Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 35


__ADS_3

Thalita resah, menanti suaminya yang tak kunjung pulang. Ponselnya pun tak aktif.


"Aku tak pernah mengira, ini akan terjadi. Bagaimana bisa Vania menemukan segala bukti?"


Thalita mengirim pesan ke suaminya.


[ Aku minta maaf, atas jebakan yang aku buat. Namun,sayangku padamu sudah terlanjur kuat]


Nihil, pesan whatsapp pun hanya centang satu.


"Yank, kamu dimana? Haruskah aku merasakan apa yang dirasakan Vania? Secepat ini kah aku harus menerima karma? Bukankah kamu pun menikmati pernikahan kita?" Thalita bermonolog di hati sambil mengelus perutnya.


[ Andai saja waktu bisa ku ulang. Aku tak akan merebut suami orang. Hanya demi kehangatan tongkat sejengkal, aku gadaikan maruah dan sakitkan hati sesama perempuan. Maafkan aku, Kak Vania ] Thalita menulis kesahnya di catatan ponsel.


*****


Thalita menelpon ayahnya, menceritakan setiap detail perkara. Ayahnya hanya bisa mengelus dada, membayangkan kemungkinan buruk yang akan menimpa putrinya. Dia merasa gagal sebagai orangtua. Tak pernah berani menghalang setiap keinginan anaknya.


Dengan motor tuanya, dia bergegas kerumah Thalita. Meski tiada yang bisa dilakukan, setidaknya dia ada disana untuk bisa menguatkan. Karena segala tindakan pasti diikuti resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Ini semua adalah pengajaran, agar tidak melakukan hal yang dilarang Tuhan.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Umar berteleku di atas sajadah. Memutar ulang semua kisah. Mengajak Tuhan bergibah, tentang dua hati yang membuat jiwa gundah. Wanita adalah ujian nyata. Hingga dia benar-benar terperdaya. Dua-duanya adalah istri yang memiliki hak ke atas diri. Namun, aku tak pernah adil. Bahkan menanggungjawabi diri sendiri pun masih sering ada bagian yang tercuil. Sungguh, aku benar-benar kerdil.


[ Memintalah pertolongan dengan sabar dan salat ] Umar teringat kutipan ayat tersebut. Vania sering kali mengucapnya. Ada rindu yang menyusup di jiwa.


Air matanya mengalir. Membayangkan susahnya Vania menjalani takdir. Sedangkan dia malah menikmati kehidupan dengan perempuan yang tak sengaja hadir.

__ADS_1


Umar mengusap airmatanya. Mencoba berfikir dengan tenang. Vania dan Thalita bergilir datang membayang. Membuat jiwanya semakin resah tak karuan.


"Aku tak boleh lagi salah melangkah," ucap Umar.


Dia menenggelamkan diri dalam senandungnya dengan Tuhan. Membiarkan ponsel tak terpegang. Perkara dunia sungguh melelahkan.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


" Kenapa ibu berkata begitu pada Vania? Adam bahkan tak peduli jika harus menunggu lebih lama."


"Itulah kamu, selalu buta oleh cinta. Cinta itu kepastian,Nak. Jika tidak ada kepastian buat apa diteruskan?"


" Mencintai bukan hanya soal memiliki, namun bagaimana diri bisa tetap saling mengikat dengan rasa peduli" Adam meraup mukanya menyanyangkan ucapan ibunya yang mungkin melukai Vania.


Ibu bungkam, melihat kasih putranya yang begitu dalam. Entah mantra apa yang Vania rapalkan, Adam benar-benar mencintainya tanpa banyak persyaratan. Kali ini Ibu merasa bersalah. Mengucapkan kata yang mungkin membuat Vania gundah. Bahkan putra kesayangannya pun nampak begitu resah.


Adam menoleh. Menggelengkan kepala. " Bukannya ibu hendak menemui kawan lama? Hendak meminang anak gadisnya untuk menjadi istri Adam?"


Ibu tersentak kaget mendengar ucapan Adam.


"Ibu tak akan memaksamu,Nak"


"Tak mengapa,Bu. Bahagia ibu adalah bahagia Adam."


Adam pasrah dengan takdir. Membiarkan ibunya melakukan apa yang diingin. Mereka bergegas menuju kediaman kawan Ibu. Adam tak lagi bisa berpikir.


Satu jam berlalu, mereka sampai di perumahan yang dituju. Ibu keluar dari mobil dengan semangat yang menggebu. Adam tersenyum getir.

__ADS_1


Hal tertidak menyenangkan yang pernah Adam lakukan. Bertamu ke seorang gadis yang tak dia inginkan.


Terlihat ibu antusias sekali, menceritakan Adam begitu dan begini. Adam melirik gadis berambut panjang didepannya, yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Adam menunduk, memainkan ponsel. Sama sekali tak tertarik, meski gadis itu comel. Jadi begini rasanya, jika hati sudah tertambat.Ada yang lebih pun, hati tak mampu lagi terpikat.


Di hati Adam hanya ada Vania. Vania Rahman, hanya dengan melihat senyumnya hidup berasa tertimpuk jutaan uang ratusan. Adam tersenyum, mengingat tingkah Vania yang manja.


****


Adam tak begitu peduli tentang obrolan ibunya. Dia juga tak peduli tentang basa-basi gadis itu. Adam hanya menjawab bila perlu. Selebihnya dia hanya membisu.


Setengah hari Ibu menghabiskan waktu dengan kawan lamanya. Adam memintanya untuk pulang, agar sampai rumah tak terlalu larut. Ibu setuju dan berpamitan. Mengucap janji akan kelanjutan kisah.


Adam tersenyum dan berlalu membuntuti ibunya. Segera melesat kedalam mobil dan menyalakan mesin. Ibu masih erat berpelukan seolah-olah tak akan lagi bertemu. Perempuan selalu aneh begitu.


Ibu masuk kedalam mobil.


"Cantik kan gadis itu,Adam? Dia masih perawan dan bekerja sebagai bidan," beber Ibu dengan riang.


Adam hanya mengangguk. Kemudian fokus ke jalanan. Sepanjang jalan ibu bercerita itu ini. Adam tahu ibunya bahagia hari ini.


Lelah bercerita, ibu ketiduran. Adam merasa tenang. Setidaknya dia tak perlu mendengar kisah yang dia tak ingin tahu.


Adam menelfon Vania. Menanyakan posisinya serta meminta maaf atas ucapan ibunya. Adam tak merasakan ada perubahan di Vania. Dia benar-benar yakin kalau Vania memaklumi apa yang terjadi.


Adam kembali menyusuri jalan. Menikmati sunyi dengan hati tenang. Vania semakin membuatnya bertambah sayang.


#merinduimuadalahcanduπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2