
Mama dan papa sampai didepan pintu rumah Vania. Namun, Vania belum datang.
"Yaah, bunda kemana sih oma?"
"Mungkin, bunda ke kantor pos," jawab mama.
Nando mengangguk mengerti. Setelah dua hari menginap di rumah omanya. Nando minta pulang. Sekaligus mama hendak memberi tahu tentang pernikahan Umar.
Dari jauh terlihat mobil doraemon Vania. Oma tersenyum melihat tingkah menantunya itu, masih saja menyukai si kucing biru di usia yang sudah matang.
"Kok oma senyum-senyum sendiri sih?" tanya Nando
Mama berasa malu karena kepergok Nando.
"Itu bunda datang," jawab Oma mengalihkan pertanyaan Nando.
"Yeyayaay,"
Vania memarkir mobilnya didepan gerbang. Dia bergegas keluar menyambut kedatangan Nando beserta mertuanya.
"Maaf ya ma,pa. Vania keluar tadi," sambil tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.
Mama dan papa cuma membalas dengan anggukan. Setelah gerbang terbuka, Vania segera membukakan pintu rumah dan mempersilahkan mertuanya masuk terlebih dahulu. Nando yang tidak disapa sedari tadi mulai protes.
"Bunda, kok Nando didiemin sih?"
Vania tersenyum kemudian memeluk puteranya, " maaf sayang, bunda kan terburu-buru buka pintu. Pasti Nando kesel udah nunggu lama,"
"Kok bunda tau sih?"
" tahu donk, kan bunda bisa melihat dari telapak tangan "jawab Vania asal.
Nando tergelak. Kemudian segera membaringkan diri di sofa berbantalkan pangkuan omanya.
Setelah mengambilkan minuman. Vania bergegas memasukkan mobilnya kedalam. Begitu juga dengan mobil mertuanya. Selesai dengan keduanya, Vania dikejutkan dengan kedatangan mobil Adam.
"Duh, ngapain Mas Adam kesini sih? " batin Vania.
Adam langsung memburu masuk kedalam tanpa berbasa-basi.
"Maaf, aku ganggu. Kangen sih," ucapnya ngasal.
__ADS_1
Vania salah tingkah karena kelihatannya Adam mengeraskan suaranya biar terdengar mama papa didalam.
"Duh mas, Ada mertua Vania didalam," Vania menggigit bibir.
"Van,temennya disuruh masuk sini. " teriak mama.
"Aduh, gimana ini? " Vania menggaruk-garuk rambut yang tertutup kerudung.
Adam tergelak, kemudian mendahului masuk kerumah. Entah kenapa Adam seberani itu hendak menemui mertua Vania. Vania mengikuti dari belakang.
Adam dengan selamba menjabat tangan mertua Vania. Nando pun tiba-tiba bangun . "Om Adam, mau gendong,". Dengan suka cita Adam mengangkat Nando.
"Hati anaknya udah kena, tinggal minang emaknya," batin Adam.
Vania melihat gelagat aneh dari mereka berempat. Namun dia memutuskan tak banyak bertanya. Dia masuk kedapur untuk mengambilkan Adam minuman. Vania kembali dengan gelas di nampan, namun yang ada diruang tamu hanya mama. Entah yang lainnya kemana.
"Van, sini mama mau bicara,"
Vania segera melabuhkan punggung di samping mama mertuanya.
"Kamu lihat video ini," mama dengan berat hati menyerahkan handphonenya.
Deg___. Saya terima nikah dan kawinnya Thalita Suherman dengan mas kawin uang tunai sebesar lima juta rupiah.
****
" Kak Vania, pacarnya ganteng," ucap Thalita beberapa tahun yang lalu. Kala itu Vania hanya tersenyum dan bilang " nanti kamu juga akan ketemu pasangan yang ganteng,".
Thalita berkata " pengen yang kaya Kak Umar," .
Aku yang hanya menanggapinya dengan tawa. Sekarang harus menerima kenyataan bahwasanya suamiku benar-benar dia inginkan.
Vania tak ingin melihat video itu sampai selesai. Dia menaruh handphone itu di meja.
"Nak, carilah bahagiamu!! Adam lelaki baik untuk kamu jadikan imam," mama mengelus bahu Vania.
"Antar Vania ketemu Kak Umar, Ma. Kami bertemu dan menikah dengan cara baik-baik. Setidaknya berpisah pun harus dengan cara yang baik."
"Mama tak tahu Umar tinggal dimana, kemaren Umar hanya kirim lokasi tempat dia menikah saja,Van"
"Ada no handphonenya?"
__ADS_1
Mama mengambil handphone dan menunjukkan chat Umar pada Vania. Mama melihat kekecewaan yang dalam dimata Vania meski ia tak menangis bahkan marah pun tidak. Entah kekuatan macam apa yang Vania punya.
Vania langsung menelefon no tersebut . Diangkat oleh seorang perempuan.
"Hallo,assalamu'alaikum," sapa seorang perempuan di ujung talian. Vania kenal sekali pemilik suara merdu dibelah sana. Perempuan yang seringkali mengganggu Vania dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Astagfirullah," Vania meraup muka. Tak terasa air matanya menetes. Dia menarik nafas panjang mengumpulkan kekuatan untuk menyusun kata-kata.
" Umar,ada?"
" Dia sedang tidur, kalau boleh tahu ini siapa?"
" Saya madu anda, Vania Binti Rahman."
Vania memutuskan talian. Dia berlari menuju kamarnya, menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada.
"Tega kamu,kak," Vania membenamkan muka dibantal.
***
Mama keluar rumah memanggil semuanya. Menceritakan apa yang telah terjadi barusan.
"Adam, ajak Vania liburan. Buat dia sedikit terhibur," pinta mama.
Adam mengangguk.
" Pa, hubungi teman papa yang bekerja di pengadilan agama. Tanyakan persyaratan yang harus disiapkan untuk mengurus cerai. Mama tak ridha jika Vania harus menyandang status sebagai isteri Umar lagi,"
Papa yang menggendong Nando segera mengeluarkan handphone dan menelefon temannya.
Semua hening menunggu diruangtamu dengan kekalutan fikiran masing-masing.
Siapa sangka hati harus patah dengan cara sebegini. Menerima kenyataan suami menikah lagi ternyata lebih menyakitkan daripada mendengar dia mati. Kamu lelaki yang aku pinta kepada Tuhan untuk menjaga kehormatan. Namun,nyatanya caramu berpaling pun sungguh tak elegan.
Kamu, wanita yang bahkan aku anggap adik. Bukan salahmu jika menginginkan suamiku. Mungkin kamu pun diperbudak oleh rasa cinta. Hingga lupa merebut dengan paksa bukanlah pekerjaan yang mulia. Aku tak menyalahkanmu Thalita. Karena faktanya suamiku juga menerimamu tanpa banyak bicara.
Terimakasih atas kenyataan pahit ini.
Vania mencurahkahkan rasa dicatatan ponselnya.
#merinduimuadalahcanduđź’•
__ADS_1