
"Mama,please! Apa-apaan ini? Vania tidak ingin bercerai dengan Kak Umar untuk saat ini," muka Vania merah padam ketika menerima lembaran surat-surat gugatan.
"Vania, mama hanya ingin Vania bahagia. Umar sudah memilih Thalita sebagai jalan hidupnya,"
"Bukankah perceraian dibenci Allah?" Vania memelas sambil duduk di sofa panjang.
"Perceraian memang dibenci,Nak tapi tidak diharamkan. Jika pernikahan hanya memberi mudharat lantas buat apa diteruskan?"
"Bukankah sebaik Siti Asiyah saja punya suami seburuk Fir'aun. Lantas kenapa Vania harus menyerah?"
"Mereka beda,Vania!!" mama mulai meninggikan suara .
"Atau jangan-jangan mama sudah bosan punya menantu seperti Vania? Sehingga mama ingin segera menceraikan Vania dengan Kak Umar?"
"Yaallah, bocah!!" mama segera merengkuh Vania yang sudah mulai menangis.
"Vania hanya ingin ketemu Kak Umar dan Thalita dulu ma, Vania hanya ingin tahu kenapa mereka bisa setega ini. Sepahit apapun yang harus Vania terima, setidaknya Vania sudah tahu alasannya, Tolong mama simpan saja surat gugatan ini. Suatu hari nanti Vania pasti akan membuat keputusan,tapi tidak sekarang. "
Papa hanya melihat dua orang berpelukan, menyaksikan kedekatan mertua dan menantu sebegitunya bukanlah hal yang biasa. Namun sayangnya mereka harus berpisah karena puteranya yang tak mampu menjaga setia.
"Astagfirullah," papa mengelus dada jika terkenangkan perbuatan Umar.
***
__ADS_1
Nando keluar dari kamarnya, ikut memeluk bunda dan Omanya.
" Bunda sama oma kaya Teletubbies," ucap Nando.
Kami semua tertawa .
Ada perasaan tenang di hati Vania setelah mengucap apa yang ingin diucap. "Ini benar-benar yang aku mau, aku tak peduli bagaimana akhirnya. Aku hanya ingin semua terbongkar tanpa ada apapun rahasia,"
Vania menelefon Roy mengajaknya bertemu. Vania menitipkan Nando ke mertuanya. Sejak pulang liburan kemaren Vania memutuskan untuk menetap sementara di rumah mama papa Umar. Dia takut tak mampu mengawal perasaan ketika bersama Nando. Hatinya benar-benar sedang kalut. Apatah lagi tatkala menyaksikan foto-foto Umar dan madunya. "Madu?? ternyata sepahit ini," batin Vania.
Vania mendapati Roy disebuah cafe yang jauh dari keramaian. Setelah memesan beberapa menu, Vania segera menyodorkan maps yang sudah dikirimkan oleh papa mertuanya. "Selidiki tempat ini,Roy. Aku mau tahu dimana mereka sekarang tinggal. Tolong segala hal yang kamu ketahui tentang mereka dicetak. Jadikan satu, belikan map !"
"Mau diapain??" tanya Roy datar.
"Kamu yakin mau ketemu mereka? Sanggup kawal emosi?"
"Aku akan ajak mama papa sekalian,Roy"
"Kenapa sih ribet amat,Van? cerai saja sudah! Kamu jadi janda ratusan yang mau nerima!!" celetuk Roy.
"Masalahnya bukan itu,Roy. Masalah itu harus diselesaikan, perasaan juga harus diakhiri jika memang sudah tak ingin bersama lagi, bukan seperti ini. Menggantungkan perasaan tanpa kejelasan, meninggalkan tanpa ada apapun alasan." Vania menjelaskan panjang lebar.
"Kamu terlalu dewasa,"
__ADS_1
"Ini semua gegara masalah hidup,Roy. Jujur aku lelah dengan kesendirian ini. Namun aku benar-benar harus mengetahui semuanya sebelum mengakhiri. " Vania tersenyum.
"Besok aku kelarin, tinggal alamat Umar doank yang belum aku temuin. Btw Van madumu ternyata orangnya hot sekali,ya? Aku liat foto-fotonya menggairahkan, pantas saja suamimu tergoda!"
Vania tersenyum kecut, kemudian meminum kopi yang sudah dipesannya. Membuka ponselnya dan membalas pesan dari Adam.
' Maaf mas, Vania sedang banyak urusan.'
Kemudian Vania mematikan ponselnya. Tak penting lagi mengaktifkan ponsel.
Vania melanjutkan obrolannya bersama Roy, tentang Umar. Vania lebih banyak mendengar penjelasan Roy tanpa banyak jawaban. Mengetahui suamimu dengan segala kebahagiaannya bersama orang lain bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku kira ini hanya ada di sinetron ikan terbang.
"Aaaargh," Vania menarik nafas panjang. Meraup muka merakit kembali kesabaran yang mulai berantakan.
"Are u okay," tanya Roy melihat keluh Vania.
Vania menatap Roy sayu. "Aku hanya lelah,"
Roy faham sekali dengan perasaan perempuan didepannya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia berjanji dengan dirinya sendiri akan segera menuntaskan pekerjaan ini. Bukan demi uangnya, namun demi hati perempuan yang pernah menarik hatinya. Sayangnya, Roy terlalu sadar diri dia bukan type Vania.
****
Vania memutuskan pulang tapi bukan kerumah. Dia hanya ingin tenang. Vania mengarahkan mobilnya kearah masjid. Masjid tempat Vania dan Umar menikah. Sejenak dia memandang dari kejauhan, semua kenangan itu berputar ulang. Vania membelokkan mobilnya mencari masjid yang lain.
__ADS_1
"Ternyata begini rasanya ketika tahu suami kita ada perempuan lain" Vania hanya membatin.