
Vania menemui Umar
Setelah terkumpul semua data. Vania mendiskusikannya dengan mertuanya tentang keinginannya bertemu Thalita dan Umar.
"Ma,Pa, Vania meminta izin untuk menemui kak Umar. Vania ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan gamblang,"
"Apa kamu kuat,Van?" jawab Mama.
"Insyaallah, Lagipun Thalita itu adek kelas Vania di kampus dulu,Ma"
Mama dan papa nampak terkejut mendengar berita yang Vania sampaikan. Mama menghela nafas panjang.
"Mama papa, jangan menyalahkan kak Umar lagi. Dia begini karena tipu daya Thalita, Mama lihat data-data ini," ucap Vania sambil menyodorkan setumpuk kertas di meja.
"Astagfirullah," ucap mama setelah melihat semua data.
"Papa ga ikhlas, anak papa dijebak sebegini,"
"Sayangnya, kita tetap harus ikhlas. Meski awalnya semua hanya jebakan, namun Kak Umar menikmati pernikahannya. Thalita sekarang hamil," balas Vania datar.
Papa melihat Vania sayu. Ikut menyelami apa yang bersarang didada.
"Vania ikhlas, Vania hanya ingin mengungkap kebenaran. Nasi sudah menjadi bubur, toh Vania juga masih isteri Kak Umar. Mama dan papa restui langkah Vania ya, atau sekalian aja ikut kesana?"
Papa menggeleng, "Papa tak sanggup,Van"
Vania menoleh mama, dan mamapun menggeleng. Tak ingin melihat menantu dan puteranya sekarang ini.
Vania menarik nafas panjang,
"Baiklah,Vania akan kesana sendirian,"
__ADS_1
"Ajak Adam saja,Van" ucap mama.
"Enggak,ma. Vania sendirian aja. Mas Adam sudah terlibat banyak dalam permasalahan Vania. Kali ini biar Vania selesaikan sendiri,"
Vania bersiap-siap untuk segera kerumah Thalita. Berbekal semua data dan penunjuk jalan yang sudah dikirim Roy tadi malam.
******
"Van,hati-hati kalau mau kesana. Thalita hamil, meski dia salah. Namun ada nyawa bayi kecil yang tak bersalah di rahimnya," ucap Roy mengingatkan.
"Don't worry, aku tak sebar-bar itu " balas Vania diriingi dengan gelak tawa.
Setelah selesai urusannya dengan Roy, Vania meminta izin untuk pergi. Vania merasa berhutang budi dengan Roy, karena Roy benar-benar tak mau dibayar dengan kerja kerasnya. "Argh, lagi-lagi Tuhan selalu mempertemukanku dengan orang naik" batin Vania.
Vania meluncur dengan mobilnya, mencoba menerima segala yang Tuhan takdirkan untuknya. Dia menenangkan hati yang resah, mencoba menerima bahwa dia sudah kalah. "Kak Umar memang dijebak, namun Thalita tak mungkin hamil. Jika kak Umar tak berkehendak,"
Vania hanya berkeliling kota dan kemudian memutuskan untuk pulang. Solusi terbaik saat ini adalah tidur. Vania menembus pekatnya malam. Memarkir rapi mobilnya dan segera masuk ke kamar. Panggilan mertuanya tak dihiraukan. Dia hanya mau tidur.
*****
Tet,ponsel Vania berbunyi.
[ Van, dimana? Mas, mau perjalanan ke Malang nih. Mau ikut gak?]
"Panjang umur banget sih, baru dibayangin udah kirim pesan aja" batin Vania.
Vania hanya membaca dan mengabaikannya. Dia fokus dengan perjalanannya. Lagipun Vania pun hendak pergi dengan tujuan yang sama.
Ponsel Vania berdering. Vania menerima panggilan dari Adam tersebut.
"Maaf kak, Vania lagi nyetir," jawab Vania setelah telefon tersambung.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Sama kaya Mas Adam"
"Lah, tau gitu bisa berangkat bareng," terdengar suara Adam sedikit menyanyangkan.
Vania tertawa "maaf, Vania terburu-buru. Ntar ketemu disana aja kalau Vania sudah selesai," balas Vania sambil meminta izin mematikan panggilan.
"Aku udah mulai sayang banget dengan Adam, namun aku isteri orang," Vania berperang melawan kecamuk dihatinya.
Setelah melewati perjalanan panjang. Akhirnya Vania sampai juga ketempat tujuan. Dia tak mau membuang-buang waktu. Dia ingin sekali melempar semua data ini ke muka Thalita dan mengucapkan selamat atas terwujudnya keinginan dia memiliki Umar. Merebut dengan paksa milik orang lain. Menghalalkan segala cara untuk menuruti apa yang diingin. Dia lupa Tuhan maha adil, Dia bisa membolak-balikkan hati semudah api melelehkan lilin.
💔💔💔💔
Vania mengetuk pintu, kemudian membelakangi pintunya. Karena dia yakin empunya rumah pasti menilik dulu siapa tamunya. Tak lama menunggu pintu pun terbuka. Vania menarik nafas panjang dan menghadapi kenyataan.
"Assalamu'alaikum," sapanya dengan senyum dimanis-maniskan.
"Kak Vania?" ucap Thalita tanpa menjawab salam
"Assalamu'alaikum, kalau ada yang salam tu dijawab adek. Didoakan kok diem aja," leter Vania.
"Wa'alaikumussalam, ada apa kakak kesini? "
Vania menatap wajah Thalita yang agak ketakutan.
"Kakak kesini mau merebut kembali suami kakak, boleh kakak masuk?"
"Siapa yang datang, yank?" teriak suara lelaki dari dalam.
Vania terbatuk mendengar panggilan yank, kemudian dia menerobos masuk pintu dan segera duduk.
__ADS_1
"Silahkan duduk Thalita, ibu hamil nanti capek kalau berdiri terus, sekalian tolong panggil suamimu. Eh salah, tolong panggil suami kita " Vania mengerdipkan matanya.
#merinduimuadalahcandu