
Beberapa hari kebelakangan ini, Thalita berasa tidak enak badan. Makan tak enak, tidur pun tak tenang. Sejak pulang dari rumah ayahnya, Thalita lebih banyak mendiamkan diri. Tak banyak menggoda Umar ataupun meyakinkannya bahwa dia lebih baik dari Vania. Ada sedikit sesal yang mulai menyapa jiwa. Dia mulai mengenang betapa dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan lelaki yang kini jadi suaminya.
"Kamu kenapa?," tanya Umar.
"Entah, badanku berasa pegal-pegal,"
"Kamu juga lebih pendiam sekarang, ada masalah?,"
"Tidak sayang, aku cuma merasa bersalah?"
"Untuk apa?"
"Vania,"
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Tak ada kebetulan didunia ini,"
"Kamu tak marah?"
"Nope," jawab Umar datar.
Aku mau siap-siap kerja. Mungkin nanti aku akan pulang terlambat. Akhir-akhir ini Umar memang sering pulang terlambat, sebenarnya dia pun bingung dengan kehidupan yang sedang dia jalani.
"Vania dan Thalita keduanya adalah isteriku, namun aku hanya ada untuk Thalita saja," batin Umar.
Thalita menyiapkan keperluan suaminya, dia tak pernah sekalipun abai dengan kebutuhan suaminya. Dia benar-benar mencoba jadi isteri terbaik, meski dia tahu di hati Umar dia tetap tak bisa menyaingi Vania.
***
Setelah suaminya berangkat kerja, Thalita memutuskan untuk ke dokter. Karena beberapa hari ini dia berasa lelah dan tak bertenaga. Sebenarnya resah mulai mendera karena Umar hanya menunaikan kewajibannya sebagai suami tanpa banyak kata ataupun perduli. Bisa dibilang dia masih terlampau dingin. Ternyata merebut hati tak semudah memanaskan sayur kemarin.
__ADS_1
Beberapa saat setelah dokter memeriksanya.
"Selamat nyonya, anda hamil,"
Dengan wajah sumringah, Thalita mengucap terimakasih kepada dokter yang memeriksanya.
Tuhan selalu membersamaiku, buktinya aku bisa mengandung anak lelaki yang aku sayangi. Semoga dengan adanya anak ini akan membuat Umar luluh hati.
Thalita terlupa bahwasanya dia juga telah memisahkan seorang anak dengan ayahnya. Dengan egoisnya dia mengambil Umar tanpa peduli dua kepala yang harus memikul derita.
****
Umar lebih sering pulang terlambat. Dia menghabiskan waktu di sebuah cafe sambil membaca surat kabar. Setidaknya dia tak harus bertemu Thalita terlalu lama. Ada rasa bersalah yang selalu menganggu jiwa.
Umar membuka akun Vania, melihat beberapa postingan dan foto-foto terakhir sejak dia tinggalkan. Vania tak banyak memposting hal pribadinya.
'Ah, Van! Kakak harus bagaimana? Aku terlalu pengecut untuk meminta maaf dan terlalu malu untuk mengakui segala khilaf,"
"Sayang, jangan pulang terlambat ya,! Ayah ada disini," ucap Thalita setelah Umar menekan tombol terima.
"Iya, ini mau pulang," ucap Umar.
Umar membayar kopinya dan segera melajukan motor tuanya.
Sesampainya dirumah dan bersalam dengan ayah mertuanya. Umar izin hendak membersihkan diri. Namun Thalita menyuruhnya duduk.
"Sayang, hari ini ada kabar gembira yang hendak aku sampaikan,"
Kulirik Bapak yang cuma tersenyum sambil menyesap kopinya.
__ADS_1
"Aku hamil," sambung Thalita.
Umar terkejut, namun dia menyembunyikan perasaanya.
"Alhamdulillah, jadi aku harus kerja lebih keras lagi," jawab Umar.
Thalita kecewa, karena dia berharap akan ada pelukan dan keterkejutan yang luar biasa dari Umar. Nyatanya dia hanya mengangggap kehamilan ini kabar yang biasa.
Umar kembali izin untuk segera mandi.
Umar termenung dikamar mandi. Dibawah guyuran air dia memikirkan kehidupannya dimasa mendatang. Harapan untuk bisa kembali memenangkan Vania sudah buyar. Aku akan segera menceraikan Vania agar dia bisa memilih jalannya bahagia. Umar bermonolog dalam hati.
Dia sudah yakin akan segera menceraikan Vania, sudah terlalu lama dia mendzhalimi wanita itu. Wanita yang aku minta dengan baik pada ayahnya, wanita yang dengan senang hati sudi menjalani hidup bersamaku dalam suka dan duka. "Maafin kakak,Van. Semoga keputusanku untuk menceraikanmu bisa membuat hatimu lebih lapang. Aku gagal menjadi suami yang baik,".
Umar keluar dari kamar mandi dengan fikiran yang lebih segar. Menghadapi kenyataan bahwasanya memang Thalita yang Tuhan takdirkan. Aku tak boleh serakah hendak memiliki keduanya. Karena untuk adil, aku tak akan pernah bisa. Vania sudah terlalu lama menderita.
"Kok cemberut,?" tanya Umar ketika melihat Thalita duduk dipinggir ranjang.
"Aku tadi berharap, kamu akan memelukku memberi selamat dengan bahagia atas kehamilanku,"
Umar tertawa lantas memeluk isterinya, mengecup kening dan mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku bahagia kok, hanya saja tadi lelah karena baru saja pulang," dalih Umar.
Thalita kembali ceria. Dia melebarkan senyumnya dan segara keluar kamar untuk menyiapkan makanan.
"Kamu selalu begitu, bisa dibujuk hanya dengan sesuatu yang tak terlalu bermutu," Umar tersenyum.
Dia teringat saat Vania ngambek, Vania pun sama. Selalu mendambakan hal- hal receh yang mungkin bagi sesetengah lelaki dianggap tak berguna.
__ADS_1
"Arkh,lagi-lagi selalu terbayang Vania," batin Umar mengelus dada.