
Lily mencoba menelepon kontak bernama Lynn di ponsel milik Gavin. Saat Lily yang meneleponnya, sambungan telepon diangkat oleh pemiliknya. Lily segera bertanya apakah benar itu Lynn yang dia hubungi. Namun, sambungan teleponnya langsung diputus oleh perempuan bernama Lynn itu. Gavin melihat ponselnya dipegang oleh Lily dan langsung mendekatinya.
"Ada apa dengan HPku?" tanya Gavin sambil mengambil ponselnya di tangan Lily.
"Nggak ada apa-apa. Tadi ada telepon dari Lynn," ucap Lily tanpa merasa tertekan.
"Biar saja, nanti kalau butuh juga pasti akan telepon lagi." Gavin menjawab dengan santai juga.
"Apa dia perempuan yang membuat kamu sering tidak pulang ke rumah? Apa dia secantik itu sampai kamu menjadikannya kekasih?" Lily terus bertanya tentang apa yang dipikirkannya.
"Dia hanya rekan kerja saja di kantor. Kamu tidak usah berpikiran macam-macam," ucap Gavin dengan tenang.
"Rekan kerja seperti apa yang memanggil kamu dengan sebutan daddy? Apa dia masih muda seperti Mia? Kamu mengencani teman Mia?" Lily terus memojokkan Gavin.
"Tenanglah, Sayank. Jangan sampai kamu drop. Kita di sini untuk berobat dan aku ingin kamu segera pulih seperti dulu." Gavin mencoba mengalihkan pikiran Lily.
"Aku menanggung sakit ini karena kesalahanku dulu. Tapi kenapa kamu juga memberi aku pelajaran seperti itu, Gavin. Apa dengan sakitku sekarang, semua salahku tidak bisa kamu lupakan?" Lily menutupi wajahnya dan menangis di hadapan Gavin.
"Aku tidak ingin membahas masa lalu kamu, Lily. Aku berusaha tetap menjadi suami kamu dan ayah untuk Mia. Jangan minta hal yang lebih dari itu. Kamu sendiri yang membuat aku mati rasa padamu." Gavin berbicara dengan nada rendah.
"Aku sudah menjalani hukumanku selama ini, Gavin. Apa masih tidak cukup untuk kamu?" Lily mengusap air matanya dan mendekat ke arah Gavin. Lily berusaha mencium bibir Gavin dan memainkan jarinya di area kejantanan Gavin.
"Cukup, Lily. Bagaimana pun kamu berusaha, aku tidak akan bisa melakukannya lagi denganmu." Gavin mendorong pelan Lily, lalu pergi keluar dari kamar hotel.
.
.
Hazel mencoba menghindar bertemu dengan Aiden di sekitar kampus. Dia tidak ingin melakukan kesalahan lagi seperti kemarin dan dia sudah terlalu terobsesi dengan Aiden sampai bisa membayangkan Aiden menyentuh dirinya saat dia berendam dan membuatnya basah. Hazel segera membuang pikiran itu dari kepalanya.
"Kamu kenapa, El?" tanya Mia yang bingung melihat Hazel menggeleng cepat.
"Ah ... nggak pa-pa, Mia. Aku hanya sedikit kepikiran sesuatu." Hazel menjawab sambil tersenyum kaku.
__ADS_1
"Apa semalam kamu tidak pulang dan bermalam bersama Kak Aiden?" tanya Mia lagi menyelidik.
"Aku pulang, Mia, diantar oleh Kak Aiden. Sebelum pulang kita nonton di apartemen Kak Aiden." Hazel tidak bisa menutupi apapun dari sahabatnya itu.
"Apa yang terjadi?" Mia bertanya sambil tersenyum aneh.
"Kita berciuman dan hendak melakukan itu ...." Hazel tidak meneruskan kata-katanya karena melihat Aiden sedang menghampirinya. Hazel segera berjalan menarik tangan Mia untuk pergi dari kejaran Aiden.
"Hazel, tunggu!" teriak Aiden dan membuat Mia berhenti, tetapi Hazel tetap berjalan menjauh.
Aiden sedikit berlari dan berhasil menangkap tangan Hazel untuk menghentikan langkahnya. Hazel berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman Aiden sangat erat. Aiden meminta Hazel berhenti memberontak dan akhirnya Hazel mendengarkannya.
"Please ... jangan mencoba menjauh dari aku." Aiden berbicara dengan serius.
"Aku nggak menjauh, Kak. Aku ... aku harus ke kelas," ucap Hazel tidak tahu harus berbicara apa.
"Aku tahu jadwal kamu, Sayank," ujar Aiden tepat di telinga Hazel. Membuat Hazel menutup matanya dan menggigit bibirnya.
"Aku mau pulang sama Mia, Kak." Hazel memberi kode pada Mia yang berdiri tidak jauh darinya.
"Oke, Kak. Aku pulang dulu, El." Mia melambaikan tangannya dengan tersenyum pada Hazel.
"Kak, aku mau pulang," ucap Hazel sambil terus melepaskan genggaman tangan Aiden di pergelangan tangannya.
"Ayo aku antar." Aiden merangkul pinggang Hazel dengan agresif, seakan dia sedang memberitahu dunia bahwa Hazel adalah miliknya.
"Kak, lepasin aku. Jangan seperti ini." Hazel ingin menghindar, tetapi Aiden tidak mengijinkannya.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, El. Aku tidak menyesal sedikit pun sudah menyatakan perasaanku padamu. Meskipun aku tahu kamu menghindar dari aku." Aiden memghentikan langkahnya dan menatap wajah Hazel. "Aku serius sama kamu, El."
"Aku nggak bisa, Kak. Aku udah punya pacar," ucap Hazel dengan tegas.
"Aku tidak percaya itu, El. Kamu tidak pernah terlihat pergi dengan seorang pria kecuali aku dan Mia." Aiden sangat percaya diri dengan semua itu.
__ADS_1
"Daddy aku tidak akan mengijinkan aku berpacaran, Kak." Hazel memakai jurus terakhirnya.
"Aku akan menghadapi daddy kamu, El." Aiden sangat serius saat mengatakan hal itu. Hazel tidak bisa berkata-kata.
Aiden menarik tangan Hazel dan membawanya ke dalam mobil miliknya. Aiden mengajak Hazel mampir ke apartemen miliknya dan tidak ada penolakan dari Hazel. Aiden tersenyum melihat wajah tegang Hazel, lalu mendekat untuk mencium pipinya.
"Kak ...." Hazel sedikit terkejut dengan perlakuan Aiden padanya.
"Aku hanya tidak ingin membuang waktuku, El. Sebentar lagi aku selesai kuliah dan kita akan jarang bertemu." Aiden berkata dengan sedikit sendu.
"Kita masih bisa bertemu, Kak," ucap Hazel menenangkan Aiden. Dia tidak tahu begitu besar perasaan Aiden padanya.
"Apa daddy kamu akan mengijinkan?" Aiden membalikkan perkataan Hazel sebelumnya.
"Tergantung ...," ucap Hazel tersenyum canggung.
Ponsel Hazel berbunyi saat Aiden beranjak ke dapur untuk mengambil minuman. Hazel mengangkat panggilan telepon dari Gavin di balkon apartemen Aiden. Hazel sedang tidak ingin berdebat dengan Gavin, tetapi dia juga sedikit merindukannya.
"Hai, Sayank. Bagaimana harimu?" tanya Gavin setelah tersambung.
"Biasa aja, kuliah, pulang atau pergi ke bar bareng Mia." Hazel menjawab dengan santai.
"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Gavin memancing.
"Tidak, aku ingin marah tapi sudahlah. Aku malas harus marah-marah terus. Istri kamu meneleponku dan aku sempat mengangkatnya karena itu nomor kamu."
"Sorry, Sayank. Aku tidak tahu kalau dia berani melakukan itu." Gavin merasa bersalah, tetapi juga tidak takut jika ketahuan.
Aiden melihat Hazel di balkon dan memeluk pinggangnya dari belakang. Hazel sangat terkejut sampai sedikit berteriak dan membuat Gavin bertanya-tanya. Hazel segera mematikan sambungan teleponnya tanpa takut dengan konsekuensinya nanti. Hazel tidak ingin jika Gavin tahu dia sedang berada di apartemen seorang pria.
"Siapa yang telepon?" tanya Aiden dengan berani.
"Daddy, tanya aku sedang di mana." Hazel menjawabnya santai.
__ADS_1
"Jawab saja sedang bersama kekasihmu, El." Aiden menciumi leher Hazel dan membuatnya menggigit bibirnya. "Mau kita lanjutkan yang kemarin?"