hazel. Gavin mencoba menghubungi Hazel, tetapi tidak tersambung dan dengan kencang Gavin membanting gawainya hingga pecah. Gavin merasa ditinggalkan oleh Hazel.
"Di mana kamu berada, Lynn? Jangan harap kamu akan bisa lari dariku." Gavin sangat kesal dengan menghilangnya Hazel.
.
.
.
Hazel terbangun di sebuah tempat penginapan yang jauh dari pusat kota New York. Hazel mencoba pergi sejauh mungkin dari sisi Gavin. Dia ingin mencoba bagaimana hidup tanpa Gavin lagi. Hazel tidak ingin terus bergantung pada Gavin meskipun dirinya sudah dipilih oleh Gavin. Hazel meregangkan tubuhnya dan mencoba membuka jendela kamar penginapannya. Dia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit yang cerah pagi ini.
"Aku rindu kamarku," ucap Hazel sambil merentangkan tangannya dan menikmati udara pagi hari.
Hazel mengenakan pakaian yang sedikit terbuka dengan atasan tanktop di atas pusar dan celana pendek yang tidak menutupi pahanya. Siapa saja yang melihatnya pasti akan menelah salivanya. Hazel tidak peduli dengan itu karena dia nyaman menggunakannya.
"Hei, Nona," sapa seseorang di balkon samping kamarnya. Hazel menoleh dan mendapati ada seorang laki-laki tampan sedang berdiri di balkon kamarnya.
"Ada apa?" tanya Hazel dengan santai.
"Apa Anda tidak merasa dingin atau risih berpakaian seperti itu? Lihatlah, banyak sekali orang yang melihat ke arah, Anda." Pria itu berbicara sambil menunjuk ke sekelilingnya. Hazel mengikuti arah yang ditunjukkan pria tersebut.
"Bukan urusan, Anda," ucap Hazel dengan kesal setelah melihat apa yang dikatakannya benar. Namun, Hazel memang bukan orang yang peduli dengan hal di sekitarnya. Jika dia merasa nyaman, dia akan tetap melakukannya atau pun memakainya.
__ADS_1
Hazel masuk ke kamarnya setelah puas menikmati udara pagi. Hazel masuk ke kamar mandi dan teringat Gavin. Tidak dipungkiri jika setiap permainan Gavin pada tubuhnya, Hazel selalu merasakan kenikmatan dan juga ketagihan. Hazel merindukan sentuhan Gavin meskipun itu baru satu hari dia tidak bersamanya. Hazel menyiram kepalanya dengan air dingin dan mencoba membuang bayangan Gavin.
Di tempat lain, Gavin sedang mengamuk karena belum menemukan Hazel. Gavin sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Hazel. Belum genap satu hari penuh dia kehilangan seorang Hazel. Namun, rasanya semua kegiatan dan harinya terasa kacau. Gavin sangat menginginkan Hazel.
"Di mana kamu, Lynn. Cewek Nakal. Kamu membuat aku gila!" teriak Gavin di dalam kantornya.
Gavin sudah menanyakan secara tidak langsung pada Mia, anaknya. Dia harus menahan ekspresinya saat bertanya pada Mia supaya tidak dicurigai. Namun, Mia berkata belum berbicara dengan Hazel dan belum bertemu dengan Hazel lagi. Gavin menyugar rambutnya dengan frustasi. Bagaimana bisa Hazel pergi meninggalkannya?
.
.
Hazel merasa kesepian seharian berada di dalam kamar penginapannya. Hazel belum menyalakan ponselnya sejak dia pergi dari apartemen. Hazel tidak banyak melakukan kegiatan di dalam kamarnya, hanya makan dan tidur saja. Jika bosan, dia akan menonton TV atau keluar balkon untuk sekedar melihat langit. Hazel ingin kembali, tetapi dia masih kesal dengan Gavin.
Hazel menyalakan ponselnya dan melihat banyak panggilan dan pesan dari Gavin. Ada juga pesan dari Mia dan panggilan beberapa kali. Hazel tersenyum tipis melihat betapa Gavin berusaha mencarinya. Hazel mencoba menghubungi Mia dan langsung diangkat olehnya.
"Ya ampun, Hazel, kamu ke mana aja?" tanya Mia saat panggilannya sudah tersambung.
"Menenangkan diri," jawab Hazel dengan singkat.
"Apa kamu ada masalah sama daddy kamu?" tanya Mia menebak.
"Begitulah, aku merasa seperti dimanfaatkan aja," ujar Hazel jujur kepada Mia.
__ADS_1
"Kamu udah memilih menjadi sugar baby, El. Seharusnya kamu tahu bagaimana ke depannya. Kamu nggak boleh memakai perasaan kamu di dalam hubungan itu. Karena memang nyatanya kamu hanya sebagai orang yang mengisi kekosongan si sugar daddy itu." Mia menekankan setiap perkataannya dan membuat Hazel sedikit tersentil.
"Mungkin aku salah sudah menggunakan perasaanku, Mia."