Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 34


__ADS_3

masuk ke kamar. Mengatakan pada suaminya kalau Vania diluar. Umar pun demikian, memaksakan diri keluar meski tangan bergetar. Dia tak siap menemui istri yang sudah berbulan-bulan ditinggalkan apalagi dengan keadaan isteri baru yang hamil tiga bulan.


Vania berdiri ketika suaminya datang. Menjabat tangan, mengecup punggung tangan suaminya kemudian memeluk manja.


" Kak, sudah lama tak bertemu," ucap Vania sambil mengeratkan pelukan.


Umar heran melihat tingkah isterinya, tak pernah dia seaneh ini. Vania bukan tipe touching, dia tak menganggap sentuhan sebagai wujud kasih sayang.


Thalita terlihat mual melihat Vania, namun apa daya Vania isteri sah suaminya.


Vania melepaskan pelukan, kemudian meminta Umar duduk disampingnya. Meminta tolong kepada Thalita untuk membuatkan minum, karena dia haus. Thalita pun bagai kerbau dicocok hidungnya, tak berani membantah meski sepatah kata saja.


Setelah berbasa-basi dengan Umar, Vania menyandarkan kepala di dada Umar. Duduk di sofa sambil membuka-buka data yang dibawa.


"Vania, cuma mau menunjukin kakak beberapa foto dan beberapa naskah yang bisa kakak baca,"


Umar melihat foto tersebut, nampak dia tertarik ketika melihat beberapa fotonya di masa lalu. Tak hanya dia, Thalita pun ada. Umar membalik-balik beberapa foto dan membaca tulisan di lembar-lembar selanjutnya.


Thalita datang dengan senampan minuman dan camilan, Vania membetulkan posisi duduknya dan mengambil minuman.


"Makasih, ya. Btw, bagaimana kehamilannya? Morning sickness parah apa enggak?"


Thalita tersenyum kecut bingung hendak bersikap bagaimana dengan Vania yang tetap terlihat baik ini.


"Errhm, baik kak. " jawab Thalita.


"Apanya yang baik? Sekarang udah ga secerewet dulu ya? Kalau ditanya sekata jawabnya berpuluh-puluh kata?" Vania mencecar.


Thalita hanya tersenyum.


"Duduklah, aku ingin ngobrol banyak denganmu, sudah lama kita tak bertemu,"


Thalita duduk diseberang Vania. Terlihat sekali dia sedang serba salah.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya nikah ama suamiku, dek? Enak? Bahagia?"


Lagi- lagi Thalita hanya bungkam.


"Oh iya, bagaimana kalau aku buat anakmu ngrasain apa yang dirasain Nando? Membesar tanpa ayah? Siap tidak?"


"Jangan, kak! Maafkan Thalita," ucapnya mulai menjawab.


"Enak banget minta maaf?" sindir Vania.


"Kumohon Kak, maafkan aku. Aku terlalu berambisi memiliki suami kakak. Namun, percayalah Kak. Aku tak pernah sekalipun menyakiti Kak Umar. Aku mencintainya." terang Thalita panjang lebar.


"Cinta?? Apa begini cinta? Kau buat seorang lelaki kehilangan harga dirinya, hingga sanggup meninggalkan anak istrinya??" Umar menimpali ucapan istrinya. Kemudian dia melempar semua lembaran dan foto ke meja.


" Keterlaluan kamu, Thalita" Umar berlalu pergi.


Thalita yang masih bingung dengan apa yang terjadi, tak mampu menahan kepergian Umar.


Vania tersenyum menang.


"Maafkan, aku. Aku terlalu kecewa dengan perbuatanmu. Sebegitunya terobsesi dengan suami orang. Hingga tega melakukan hal-hal yang curang. Coba jadi aku sebentar saja!" Vania menatap lekat.


Thalita hanya tertunduk, membisu.


Vania pergi meninggalkan rumah itu. Dia tak berusaha mencari Umar. Vania segera kembali ke mobilnya. Meluncur meninggalkan rumah madunya.


Terdengar notif whatssap.


[ Van, dimana? ]


Vania lantas menelefon Mas Adam dan membuat janji ketemu di sebuah cafe terdekat. Setengah jam perjalanan, Vania sampai di tempat tujuan. Dari jauh terlihat Adam melambaikan tangan. Ternyata dia sudah sampai duluan. Vania menghampiri. Setengah kaget ketika dia melihat ibu Mas Adam pun turut serta.


"Argh, kenapa ga bilang si kalau ama ibunya," batin Vania.

__ADS_1


Vania tersenyum dan menyalami tangan Ibu Mas Adam. Kemudian memutuskan duduk disampingnya.


"Ibu, apa kabar?" tanya Vania memulaikan obrolan.


"Alhamdulillah sehat,Nak. Vania bagaimana?"


"Alhamdulillah,bu. Saya pun sehat"


Vania nampak salah tingkah. Niatnya ingin bercerita panjang lebar ke Adam gagal total. Sekarang dia malah dihadapkan dengan situasi menegangkan.


Tak lama kemudian pesanan sampai, kami menikmati makanan tanpa banyak omongan. Tiba-tiba Ibu Mas Adam mengeluh pusing.


"Astagfirullah," Vania kalut.


Mas Adam langsung mengambilkan obat dan membantu ibunya minum.


Setelah agak tenang. Vania memberanikan bertanya. "Ibu sakit apa,Mas?


"Vertigo,Van. Jadi tiap kambuh ibu akan merasakan pusing yang menyakitkan dan hanya obat itu yang mampu menenangkan"


"Ibu ini pusing nak Vania, Ga tau kapan Adam mau nikahnya. Vania gimana? Sudah beres proses cerainya?"


"Vania belum mengurusnya,Bu. Vania belum tahu kapan perceraiannya akan terjadi," ucap Vania tanpa basa-basi.


"Adam ini sepertinya nungguin kamu. Setidaknya beri dia kepastian harus menunggu berapa lama? Atau kalau kamu tak ingin bercerai. Kasih tau Adam biar tak mengharapkan" tutur Ibu panjang lebar.


Vania bungkam. Bingung hendak berkata apa.


Adam berbisik " tak usah dipikir omongan Ibu,Van "


Vania akhirnya memutuskan pamit untuk pergi. Dia meninggalkan cafe tersebut dengan hati yang bimbang.


"Benar kata Ibu, aku tak boleh menggantung perasaan Mas Adam. Namun, bukankah perceraian juga bukan proses yang sebentar," batin Vania.

__ADS_1


Dia membelah jalanan Malang yang ramai dan memutuskan untuk segera pulang. Urusannya sudah selesai. Mas Adam biar sajalah, Dia bisa bersenang-senang dengan ibunya.


#merinduimuadalahcanduđź’•


__ADS_2