Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku

Menjadi Sugar Baby Ayah Sahabatku
Permainan Panas


__ADS_3

Hazel mengurai pelukan Gavin dan sedikit menjauhi Gavin. Hazel menatap tidak percaya jika Gavin berada di hadapannya. Gavin menatap intens wajah Hazel dan merasakan kerinduan yang teramat sangat. Hazel masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan Gavin di depan pintu tanpa menyuruhnya masuk. Gavin masuk ke kamar penginapan Hazel dan mengunci pintunya.


"Bagaimana bisa kamu menemukan aku?" tanya Hazel sambil memandang keluar jendela kamarnya.


"Aku akan selalu menemukan kamu di mana pun, Beb." Gavin berkata dengan serius.


"Ah, itu karena ponselku, 'kan?" Hazel akhirnya tahu bagaimana cara Gavin menemukannya. Ponsel yang dipakai Hazel sekarang adalah pemberian dari Gavin. Ponsel keluaran terbaru dari produk yang terkenal dengan logo apel.


"Kenapa kamu tadi berteriak, Sayank?" Gavin bertanya tentang apa yang didengarnya tadi.


"Dia datang karena teriakanku?" tanya Hazel dalam hati.


"Tidak apa-apa, hanya mimpi buruk saja," ucap Hazel dengan santai.


"Ayo pulang, Beb. Aku janji nggak akan buat kamu sedih lagi." Gavin mencoba merayu Hazel.


"Aku akan pulang atas kemauanku sendiri. Tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Hazel sambil kembali ke ranjang dan tidur memunggungi Gavin.


"Aku rindu sama kamu, Beb," ucap Gavin dengan lembut. Hazel memejamkan matanya untuk mencoba kuat dan tidak terpengaruh dengan ucapan Gavin.


"Pergilah, aku akan tidur lagi." Hazel tidak mempedulikan Gavin yang masih berada di dalam kamar penginapannya.


Gavin tidak peduli dengan perkataan Hazel yang mengusirnya pergi. Gavin mendekati ranjang Hazel dan berjongkok di samping tubuh Hazel. Gavin memainkan jarinya di sepanjang punggung Hazel berkali-kali. Hazel yang sedang berpura-pura tidur langsung merasakan sengatan dari sentuhan Gavin. Hazel mencoba bertahan tidak menghiraukan apa yang sedang Gavin lakukan padanya. Gavin terus memainkan jari-jarinya di sekitar punggung Hazel dan tengkuk lehernya.

__ADS_1


Hazel mencoba membalikkan tubuhnya dan terlentang di atas ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut sampai ke dada untuk membuat Gavin berhenti memainkan jarinya di punggungnya. Gavin tersenyum seringai melihat tingkah Hazel. Gavin beranjak dan naik ke atas tubuh Hazel dengan bertumpu pada kedua lututnya. Hazel terkejut dan membuka matanya melihat Gavin sudah berada di atasnya.


"Ngapain kamu?" tanya Hazel sambil menutup dadanya dengan selimut dan memegangnya dengan erat.


"Aku kangen sama kamu, Beb." Gavin berbicara sambil menarik selimut yang menutupi Hazel. Sekuat tenaga Hazel memegangi selimut itu supaya tidak diambil oleh Gavin.


"Pergilah, aku akan di sini dulu sampai aku tenang. Aku pasti akan kembali," ucap Hazel dengan tegas.


"Aku tidak akan pergi sebelum melepas rasa kangenku sama kamu, Beb." Gavin menarik keras selimut Hazel dan akhirnya mendapatkannya. Gavin membuang selimut itu ke lantai dan menahan tubuhnya untuk mendekat ke tubuh Hazel.


"Apa yang kamu lakukan?" seru Hazel sambil melotot ke arah Gavin.


"Aku tahu kalau kamu juga kangen sama aku, Beb." Gavin berbicara sambil mendekatkan wajahnya ke arah Hazel. Dengan cepat Gavin mencium bibir Hazel dan menggigitnya dengan lembut.


"Hhmmm." Hazel mencoba mengeluarkan suaranya tetapi ditahan oleh ciuman Gavin.


Bibir Gavin turun menciumi leher jenjang milik Hazel dan memberikan tanda merah kepemilikan di sana. Hazel mencoba membebaskan diri dari kungkungan Gavin. Namun, usahanya sia-sia karena tubuhnya bertolak belakang dengan otaknya saat ini. Gavin tersenyum seringai melihat kegelisahan Hazel.


"Ayolah, Sayank. Nggak usah jual mahal begitu. Aku tahu kamu juga menginginkannya." Gavin terus menggoda Hazel dengan jari-jari tangannya yang terus meremas gundukan padat milik Hazel.


"Sialan kau Tua Bangka!" seru Hazel sambil terengag karena merasa terangsang. Gavin terkekeh melihat tingkah Hazel.


Gavin mencium lagi bibir Hazel dengan lembut dan kali ini Hazel membalasnya juga dengan menuntut. Gavin menggigit bibir Hazel untuk membuat lidahnya merangsek masuk ke dalam mulut Hazel dan bermain di dalamnya. Suara Hazel tertahan karena ciuman Gavin yang begitu dalam.

__ADS_1


Gavin membuka kimono tidur Hazel dan membuang pakaian dalamnya ke sembarang tempat. Gavin mengangkat kedua tangan Hazel dan menahannya di atas kepala Hazel dengan satu tangan. Gavin beraksi lagi di leher Hazel lalu turun ke kedua gundukan indah milik Hazel. Gavin memainkan lidahnya di atas tonjolan pink di tengah gundukan bukit indah milik Hazel.


"****, f*ck me, Beb. Aarrgghhh." Hazel mulai mengeluarkan suaranya dan erangannya dengan keras. Gavin membungkam mulut Hazel menggunakan dasi yang dipakainya.


Gavin kembali menjilati tonjolan pink di depannya sampai Hazel menggelinjang hebat. Gavin tersenyum puas melihat Hazel mengeluarkan cairannya hanya dengan permainan itu. Gavin membuka celananya dan mengeluarkan miliknya yang sudah tegang dan langsung memasukkannya ke lubang milik Hazel.


"Mmmhhh." Hazel tidak bisa berteriak karena mulutnya tertutup.


Gavin menggoyang perlahan pinggulnya dan membuat Hazel mengangkat tubuhnya untuk membuat miliknya lebih terisi oleh milik Gavin. Hazel menutup matanya menikmati sengatan kenikmatan yang Gavin berikan padanya. Dia tidak bisa berteriak dan tangannya tidak leluasa mencengkeram apa pun yang dia inginkan. Hazel terus mengangkat tubuhnya dan mengeluarkan cairannya berkali-kali.


Gavin melepaskan tangan Hazel dan membiarkannya mencengkeram erat punggung Gavin saat dirinya mengangkat Hazel ke atas pangkuannya. Hazel menggoyang pinggulnya dan merasakan pusatnya bergesekan dengan milik Gavin. Hazel terus mencapai puncaknya dengan permainan yang Gavin buat.


"Aarrggghhh ... Kau memang Tua Bangka sialan. Bagaimana bisa aku selalu jatuh dalam sentuhanmu." Hazel terus meracau sambil memaki Gavin.


"Tubuhmu sudah ketagihan dengan sentuhanku, Beb." Gavin tersenyum lebar karena menang mendapatkan Hazel kembali.


Gavin membalikkan Hazel untuk membungkuk di depannya. Gavin memasukkan miliknya lagi sampai ke dalam milik Hazel dan menggoyangnya dengan cepat untuk mencapai puncak dirinya. Gavin mendorong miliknya dan menumpahkan cairan miliknya di dalam milik Hazel. Gavin mencium punggung Hazel yang penuh dengan peluh dan mencabut miliknya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang penginapan.


"Pulanglah, Beb. Ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu." Gavin berbicara sambil menarik tangan Hazel dan memeluknya dengan erat.


"Aku benci karena harus marah dengan apa yang kamu lakukan sama istri kamu. Seharusnya aku tidak perlu kesal karena hal itu. Aku tidak bisa menerimanya." Hazel cemberut saat mengatakan hal itu.


"Maafkan aku, Sayank. Aku terbawa suasana juga karena kesal melihat kamu bersama laki-laki lain." Gavin mencium puncak kepala Hazel.

__ADS_1


"Apa kita sama-sama cemburu?" Hazel bertanya sambil menatap mata Gavin.


__ADS_2