
Hazel merasa lebih baik setelah mengobrol dengan Mia. Semua perkataan Mia ada benarnya juga. Hazel sudah diperingatkan oleh Mia sebelum menjadi seorang sugar baby. Hazel jatuh terlalu dalam dan menggunakan perasaannya. Hazel ingin tidak menghiraukan apa yang dilakukan Gavin dengan istrinya, tetapi perasaannya berkata lain. Hazel harus menata kembali perasaannya supaya tidak dia pakai kepada Gavin.
Ponsel Hazel berdering dan menampilkan nama Gavin di layar ponselnya. Hazel tidak ingin menjawab panggilan dari Gavin dan berkali-kali juga Gavin menghubungi Hazel dan mengirim pesan tertulis maupun pesan suara. Gavin terdengar putus asa saat menanyakan di mana Hazel berada. Hazel sedikit tersentuh dengan kekhawatiran Gavin padanya.
Hazel ingin menjawab panggilan telepon Gavin, tetapi di satu sisi dia juga masih kesal dan ingin menenangkan diri. Hazel mencoba membiarkan ponselnya di dalam kamar dan dia keluar kamar tanpa membawa ponselnya. Hazel pergi berjalan-jalan di kota Levittown, 25 mil dari Kota Manhattan. Hazel tidak mengenal daerah di sana dan hanya ingin berjalan-jalan di sekitar penginapannya.
Hazel berjalan sekitar 15 menit dan ingin menikmati secangkir kopi di kafe yang dia temukan. Hazel masuk ke dalam kafe dan memesan espresso untuk dirinya. Hazel melihat ke sekelilingnya dan merasakan kesepian yang teramat sangat karena dia sendirian di sana. Hazel menarik napas dalam dan menyingkirkan perasaan itu.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya sebuah suara berat yang berasal dari seorang laki-laki.
"Cari saja tempat lain," jawab Hazel dengan cuek.
"Hei, Nona, kita bertetangga di penginapan. Apa Anda tidak ingat siapa saya?" Laki-laki dari penginapan Hazel yang menegurnya tadi pagi, sekarang ada di hadapannya.
"Maaf, saya tidak kenal Anda," ucap Hazel sedikit ketus.
"Kalau begitu perkenalkan, nama saya Adrian. Saya baru pindah ke kota ini dan masih mencari tempat tinggal untuk menetap." Laki-laki bernama Adrian itu mengenalkan dirinya.
"Maaf, saya tidak peduli." Hazel ingin beranjak, tetapi dia tidak tahu hendak ke mana. Akhirnya dia memilih untuk menerima Adrian duduk satu meja bersamanya.
"Siapa nama Anda, Nona?" tanya Adrian dengan sopan.
"Hazel," jawab Hazel singkat.
"Nama yang cantik, secantik pemiliknya." Adrian mencoba merayu Hazel.
"Jangan menggombal denganku, itu tidak akan mempan." Hazel bersungut kesal karena kelakuan Adrian.
__ADS_1
"Aku hanya bicara fakta," ujar Adrian sambil mengedikkan bahunya.
Pesanan Hazel datang dan Adrian juga memesan pesanan yang sama dengan Hazel. Adrian menatap Hazel saat sedang menikmati secangkir espresso miliknya. Hazel melirik ke arah Adrian lalu menatapnya tajam. Adrian langsung memalingkan tatapannya sambil tersenyum.
"Kenapa kamu pindah ke sini?" tanya Hazel mencoba mencari topik pembicaraan.
"Katanya tadi nggak peduli," sindir Adrian sambil senyum-senyum.
"Ya udah nggak usah dijawab." Hazel menikmati lagi espressonya dengan perlahan dan mencium aroma kopinya.
"Aku dipindahtugaskan di sini. Kamu kenapa ada di sini?" tanya Adrian.
"Jalan-jalan aja," jawab Hazel dengan santai.
"Mau aku temani jalan-jalan? Aku sudah sedikit mengenal daerah di sini." Adrian menawarkan diri untuk menjadi tourguide Hazel.
"Apa kamu tahu jalan ke penginapan?" Adrian bertanya dengan serius.
"Sepertinya tahu, kita lihat aja nanti."
Hazel beranjak setelah kopinya habis dan membayar. Hazel berjalan keluar kafe, lalu bingung ke arah mana dia harus berjalan. Hazel merasa tidak pergi sejauh itu dari penginapannya, kenapa dia tidak ingat jalan pulang. Hazel melihat ke sekelilingnya dan merasa pusing karena banyaknya orang. Adrian tersenyum melihat Hazel yang sedang kebingungan.
"Ayo, aku juga mau pulang ke penginapan. Rasanya lelah setelah seharian mencari tempat tinggal." Adrian berjalan mendahului Hazel. Adrian tahu jika Hazel sangat mengedepankan egonya sendiri. Dia tidak akan memaksa Hazel, tetapi dia tetap menunggu Hazel mengikutinya.
"Sorry, kalau aku sedikit jutek," ujar Hazel mensejajarkan langkahnya dengan Adrian.
"Tidak apa, mungkin kamu hanya menjaga jarak dengan siapa pun yang tidak kamu kenal," ucap Adrian sedikit benar dengan pemikiran Hazel.
__ADS_1
"Kamu bekerja di bidang apa?" Hazel mencoba mencairkan suasana. Dia mungkin terlalu kasar pada orang yang berusaha baik padanya.
"Jasa konstruksi. Aku bagian administrasi pekerjaan dan penawaran. Kamu sendiri?" Adrian sangat berhati-hati saat bertanya dengan Hazel. Dia tidak ingin menyinggungnya.
"Aku masih kuliah," jawab Hazel singkat.
Tidak ada lagi obrolan di antara Hazel dan Adrian. Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka sampai di depan penginapan. Hazel merasa lega karena akhirnya dia sampai di sana. Hazel berterima kasih pada Adrian dan berjalan mendahuluinya. Dia ingin segera masuk ke kamarnya dan beristirahat.
Sampai di dalam kamarnya, Hazel langsung membuka seluruh pakaian luarnya dan hanya memakai ********** saja. Hazel membuka ponselnya dan melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Gavin. Hazel membaca setiap pesan Gavin dan mendengarkan pesan suara darinya.
"Aku tidak akan meminta kamu pulang saat ini, tapi aku mohon kembalilah. I love you, Lynn."
Hazel merasakan sesak di dadanya setelah mendengar pesan suara terakhir dari Gavin. Dia ingin kembali, tetapi masih ragu karena dia tidak bisa menjaga perasaannya sendiri. Hazel ingin bersama Gavin, tetapi dia takut dengan perasaannya sendiri.
Hazel merebahkan tubuhnya dan membiarkan ponselnya berada di meja nakas. Hazel mencoba untuk tidur, tetapi bayangan Gavin terus menghantuinya. Hazel mencoba menyentuh tubuhnya sendiri dan rasa rindu sentuhan Gavin langsung menyelimutinya.
"Gavin, aku rindu kamu," ucap Hazel dan rasanya sampai ke telinga Gavin.
Saat ini Gavin sedang berada di depan penginapan Hazel. Bukan hal susah baginya untuk mencari keberadaan Hazel. Dia melihat semua yang terjadi sebelumnya. Hazel berjalan dengan seorang pria dan berlari masuk ke dalam penginapannya tanpa menunggu pri tersebut. Gavin tahu bagaimana sikap Hazel dengan orang asing apalagi seorang pria.
Gavin berjalan memasuki penginapan tersebut dan berdiri tepat di depan kamar Hazel. Dia ingin mengetuk pintu di depannya, tetapi masih ragu jika Hazel akan menerimanya. Gavin takut Hazel akan pergi lebih jauh lagi jika dia terlalu menekannya. Gavin tetap berdiri di depan pintu Hazel sampai dia mendengar suara Hazel berteriak dari dalam. Gavin mengetuk pintu kamar Hazel berkali-kali dan berharap Hazel akan membukanya sebelum dia mendobrak pintu itu.
"Lynn, bukan pintunya!" teriak Gavin sambil terus mengetuk pintu kamar Hazel.
Di dalam kamar, Hazel sedang tertidur dan bermimpi buruk sehingga dirinya berteriak dan terbangun. Hazel mendengar ketukan pintu dan mendengar suara Gavin di luar. Hazel segera memakai jubah tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Gavin, bagaimana kamu ...." Belum selesai Hazel bertanya, Gavin langsung memeluk Hazel dan mendekapnya dengan erat.
__ADS_1