Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 19


__ADS_3

"Bagaimana bang"


"Alhamdulillah sudah kelar bang mobilnya, ini kuncinya"


Setelah menyelesaikan segala biaya . Adam membawa mobil Vania keluar dari bengkel hingga ketepi jalan. Vania masih asyik bertelfon dengan seseorang.


"Iya bun,ini Vania mau pulang" ucapnya lirih.


Setelah menyelesaikan telfon dari bunda Umar , Vania segera mengampiri Mas Adam yang duduk didekat mobil Vania.


"Eh mas,gimana katanya. Udah beres smua kah? "


"Sudah, udah aman kalau dibawa pulang"


"Yaudah,Vania selesaikan pembayarannya dulu"


"Udah mas bayar, udah sini duduk"


"Kok gitu sih mas? Vania aja yang bayar"


"Sudahlah, ini minum" sambil menyerahkan sebotol yogurt.


"Baiklah" vania mengalah dan duduk disebelah Mas Adam.


"Van,apa maksudmu Umar pergi tanpa kabar?" Adam memberanikan diri buat bertanya.


"Panjang mas ceritanya,kalau Vania ceritain Vania ga pulang pulang. Ini bunda udah nelfon nyuruh pulang"


"Baiklah,mas antar aja ya?"


"Lah,Vania bawa mobil. Kok diantar? Apa mau ngulang kek dulu ngantarin Vania pulang tapi bawa motor sendiri sendiri? " Vania sambil ketawa.


"Hahaa, kamu masih gemesin kaya dulu Van"


" udah udah , jangan ngaco. Isteri orang ini" kilah vania.


"Yaudah,vania pamit ya mas. Makasih banyak atas bantuannya. Ga tau deh kalau ga ketemu mean, gimana nasibku kmaren, makasih juga udah dibayarin. Yang sering sering aja hahaha"


"Sama sama , btw boleh mas minta no hp?"


"No hpku masih yang dulu mas, tapi no mas Vania blokir hehehe. Ntar aja Vania buka ya blokirannya"


Adam tersenyum bilang " yaudah kabari kalau udah sampai rumah. Hati hati dijalan"


Dengan berat hati Adam melepas Vania pulang. Setelah sekian lama akhirnya ketemu lagi, ngobrol lagi. Tuhan sesungguhnya apa rencanamu disebalik semua ini? Batin Adam.

__ADS_1


Adam pun bergegas pulang kerumah. Dilihatnya ibu duduk diserambi depan sambil melamun.


"Assalamu'alaikum" sapa Adam membuyarkan lamunan.


"Wa'alaikumussalam. Adam sini nak, ibu pengen bicara" pinta ibunya.


Adam segera menghampiri ibunya. Dan duduk disebelahnya.


"Ada apa bu? Jangan bilang mau nanya Vania siapa?" Seloroh Adam.


"Ibu suka sama anak itu. ramah ,sopan santun, dan kelihatan dia perempuan baik baik."


"Dia itu isteri orang bu. Dulu Adam pernah dekat dengan dia, tapi hubungan kami berakhir karna dia memilih lelaki lain" jawab Adam


"Bagaimana Vania bisa ketemu lagi kemarin?"


" entah, paklek yang manggil Adam. Katanya ada yang minta tolong mobilnya mogok. Pas Adam kesana ternyata yang punya mobil Vania"


"Tak ada yang kebetulan didunia ini nak, Semua terjadi karena agenda Tuhan. Apalagi saat Vania bilang suaminya pergi entah kemana, ibu yakin kamu ada peluang memilikinya"


"Tapi bu, apa ibu ga keberatan? Kalau Vania cerai, dia janda beranak 1? Bukankah ibu tak pernah setuju Adam menikahi janda?"


"Tergantung jandanya Adam, entah kenapa hati ibu adem tatkala melihat Vania. Bergurau senda dengannya pun membuat ibu bahagia"


" Doakan saja bu, kalau ada takdirnya pasti kita bersama"


"Makasih bu" adam mengecup pipi ibunya dan berpamitan hendak kekamar.


"Kenapa sih kisah cinta selalu rumit, kenapa juga sudah


sekian lama aku masih punya rasa sama Vania" Adam berasa frustasi. Terlalu banyak berfikir membuat Adam ketiduran.


***


Vania menjalankan mobilnya dengan santai. Karna sebenarnya diapun masih tak percaya bisa bertemu Mas Adam lagi. Mas Adam masih tetap manis seperti dahulu.


"Yaallah,sudah berbulan bulan kak Umar tiada kabar dan Engkau malah mempertemukanku dengan orang yang seharusnya benar benar aku lupakan? Apa rencanamu Yarabb? " .


Vania mengenangkan kisah kisahnya bersama Mas Adam, mengenang kembali obrolan ringan bersama ibunya. Semua berasa menyenangkan. " Astagfirullah, lagi lagi aku harus terbuai?"


Vania mencoba membuang jauh tentang pikirannya. Dia fokus menyetir dan mulai membayangkan sedang apa Nando saat ini?


Tiada hambatan di perjalanan, sesekali Vania istirahat dan meneruskan lagi perjalanannya.


*******

__ADS_1


"Assalamu"alaikum" Vania mengetuk pintu rumah mertuanya.


Nando berlari kecil dan mencoba membuka pintu. "Bundaa dia menghambur kepelukan Vania"


"Oma mana sayang?" Ucapnya sambil menciumi putra kecilnya .


Sebelum Nando menjawab, Oma keluar dengan Opa.


"Bagaimana perjalananmu nak?" Ucap ayah


"Alhamdulillah pa, aman terkendali" cuma itu yang Vania sampaikan.


"Nando nakal ga sayang?" Vania kembali menanyai puteranya.


"Nando pinter bundaa"


Vania rindu sekali dengan puteranya. Padahal cuma 2hari ga bertemu. Apakah Kak Umar tak punya rindu yang sama dengan Nando? Argh, persetan dengan perasaan. Lelaki memang selalu mementingkan ego sendiri. Vania membatin.


"Ma pa, Vania ajak Nando pulang ya?"


" kok buru buru sih nak? Tinggalah disini lebih lama. Mama juga masih rindu sama Nando"


" Vania harus ngurusi kerjaan lagi ma, apalagi ini orderan sedang membludak. Bisa ngamuk ngamuk customer kalau ga segera Vania urusin" terang Vania.


"Baiklah Van" mama menyerah.


Mereka melepas kepergian Vania dan Nando sampai kedepan rumah.


"Bagaimana menyampaikan keberadaan Umar pada Vania yah?" Tanya bunda .


"Entahlah,aku juga ga tau bun" jawab ayah sambil memijat lembut kepalanya. Dia pusing sekali memikirkan anak lelakinya.


"Ayah bunda,Umar hendak mengontrak rumah saja untuk sementara. Kalian mesti marah,sedih ketika melihat Umar. Sampai Umar siap nemuin Vania buat menjelaskan semuanya. Karna Umar juga akan menikah lagi secepatnya"


"Apa maksudmu dengan menikah lagi, Umar?? Tanya ayah


"Umat sudah melakukan hubungan dengan anak gadis ayah,dan dia minta pertanggungjawaban"


"Yaallah " ayah bunda kembali menangis.


"Maaf Umar pamit" Umar bergegas pergi meninggalkan rumah ini. Dia belum siap menemui Vania ketika tadi dia sempat mengintip Vania dan Nando dari jendela.


"Maafin kakak Van dan maafin ayah Nando" batin Umar lirih.


Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca 🄳

__ADS_1


#merinduimuadalahcandušŸ’•


__ADS_2