
Firasat Vania...
Kenapa akhir akhir ini perasaanku tidak enak. Aku berasa kak Umar sudah ada dikota ini. Aku berasa dia sedang memata matai aku dan Nando. Tapi kenapa? Kenapa kak Umar harus melakukan itu. Aku tetap setia meski dia pergi,aku tetap menjaga Nando sepenuh hati. Apakah dia meragukanku. Harusnya aku membencinya tapi jangankan membenci, untuk marahpun aku tak mampu.
Setelah menimbang nimbang,aku putuskan untuk menelfon mama papa. Mungkin mereka tau keberadaan kak Umar sekarang.
"Hallo assalamu'alaikum ma"
"Wa'alaikumussalam Van, ada apa nak?"
"Ma,Vania merasa kak Umar ada dikota ini,apakah benar ma?" Tanya Vania
Mama bingung hendak menjawap apa,apa harus jujur, apa berbohong.
"Kenapa Vania,apa Vania bertemu dengannya nak?"
" tidak sih ma,tapi kmaren Vania sempat merasa melihat kak Umar di mini market. "
"Belum ada kabar sama sekali tentang Umar nak , mama rasa Vania sudah pantas kalau hendak mencari pasangan lain"
"Apa maksud mama? Vania masih isteri sah kak Umar ma"
"Tapi dia sudah lebih dari 4bulan meninggalkanmu tanpa nafkah lahir batin dan tanpa kejelasan nak" ucap mama.
"Biar dululah ma,biar jelas dulu statusnya sebelum membuat keputusan"
Setelah berbasa basi ,Vania mengakhiri telfonnya.
"Bunda" panggil Nando mengejutkan Vania.
"Hei sayang bunda" Vania menghampirinya dan memeluknya.
"Bunda,ayah kemana? Nando rindu" ucapnya membuat Vania kaget.
__ADS_1
"Ayah,ada urusan nak. Nanti kalau sudah selesai ayah pasti pulang "
"Ayahmu takkan pernah pulang Nando" tiba tiba mama muncul dari depan.
"Loh ma?? Kok Vania ga denger bunyi motor. Mama kesini sama siapa? Kok udah masuk rumah? Bukannya udah Vania kunci" Vania bingung.
"Itu pintu kebuka lebar Van" balas mama . Mama tadi naik sepeda, sekalian olahraga. "
"Kenapa mama barusan bilang kak Umar gak akan pulang ma?"
"Vania sudah siap untuk mendengarnya nak?"
"Siap ma, tapi tidak didepan Nando. Kita akan bahas nanti" ucap Vania lirih.
"Baiklah Van, tunggu papa sampai. Dan biar papa yang menjaga Nando" . Ucap mama.
Vania hanya menggangguk lemah, dan kemudian menyuruh Nando salim ke omanya. Vania membiarkan Nando bercengkerama dengan Omanya . Dia bergegas menyiapkan air minum didapur. Tak lupa dia juga menyiapkan sedikit camilan buat mertuanya.
"Mari masuk dulu pa,ma. Kita minum teh dulu" ucap Vania
Mereka tak banyak bicara dan langsung melangkah masuk kedalam. Setelah berbual santai dan menghabiskan kudapan. Opa mengajak Nando keluar rumah. Nando pun dengan senang hati mengikuti opanya.
"Bunda,Nando mau main dulu ya" ucapnya tatkala sudah berada didepan pintu.
"Iya sayang" jawab Vania sambil tersenyum.
Seperginya opa dan Nando, bunda memulai pembicaraan.
"Nak,kamu siap mendengarkan?" Tanyanya lagi.
"Iya ma" jawab Vania yakin.
" Umar sudah pulang kerumah bunda bebarengan waktu kamu jemput Nando kemarin"
__ADS_1
"Terus? Knapa Vania ga dikasih tau ma?"
" Umar pulang dalam keadaan sehat, diapun tak memberi penjelasan darimana saja dia pergi. Bunda dan ayah bingung nak, bagaimana hendak memberitahu. Apakah kamu masih mecintai Umar Van? "
"Entahlah ma,rasa yang ada dihati Vania bercelaru. Vania tak mampu membenci kak Umar tapi juga tak tau masih mecintainya ataupun tak" Vania mulai mengawal perasaan.
"Umar akan menikah lagi Vania"
"Apaaaa??! Apa maksud mama?" Vania berteriak.
"Bunda tak tau Van,itulah kata kata terakhir Umar sebelum dia pergi lagi meninggalkan kami. Bunda siap membantumu mengurus cerai nak, carilah bahagiamu sendiri"
"Tidak ma,biar kak Umar memberi Vania penjelasan dulu. Dimana salah Vania, kenapa harus begini akhirnya?" Tak terasa Vania meneteskan airmata. Bunda Umar pun tak kuasa menahan tangisnya . Mereka berpelukan dalam isakan.
"Istiqarahlah nak,libatkan Tuhan dalam setiap urusanmu. Smoga Tuhan memberimu petunjuk dan jalan yang harus kau tentukan"
"Baik ma" ucap Vania pelan.
Opa dan Nando kembali kerumah. Kebetulan sekali mereka kembali saat kami sudah selesai berbicara, sudah selesai dengan genangan airmata. Nando berlari menghampiri Vania "bundaa,tadi Nando lihat kambing"
"Oh iya kah? Nando takut gak? " tanya Vania
"Enggak,tapi Nando ga berani megang. Ada bulunya " jawabnya terbata bata
Hahahaa,kami semua tertawa. Jarum jam menunjuk angka 5 dan mama papa memutuskan pulang.
"Nando jagain bunda ya" ucap oma.
"Siaap oma" jawab Nando lantang.
Vania tersenyum melihat tingkah jagoan kecilnya. Setelah bersalam . Oma opa pergi dengan sepedahnya.
"Mencintaimu haruskah sesakit ini?" Batin Vania.
__ADS_1