Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Kerja Rasa Liburan


__ADS_3

Hazel dan Gavin sampai di Los Angeles setelah terbang selama tiga jam lebih menggunakan pesawat komersial. Hazel akan menikmati liburannya dan melupakan sejenak apa pun yang menjadi beban pikirannya. Dia akan menelepon Mia nanti untuk memberitahukan jika dia sedang di luar kota. Hazel akan bersikap seperti biasa pada Mia. Anggap saja, Hazel tidak tahu fakta yang menyebalkan itu.


"Apa yang kamu pikirkan, Beb?" tanya Gavin saat melihat Hazel terdiam sambil melamun.


"Nggak mikirin apa-apa. Hanya saja ingin melupakan apa yang terjadi kemarin. Anggap aja aku nggak mendengar apa pun." Hazel menghela nafas berat.


Saat ini Hazel dan Gavin sudah berada di dalam kamar hotel tempat mereka menginap. Hazel sedang duduk di depan meja rias sambil menatap wajahnya sendiri. Gavin memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Hazel tersenyum tipis.


"Apa pun kenyataannya, aku akan tetap sama kamu dan kamu tidak akan aku lepaskan." Gavin berkata dengan serius.


"Bagaimana perasaan Mia jika dia tahu semua ini?" Hazel menatap mata Gavin melalui cermin di depannya.


"Dia anak yang pengertian. Dia tidak akan menilai kamu tanpa mendengar penjelasanmu dulu." Gavin berkata seperti itu untuk menenangkan Hazel.


"Aku tahu bagaimana Mia. Dia memang anak yang baik dan selalu dukung aku. Semoga aja Mia nggak kecewa sama aku." Hazel berharap sekali.


Gavin membalikkan tubuh Hazel lalu mencium bibirnya dengan lembut. Hazel membalas ciuman Gavin dengan merangkulkan kedua tangannya di leher Gavin. Hazel menekan tengkuk Gavin untuk lebih dalam menciumnya.


"Sekarang, kamu udah tenang, kan?" tanya Gavin menatap mata Hazel setelah melepaskan bibirnya.


"Sedikit," ucap Hazel singkat. Gavin menggigit bibir Hazel karena jawaban singkatnya.


"Istirahatlah, aku akan mengerjakan sedikit pekerjaan." Gavin mencium bibir Hazel dengan singkat.


Gavin duduk di meja kerja yang tersedia di kamar hotel yang dia pesan, sedangkan Hazel merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hazel mencoba memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Namun, pikirannya melayang pada sahabatnya, Mia. Hazel beranjak lagi dari tempat tidurnya dan duduk di depan TV. Hazel mencoba menghubungi Mia untuk mengabari bahwa dirinya sedang di luar kota.


"Hai, ada apa?" tanya Mia saat panggilan Hazel sudah diterimanya.


"Aku mau bilang kalau aku lagi di luar kota ...." Hazel belum selesai bicara sudah dipotong oleh Mia.

__ADS_1


"Apa kamu sama daddy kamu? Senangnya tiap minggu ke luar kota," ujar Mia memotong kata-kata Hazel.


"Iya, ini aja tiba-tiba, Mi. Aku lagi pergi sama Kak Aiden dan dia kirim bodyguardnya untuk bawa aku ke mobilnya." Hazel menceritakan semuanya pada Mia.


"Kamu pergi berdua sama Kak Aiden? Kenapa nggak ngajak aku? Kamu gitu ya sekarang, lupa sama aku." Mia mencoba marah dengan Hazel karena tidak diajak pergi bersama Aiden.


"Kamu tahu sendiri bagaimana aku, Mia. Aku nggak mau kamu mencibirku karena mengajak cowok jalan duluan," ujar Hazel menjawab pertanyaan Mia.


"Apa kamu yang mengajak Kak Aiden dulu? Kok bisa, El? Apa kamu nggak takut daddy kamu marah?" Mia terus bertanya karena penasaran.


"Justru karena aku lagi marah sama Daddy, jadi aku ngajak Kak Aiden jalan. Aku salah sih manfaatin Kak Aiden," ujar Hazel merasa bersalah.


"Kamu tahu sendiri bagaimana Kak Aiden suka sama kamu, El." Mia mengingatkan Hazel.


"Iya, aku tahu, Mia. Tadi aja aku dan Kak Aiden ...." Hazel tidak meneruskan kata-katanya karena takut didengar oleh Gavin.


"Besok aku ceritakan langsung sama kamu." Hazel mematikan teleponnya dan dia merasa tenang saat bisa bercerita pada Mia dengan santai tanpa mengingat fakta yang ada.


"Telepon siapa?" tanya Gavin dengan suara beratnya. Mengagetkan Hazel yang masih setengah melamun.


"Telepon Mia. Ternyata bisa juga mengobrol dengannya tanpa mengingat fakta itu." Hazel tersenyum tipis.


"Kamu pantas jadi ibu tirinya, Beb," ujar Gavin sambil terkekeh geli.


"Dia akan malu punya ibu seperti aku." Hazel berlalu menuju tempat tidurnya.


Hazel merebahkan tubuhnya lalu mencoba menutup mata kembali. Namun, Gavin dengan cepat naik ke atas tubuh Hazel dan tersenyum jahil. Hazel tidak menghiraukan ulah Gavin karena dia masih tidak ingin bermain dengannya. Perlahan, Gavin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Hazel. Gavin mengecup singkat bibir Hazel dan menciumi seluruh wajah Hazel.


"Jangan memulai, Beb. Aku ingin istirahat," ucap Hazel masih dengan menutup matanya.

__ADS_1


"Sebentar aja, Beb. Aku mau main sama kamu walaupun tadi sempat marah-marah, tapi itu yang bikin aku jadi pengen main sama kamu, Beb." Gavin terus menciumi leher Hazel lalu turun menuju dua gunung kembar milik Hazel.


"Beb," panggil Hazel sambil menahan rintihannya karena permainan bibir Gavin.


"Aku tahu kamu akan suka permainanku, Beb. Jangan jual mahal jadi cewek." Gavin menarik pakaian Hazel sampai robek dan membuangnya ke sembarang arah. Gavin memainkan lidahnya di pusat sensitif milik Hazel.


"Beb, stop, hhmmm." Hazel mulai meracau karena permainan lidah Gavin.


Tangan Gavin membuka celana miliknya sendiri dan langsung memasukkan miliknya ke dalam milik Hazel. Dia masih banyak pekerjaan, tetapi hasratnya tidak bisa ditahan. Gavin menggoyang pinggulnya dengan cepat untuk mencapai kepuasan bersama. Hazel mencengkeram punggung Gavin dan keduanya berteriak saat mencapai puncak permainan.


"Makasih, Beby," ucap Gavin mencium bibir Hazel dengan lembut, "Maaf kalau permainan kilat. Aku masih banyak kerjaan." Gavin tersenyum sambil melepaskan miliknya dari tubuh Hazel.


"Aku seperti wanita panggilan saja," ujar Hazel sambil berdecih lirih.


"Jangan berpikiran macam-macam, Beb. Atau aku akan memasukimu lagi." Gavin memakai lagi celananya dan menyelimuti Hazel yang setengah telanjang. "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu kita akan jalan-jalan." Gavin mencium kening Hazel.


Gavin kembali ke meja kerjanya, sedangkan Hazel tertidur setelah permainannya. Hazel tidak memperotes kelakuan Gavin padanya, karena itu semua masih dibatas wajar. Hazel juga menikmatinya. Hazel tahu jika Gavin sangat peduli dan sayang padanya. Gavin tidak akan menyakitinya.


.


.


"Beb," panggil Hazel saat dirinya terbangun dan kamar hotelnya terlihat gelap.


Hazel beranjak dari ranjang dan menuju saklar lampu. Dia masih belum berpakaian dengan benar setelah permainan tadi. Lampu kamar menyala dan tidak terlihat Gavin di dalam kamar hotel itu. Hazel segera menghubungi nomor telepon Gavin dan ternyata ponselnya tertinggal di kamar hotel.


Hazel masuk ke dalam kamar mandi dan tidak menghiraukan ke mana Gavin pergi. Tidak ada pesan apa pun untuk Hazel dari Gavin. Sebenarnya Hazel sedikit kesal, tetapi dia akan menanyakannya nanti. Hazel menyelesaikan mandinya dan keluar kamar mandi lalu mendapati Gavin sudah berada di sana. Namun, wajahnya terlihat kacau.


"Ada apa, Beb?"

__ADS_1


__ADS_2