
Alarm berdering, menunjukkan sudah jam 5pagi. Semalam kami menghabiskan waktu di homestay, Papa memutuskan agar kita menginap di sebuah homestay. Ada 3 kamar dan 1 ruang keluarga.
Nando masih tidur bersama opa omanya. Akhirnya aku memutuskan mandi dan segera keluar menikmati udara pagi. Kukenakan jaket dan bergoku. Kulihat ponselku dan mengecek beberapa pesan whatsap. Salah satunya dari Roy. Ada beberapa info yang menarik untuk dibaca. Aku membaca perlahan hingga seseorang mengejutkanku. Saat ku menoleh "lagi-lagi Mas Adam,"
"Udah seger pagi-pagi" ucapnya.
"Iya mas, bosen tidur," jawabku sambil memasukkan ponsel ke kantung jaket.
Kami berjalan beriringan.
"Van, bolehkah mas bertanya sesuatu?"
"Tanya aja ,Mas. Santuy,"
Mas Adam menarik tanganku, menggiringku ke arah kursi panjang yang tersedia ditepi jalan.
"Duduk," perintahnya.
Aku duduk tanpa banyak kata.
"Van, apa setelah bercerai, kamu mau nikah sama Mas?"
"Siapa yang mau bercerai,Mas?" ucapku.
" setelah apa yang terjadi,Van?"
__ADS_1
" Vania tak tahu,Mas. namun apa perceraian bisa menyelesaikan masalah?. Aku belum tahu kenapa Kak Umar pergi dan memilih yang lain. Semua pasti ada sebab, dan bisa jadi sebab itu adalah aku sendiri. Aku yang tak pandai melayani suami," air mataku menetes.
Entah kenapa hasrat dihati ingin sekali memeluk Mas Adam. Dan aku tak peduli. Aku memeluknya. Terasa Mas Adam kaget dengan tindakanku. Namun aku tak peduli. Jujur aku rindu, rindu sekali pelukan hangat ini. Aku rindu sekali kedamaian ini. Apa Mas Adam bisa membahagiakanku? Aku sudah terlanjur takut dan tak bisa menilai.
Mas Adam merapatkan pelukanku, dia mengelus ujung kerudungku. Aku membenamkan muka di dadanya. Kehangatan merasuk kejiwa.
Mas Adam benar-benar membiarkanku menumpahkan air mata dan segala yang mencekam dada tanpa banyak kata. Setelah sekian menit, dia mendongakkan kepalaku dan mencium keningku.
" Sayangku ke kamu tetap sama,Van. Kamu tetap mengisi relung hati,"
Aku terdiam, tak mampu memberi balasan. Lelaki didepanku ini sudah terlalu lama menungguku. Lelaki didepanku ini sudah terlalu lama mengharapkanku. Apa aku layak? Apa aku pantas?
Aku meleraikan pelukan.
Aku terbayang ciumannya di kening. Aku berlari menjauh. Aku rasa dinding keras dihatiku benar-benar sudah runtuh.
"Adam, kamu lelaki yang sedari dulu mampu menyamankanku. Apa bahagiaku memang ditakdirkan bersamamu?"
Aku menyandarkan diri disebuah pohon rindang. Memejamkan mata mencoba memikirkan kejadian barusan. Perasaan apa ini?
Aku teringat ponselku, membuka kembali pesan-pesan dari Roy. Menurut dokter tempat Umar periksa dia terkena Impoten efek konsumsi obat-obatan terlarang.
Aku musykil sekali dengan fakta ini. Jadi kak Umar pergi dengan kesedihan sebegitunya. Siapa lelaki yang tak malu jika tak lagi bisa memuaskan isterinya? Aku merasa bersalah. Aku tak ada saat dia merasakan kecewa didada.
Kulihat foto-foto Umar bersama Thalita. Mereka sekarang bahagia ucap Roy.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin lelaki yang bisa punya anak, terserang impoten Roy?"balasku di whatsap.
"Karena penggunaan obat stimulan"
' aku tak mengerti '
"Stimulan adalah obat-obatan yang menaikkan tingkat kewaspadaan di dalam rentang waktu singkat. Stimulan biasanya menaikkan efek samping dengan menaikkan efektivitas, dan berbagai jenis yang lebih hebat sering kali disalahgunakan menjadi obat yang ilegal atau dipakai tanpa resep dokter. Contoh lain dari stimulan yang dikenal adalah efedrin, amfetamin, kokain, metilfenidat, MDMA, dan modafinil. Stimulan biasa disebutkan di dalam bahasa gaul Amerika sebagai "upper".Stimulan yang berpotensi disalahgunakan diawasi secara ketat di Amerika dan sistem hukum lainnya. Beberapa di antaranya bisa saja tersedia secara sah hanya melalui resep dokter (misalnya metamfetamin, nama dagang Desoxyn, campuran garam amfetamin, nama dagang Adderall, deksamfetamin, nama dagang Dexedrine) atau dilarang sama sekali (misalnya metkatinon).
"Pembahasan yang rumit! Semacam obat perangsang begitu juga kah? " Vania membalas.
"Yes, semacam itu juga. Aku curiga kamu sering maksa dia minum obat kuat deh," Roy mengirim chat dengan emot 🤪.
Aku membacanya sekilas dan tak membalas. Perasaan aku ga pernah minta macam-macam ke Kak Umar. Kenapa dia harus meminum obat-obatan seperti itu?
***
Vania menundukkan kepala, bersandarkan lututnya. Aku bingung Tuhan. Kalau seandainya aku mempertahankan Kak Umar , apa yang aku dapat? Namun,gimana dengan Nando. Bukankah anak sekecil itu tetap butuhkan sosok ayah. Tak mungkin juga aku menikah lagi dalam waktu terdekat. Apa komentar orang kelak. Semua berserabut di otak .
***
Adam hanya memandangi Vania dari kejauhan, tersenyum melihat tingkahnya yang segan-segan.
"Duh Van, bikin makin sayang," Adam memutuskan kembali ke homestay. Membiarkan Vania berperang dengan perasaannya.
#merinduimuadalahcandu
__ADS_1