
"Astagfirullah" Vania meraup muka ketika Adam menghiasi mimpinya..
Dia menenangkan hatinya yang gundah gulana,beberapa hari ini Mas Adam menghiasi mimpi.padahal sudah keras Vania mencoba melupa..argh cari kak Umar aja,bangunin dia waktunya kerja. Vania melangkah kekamar depan,nihil Kak umar tak diketemukan. Melesat Vania kekamar mandi,pun tak ada..
"Hmm,jangan jangan kak Umar cari sarapan.tunggu ajalah " batin Vania.
Sejenak dia melihat kertas putih dimeja ruangtamu,diambilnya dan dibaca .. Vania auto berteriaak "Masyaallah yaank ðŸ˜ðŸ˜".
Yaallah,hukuman macam apalagi ini?aku sudah mengakhiri smuanya dengan Mas Adam,aku sudah hendak mencintainya setulus tulusnya,tapi kenapa dia pergi? Pergi begitu saja tanpa alasan tanpa penjelasan. Dikira aku ini apaa?Yaallah ,Vania menangis sesenggukan.
"Yank,apa kamu fikir dengan atm dan sertifikat rumah ini hidupku bakal baik baik saja?Tak pernahkah sedikitpun kau berfikir tentang Nando yang kan menanyai dimana ayahnya?,yaank knapa ini harus terjadi " Vania tetap terisak
Dunia berasa runtuh,ditinggal pergi tanpa kejelasan,diabaikan tanpa alasan bukan hal yang mudah. Aku harus bagaimana? Tuhan,apa ini ujian dari sebuat taubat? Aku tinggalkan perasaan semuku,aku tinggalkan seseorang yang membahagiakanku demi insan bernama suami,tapi kenapa dia malah pergi?tanpa pamit tanpa permisi.Tuhan,apa yang harus kuucap pada Nando..
Vania melangkah kekamar,melihat wajah polos putranya. Nak,bunda bisa apa? Ayah pergi meninggalkan kita? Ini salah bunda nak,bunda terlalu leka,bunda terlalu bawel. Mungkin ayah bosan hidup bareng bunda nak..tak terasa airmatapun menetes dipipi mulus Nando. Nando tiba tiba bangun dan langsung duduk,bayi kecil itu menyeka airmata dipipi Vania.. Vania berusaha tersenyum dan memeluk Nando erat.."Yaallah nak,bunda kudu gimana" batin Vania menjerit.
Vania melepaskan pelukan ke Nando,dengan tegar dia segera memandikan putranya,mengganti baju dan menyiapkan sarapan.
Terburu buru Vania membawa Nando kerumah mertuanya,dengan harapan smoga suaminya ada disana.Sampai disana mertuanya malah kaget dengan berita yang Vania bawa.
__ADS_1
"Yaallah Van,knapa Umar pergi? Apa kalian bertengkar?" Tanya mama
"Enggak ma,hubungan kita baik baik saja. Vania juga ga tau ma. Cuma surat ini yang kak Umar tinggalkan.Vania menyodorkan kertas putih tulisan suaminya. Mama papa Umar pun bersedih mengenangkan sikap puteranya.
"Nak,knapa kamu sepengecut itu?" Batin papa.
Vania memeluk Nando dan meneruskan isak tangisnya.
******
Malam ini mama menyuruh Vania tidur dirumahnya,sembari mencoba menghubungi semua kenalan Umar. Hasilnya nihil karna smua tak ada yang tau keberadaan Umar.
Nando sedari tadi bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.Tiba tiba bibir kecil itu berkata "ayah".
Yaallah,hati Vania berasa tak karuan rasanya.. Sambil mencoba tersenyum Vania menjawab "ayah masih kerja nak,ayah kerja diluar kota.Smoga saja cepat selesai dan ayah segera pulang ya" . Nando cuma mengangguk. "Entah dia faham atau tidak yang penting aku sudah sampaikan"batin Vania.
Hari ini terlewati tanpa arti,belum ada jejak apapun tentang Umar. Semua hanya bisa menyesalkan perbuatan Umar yang terlalu pengecut ini.
Seminggu,dua minggu bahkan sekarang sudah 1bulan Umar pergi. Vania sudah mulai ikhlas,dia sudah mulai mengembalikan kewarasan. Dia yang selama ini agak tak peduli dengan Nando karna asyik mencari Umar,kini mulai menyerah. Menyerah bukan dalam artian tak ingin lagi mencari,tapi dia ingin lebih fokus dengan kehidupan yang dia jalani.. Vania pamit ke mertuanya untuk kembali kerumahnya sendiri, Dia perlu melanjutkan kehidupannya. Dia perlu mengasihi Nando. Bahkan sekarang dia harus menjadi ayah dan ibu bagi Nando.
"Pa,Ma Vania pamit. Lebih baik Vania tinggal dirumah sendiri, Vania perlu melanjutkan usaha Vania. Vania perlu kerja keras untuk kebahagiaan Nando. Vania ikhlas pa ma,kalau Kak Umar pergi,mungkin dia bosan dengan Vania atau entah apapun alasannya. Sekarang Vania harus segera bangkit,Vania harus kerja dan melanjutkan hidup. Maafkan Vania ya mama papa,kalau selama menjadi istri Kak Umar, Vania belum bisa membahagiakan mama papa"
"Van,apa dari kata katamu itu engkau hendak memutuskan hubungan ini nak?" Tanya mama.
__ADS_1
"Tidak ma,sampai detik inipun Vania masih menantu mama.Vania masih isteri sah Kak Umar. Hanya saja saat ini Vania harus lebih fokus dengan hidup Vania ma. Vania pasti tetap akan berkunjung kemari. Doakan Vania agar kuat ya ma"
"Kalau kamu butuh apa apa bilang Van,maafkan papa yang gagal mendidik suamimu" ucap papa lirih.
"Papa tidak gagal,mungkin Kak Umar ada halnya sendiri yang kita tak pernah tau. Vania yakin Kak Umar akan kembali. " sahut Vania mantap.
Setelah menyuruh Nando mencium tangan nenek kakeknya. Vaniapun pulang kerumahnya..
Sesampainya disana, smua terlihat tak terurus seperti hidup Vania. Bunga bunga mati,sampah berserakan.. Vania mengabaikannya dan langsung masuk kerumah,smua masih sama seperti saat ditinggalkan. Vania membuka jendela membiarkan hawa pengap keluar. Nando yang tertidur dia letakkan perlahan dikasur yang sudah dia tebas tebas sebelumnya.. "Anak bunda,kamu harus kuat ya" Vania mencium kening putranya.
Vania bergegas merapikan rumah. Dia sudah harus menata kembali hati yang berantakan, merestart ulang kehidupannya yang tak terarah. "Aku yakin aku mampu" lirih hati Vania berbisik.
Setelah urusan rumah selesai,dan diliriknya Nando masih tertidur. Vania segera memasak sop ayam kesukaan Nando. Tiba tiba fikirannya melayang "argh,biasanya sudah kuomeli suamiku tuk membantuku". Sekarang tak ada lagi yang bisa kuomeli. Aku sendiri, dia telah pergi meninggalkanku dengan segala hal yang tak kuketahui.
"Aku harus berubah,aku tak boleh bawel,aku harus jadi perempuan yang lebih baik" Vania bermonolog dengan dirinya sendiri.
Aku bisaa apa Tuhan? Aku ditinggalkan tanpa alasan,aku dihukumi tanpa salah yang kuketahui. Dulu kamu berjanji akan selalu ada disisiku, kini kamu pergi tanpa sepatah katapun terucap dari bibirmu. Apa setidakberarti ini aku menjadi istrimu?
"Astagfirullah" lagi lagi Vania meraup mukanya, kembali meyakinkan diri sendiri semua akan baik baik saja.
***^ Nando
"Ayaaaah ..." tangisnya pun pecah membuyarkan lamunan Vania.
__ADS_1