Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Masa Lalu


__ADS_3

"Pulanglah cepat, biar kita bisa bersiap ke bandara." Lily berkata dengan tenang meskipun perasaannya sedikit tidak tenang karena mendengar suara perempuan bersama Gavin.


"Aku akan segera pulang," ucap Gavin masih dengan sikap tenang, lalu mematikan teleponnya.


Hazel sedang menunggu Gavin selesai menelepon sambil berkacak pinggang di belakangnya. Gavin mendekati Hazel, lalu mencium paksa bibirnya. Hazel mendorong tubuh Gavin keluar pintu apartemen. Hazel melihat ke sekitar karena merasa was-was jika Mia sudah sampai di sana.


Hazel menunggu Mia menghubunginya dan akan segera turun menuju lantai bawah untuk menemui Mia. Hazel tidak tahu jika Mia sudah sampai di tempat parkir apartemennya dan melihat Gavin sedang masuk ke dalam mobil miliknya. Mia menatap lagi ke arah ayahnya dan Mia yakin jika itu adalah Gavin, sang ayah. Mia bertanya-tanya sedang apa dia di gedung apartemen milik Hazel.


Mia menghubungi Hazel, tetapi tidak tersambung. Dia langsung naik ke lantai di mana apartemen Hazel berada. Mia memencet bel pintu apartemen ketika sampai di depan milik Hazel. Mia menunggu beberapa saat sambil terus memencet belnya dan akhirnya Hazel membuka pintunya.


"Sorry, aku lagi di kamar mandi tadi." Hazel berkata dengan sedikit gugup karena takut ada barang Gavin yang tertinggal.


"Wah, ini apartemen lumayan mahal, El. Kamu memang nggak salah pilih daddy." Mia mengagumi apartemen milik Hazel dan seketika memiliki keinginan juga untuk memilikinya.


"Sesuai sama apa yang harus aku kerjakan, Mia. Kamu tahu sendiri, kan?" Hazel sedikit tidak enak hati jika harus terus memikirkan hal itu.


"Nggak pa-pa, Beb. Aku akan tetap dukung kamu dan jadi sahabat kamu bagaimana pun kamu," ucap Mia sambil tersenyum dan memeluk Hazel.


"Apa kalau kamu tahu bahwa daddy aku adalah daddy kamu, kita akan tetap bisa bersahabat?" Hazel berbicara dalam hati.


"El, kamu kenapa melamun?" tanya Mia menyadarkan Hazel.


"Tidak apa, Mia. Kita berangkat sekarang?" tanya Hazel sambil berpura-pura sibuk mempersiapkan diri.


"Ini 10 juta buat kamu. Aku nggak berhasil ajak Jack," ucap Mia sambil cemberut


"Apa aku bilang. Dia itu maskot di sana, makanya susah kalau mau ambil cuti." Hazel tersenyum senang karena menang taruhan dari Mia.

__ADS_1


"Kalau kita ingin ketemu, kita yang harus ke sana," ujar Mia dengan suara lemas.


"Kita ajak Kak Aiden ke sana." Hazel menggandeng tangan Mia dan berjalan keluar unit apartemennya.


"Apa Kak Aiden mau, El?" tanya Mia tidak yakin.


"Pasti mau, tenang aja." Hazel menghubungi Aiden dan memintanya ke bar tempat Hazel bekerja dulu.


Di rumah Gavin, dia sudah sampai dan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara bersama Lily. Mia sudah berpamitan dengan ibunya jika dia tidak bisa mengantarnya. Gavin terkejut saat Lily berdiri di belakangnya dan memeluknya dengan tiba-tiba. Gavin berbalik sambil memegangi tubuh Lily yang tidak kuat berdiri lama-lama.


"Apa aku masih tidak bisa menyentuh kamu?" tanya Lily dengan wajah sendu.


"Jangan mulai, Sayank." Gavin tidak mempedulikan ucapan Lily dan terus bersiap-siap.


"Mau sampai kapan kamu akan menghindar dari aku, Gavin? Sudah lima tahun aku berhenti dan kembali bersama kamu. Dua tahun kamu sudah nggak pernah menyentuh aku juga tidak mau aku sentuh, aku harus bagaimana?" Lily berbicara dengan sedikit tekanan.


"Aku hanya ingin kamu jaga kesehatan kamu, Ly. Kasihan Mia kalau kamu terus-terusan sakit dan lemah seperti itu. Dia masih sangat membutuhkan kamu." Gavin berbicara sambil menatap wajah Lily.


"Apa dulu kamu memikirkan perasaanku?" tanya Gavin dengan tenang.


"Sudah lima tahun berlalu, Gavin. Mau berapa lama lagi dan berapa wanita lagi yang akan kamu jadikan mainan? Aku tahu tadi kamu sedang bersama wanitamu, kan?" Lily menatap tajam ke arah Gavin.


"Aku tidak pernah menutupinya dari kamu," ucap Gavin dengan santai.


"Siapa wanita itu? Kenapa dia menyebut nama Mia?" Lily bertanya dengan histeris.


"Kamu salah dengar, Lily. Wanita itu tidak kenal dengan Mia. Apa aku pernah mengenalkan wanitaku pada anak kita? Seperti apa yang kamu lakukan dulu. Aku tidak pernah melakukannya, Lily." Gavin menyugar rambutnya dengan kasar dan membelakangi Lily.

__ADS_1


"Maaf, Gavin. Maafin aku." Lily hendak pergi keluar kamarnya dan ditahan oleh Gavin.


"Jangan pernah membahas hal itu lagi karena kita berdua sama-sama tahu dan sedang mencoba memulihkan keadaan. Kita bertahan karena Mia." Gavin berkata sambil memeluk Lily.


Di balik kelakuan Gavin yang menjadikan Hazel sebagai sugar babby-nya, ada luka yang dalam yang dibuat oleh sang istri. Mereka berdua sepakat akan bertahan, tetapi tidak mencampuri urusan masing-masing. Gavin berusaha melupakan kesalahan Lily, tetapi terkadang masih saja terasa sakit dan itu membekas sampai hari ini. Meskipun semua terlihat baik-baik saja, Gavin penuh dengan luka yang menganga.


Hazel dan Mia sampai di bar tempat Hazel bekerja dulu. Hazel sudah menghubungi Aiden untuk pergi ke sana juga. Hazel dan Mia masuk terlebih dahulu dan langsung menemui Jack di mejanya. Mia menyapa Jack dengan senyuman mengembang di wajahnya. Hazel hanya memutar bola matanya melihat tingkah sahabatnya.


"Hai, El, sorry aku telat." Aiden telah datang dan menyapa Hazel tepat di telinganya. Hazel merasa ada yang berdesir karena perbuatan Aiden. Telinga Hazel sangat sensitif jika didekati bibir.


"Nggak pa-pa, Kak," ucap Hazel saat kesadarannya kembali.


"Jack, siapkan minuman yang enak untuk kita bertiga," ujar Aiden dengan santai. Jack segera menjawab dengan anggukan dan acungan jempol.


"Jangan lupa punyaku yang biasa, Jack," ucap Hazel sambil tersenyum manis.


"Tidak, El. Kamu akan mabuk nanti." Jack tidak menyetujui permintaan Hazel.


"Ayolah, Jack. Aku hanya sesekali ke sini. Biarkan aku menikmatinya," pinta Hazel dengan terus memohon.


Akhirnya Jack membuatkan minuman yang biasa Hazel minum dengan kadar alkohol tinggi. Hazel adalah wanita yang kuat dengan alkohol karena pekerjaannya dulu. Dia tidak akan terlalu mabuk jika hanya meminum satu gelas saja.


Mia sudah larut mengobrol dengan Jack sambil membantu pekerjaan Jack malam ini. Hazel meminum minumannya dari gelas kedua. Dia ingin berdansa, tetapi dilarang oleh Mia. Hazel hanya duduk sambil mengobrol bersama Aiden di depan meja bar.


"Hari ini kamu cantik banget, El," ucap Aiden berbisik lagi di telinga Hazel. Tindakan itu membuat Hazel merinding dan merasakan suatu desiran aneh.


"Apa yang akan kamu lakukan akhir pekan ini?" tanya Aiden lagi dengan berbisik.

__ADS_1


"Tidak ada, Kak. Kenapa?" jawab Hazel dengan sedikit susah payah karena dirinya merasa panas dingin.


"Mau kencan bersamaku?" Aiden bertanya lagi tepat di telinga Hazel dan dengan sengaja Aiden meniupkan angin ke telinga Hazel.


__ADS_2