Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 27


__ADS_3

"Sayang, sejak menikah. Kamu belum mengajakku kerumah orangtuamu?" tanya Thalita disuatu pagi. Dia mulai risau sejak menerima telefon dari Vania kemaren. Namun, dia menyembunyikannya dari Umar.


"Maaf, aku belum siap. Kamu tahu sendiri kalau mama papa masih berat menerimamu, karena aku masih punya Vania"


"Sampai kapan harus begini, yang? Aku juga ingin jadi seseorang yang diakui,"


"Bukankah, aku selalu disini menemanimu? Mengakui bahwa kamu isteriku?" balas Umar dengan tatapan dingin.


Thalita mendekat, memeluk Umar.


"Aku harus cari kerjaan,". Umar melepaskan pelukan isteri barunya itu.


Thalita merasakan kedinginan Umar. Fisik Umar disini tapi hatinya mungkin masih condong ke Vania. Segala cara sudah Thalita lakukan untuk dapatkan perhatian Umar. Memang "memiliki seseorang dengan jalur merebut seperti sedang menerokai benang yang kusut".


"Arkh, persetan!! yang terpenting Umar selalu ada disisiku, cinta pasti bisa aku pupuk seiring berjalannya waktu. Maaf Vania, lelakimu akan selamanya jadi milikku," batin Thalita jahat.


Dia memang terobsesi sekali tuk memiliki Umar, namun dia pun melakukan tugas sebaik-baiknya sebagai seorang isteri. Semua ia kerjakan, dia tak pernah mengeluh sedikitpun tentang keadaan rumahtangganya. "Sudah terlanjur basah, mending mandi sekalian" itu yang selalu ada di fikiran Thalita.


*****


Berjalan dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya. Umar gigih mencari kerja. Aku sudah tak mencukupi kebutuhan Vania juga Nando. Jangan sampai Thalita pun tak tercukupi . " Aku lelaki yang punya harga diri, mana bisa terus-terusan hidup dengan memakai uang Thalita,"


Setelah tiga jam berjalan, Umar mendatangi pabrik ice cream.


"Baik, Bapak. Saya sudah membaca data bapak dan anda bisa bekerja disini mulai besok,"

__ADS_1


Umar tersenyum sumringah. "Alhamdulillah" ucapnya.


Mereka bersalaman. "Terimakasih" ucap Umar.


Dengan langkah santai, dia meninggalkan ruangan. Dia segera bergegas untuk pulang kerumah karena jam di tangan pun sudah menunjukkan jam 16.00.


***


Sesampainya dirumah. Umar disuguhi penampilan seksi istrinya. Thalita tersenyum manis menyambutnya. Mencium punggung tangan dan membawakan tas Umar ke dalam.


"Mau makan nasi atau mau makan aku dulu, sayang? tanya Thalita sambil menarik- narik kerah leher kemeja suaminya.


Umar tertawa dan menggiring isterinya ke tempat tidur. Thalita tertawa penuh kemenangan.


"Kamu memang belum mencintaiku sepenuhnya,Umar. Namun aku yakin perlahan aku akan memenangkan hatimu"


Masih bersandaran di ranjang. Umar bercerita bahwa dia sudah dapat pekerjaan. Thalita memeluknya,menyemangati. "Apapun pekerjaannya,selama itu halal lakukan saja sayang."


***


Umar termenung. Vania dan Thalita adalah sosok yang berbeda. Vania anggun dengan kemandiriannya dan Thalita menggemaskan dengan kemanjaannya. Andai saja jika aku bisa memiliki keduanya. Di sudut hati Umar, masih Vania yang dia inginkan. Meski terkadang ingin rasanya dia segera menceraikan. Karena Vania juga butuh kebahagiaan.


Kehidupan yang Umar dan Thalita jalani bukan sepenuhnya murni atas cinta. Hanya saja Thalita selalu pandai membuat Umar tergoda. "Aku hanya lelaki yang selalu lemah, ketika berurusan dengan syahwat," batin Umar.


Semua tentang Vania membayang di ingatan. Tak ada cacat celanya sosok Vania. Mungkin Tuhan tidak terima, perempuan sebaik dia mendapatkan lelaki sepertiku yang tak berguna. "Maafin kakak,Vania".

__ADS_1


Thalita mendengar suaminya mengucap nama madunya. Hatinya berdesir merasakan kemarahan. "Kamu baru saja bersenang-senang dengan tubuhku, sekarang kamu sebut-sebut lagi nama isterimu. Dasar sampah!" batin Thalita.


Tanpa sepengetahuan Umar. Thalita menemui ayahnya. Sesampainya disana dia mengadu jika Umar masih sering menyebut-nyebut nama isteri pertamanya.


Ayahnya hanya menyambutnya dengan tawa. " Nak, yang pertama memang selalu lebih berkesan. Apatah lagi kamu menikah dengan Umar tanpa izin sah dari isteri pertamanya,".


"Ayah, kenapa memihak Vania?"


"Ayah tak tahu kenapa kamu begitu terobsesi dengan Umar, ayah sudah curiga waktu kamu membawa Umar kesini untuk berobat. Hanya saja ayah lebih memilih untuk diam,"


"Thalita sayang Umar, ayah!"


"Nak, apa kamu yakin itu cinta? Cinta tidak menjerumuskan! " sahut ayah.


Thalita termenung membenarkan ucapan ayahnya. Batinnya berperang .


Aku menikmati apapun yang Umar lakukan. Bahkan dia lelaki pertama yang menjamah tubuhku. Aku sanggup melakukan apa saja demi dapatkan dia dan hatinya. " apakah ini cinta atau obsesiku semata?"


"Kembalilah pada Allah, Taubat Nasuha. Semua ini terjadi atas kehendak Allah, entah apapun hikmah didalamnya . Allah lebih tahu alasannya," ucap ayah sambil menepuk halus pundak Thalita.


"Cinta tak pernah buta. Nafsu yang selalu menjerumuskan pelakunya dengan dalih kata cinta. Poligami memang halal, tapi semua harus terjadi dengan kerelaan. Kamu ini pelakor nak, karena kamu merebut suami orang. Seandainya kamu yang jadi Vania, kamu yakin kamu bisa melewatinya sekuat dia? Ayah mencari tahu semuanya nak. Namun, ayah selalu kalah untuk tak mengiyakan semua permintaanmu. Karena sejak kepergian ibumu, hanya kamu satu-satunya yang ayah punya," air bening itu menetes dari pelupuk tua ayahnya.


Thalita memejamkan mata, membiarkan hatinya yang berkata-kata.


#merinduimuadalahcanduđź’•

__ADS_1



__ADS_2