Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 28


__ADS_3

"Libur telah tiba, Libur telah tiba. Hatiku gembira" Adam bernyanyi.


Nando tertawa sambil memegang truck pasirnya yang hendak dibawa berlibur. Padahal mereka mau ke tempat naik kuda, tapi yang Nando bawa malah truck pasir. Suka-suka hati Nando sajalah.


Vania menyetujui permintaan mama dan papa untuk berlibur, namun Vania ingin mereka pergi bersama. Vania tak enak hati jika harus pergi berdua saja dengan Adam. Yah, namanya juga berduaan takut macam- macam godaan. Vania memilih untuk mencari aman.


Jujur hati Vania masih patah berkeping-keping. Namun dia tak ingin larut dalam kesedihan. Dia sudah menghubungi temannya yang berprofesi sebagai detektif untuk menyelidiki bagaimana awal mula Umar bisa menikah dengan Thalita. Vania masih yakin sekali kalau Umar hanya terjebak dalam kisah ini.


"Aku kenal banget siapa Thalita, dia pasti akan menghalalkan segala cara buat dapatinn apa yang dia mau," ucap Vania pada Roy temannya.


Roy mengangguk perlahan, mengamati foto Thalita dan Umar.


"Recehan ini Van, bakal kelar dalam waktu seminggu."


"Do your best, tapi ingat jangan sampai ada yang tahu tentang kerjasama kita, saat ketemu aku dimanapun pura-puralah tak mengenalku," pinta Vania.


"Kamu masih sayang, Umar?"


"Aku keliru dengan rasaku, Roy. Yang jelas aku hanya ingin tahu kebenarannya, soal mau dibawa hubunganku itu urusan terakhir. Toh aku juga sudah terbiasa hidup sendiri,"


"Dulu aku nikahin aja gak mau," jawab Roy selamba.


Vania hanya melemparinya dengan novel setebal 400halaman.


"Urgh, jangan galak- galak. Kamu tambah cantik kalau begitu," goda Roy sambil berlalu pergi meninggalkan Vania.


*****


Akhirnya mereka sampai ke Purwodadi, tempat pacuan kuda. Vania sebenarnya kurang bersemangat untuk menghabiskan waktu dengan kuda-kuda tersebut. Apalah daya Nando ingin sekali.


"Ma,Biar Nando sama mama saja ya. Vania ingin duduk di cafe sebelah sana aja dulu,"


"Yups, take ur time sayang," ucap mama.


"Mama mertua ter pengertian able banget sih ma," Vania mengecup pipi mamanya.

__ADS_1


Nando masih di gendongan Adam, dan Vania memilih untuk menjauh.


"Aku cuma butuh kopi," pikir Vania.


Dia memesan kopi dan duduk disebelah depan, sekali- kali dia bisa mencuri pandang ke arah Adam yang begitu ceria bermain dengan Nando.


Vania tersenyum tawar


"entahlah Mas, aku tu harus bagaimana ke kamu? Allah membenci perceraian," batin Vania berperang.


Vania mengaduk cake coklat yang dipesannya, tiada selera untuk memakannya. Sesekali menyesap kopi mengabaikan gemuruh dihati.


"Saya terima nikahnya___ " lagi-lagi bayangan itu saja yang menari-nari di otak Vania.


Aarrgh,Vania meraup mukanya frustasi. " Gini banget sih hidup aku?"


Adam melihat dari jauh, kemudian izin ke mama papa untuk menghampiri Vania.


Adam langsung duduk disebelah Vania. "Sini bersandar," ucap Adam.


Adam tertawa " kecewa tapi bersandar juga, apa sih mulut sama hati gak sinkron gitu!"


Vania tak menjawab. Dia sibuk bermain-main dengan pikirannya.


"Ini yang aku rasain, waktu kamu menikah Van," Adam memecah keheningan.


Vania menoleh, kemudian menyandarkan lagi kepalanya. Dan hening. Adam menggenggam tangan Vania. Meyakinkan wanita disampingnya ini bahwa ia kuat.


Adam mengabadikan momen, menjepret beberapa kali Vania yang terlelap dibahunya.


" Kapan aku bisa memilikimu seutuhnya,Van?" batin Adam resah karena ia tak tahu kemana hubungan ini berarah. Aku juga ingin mencari ketenangan dalam kepastian Van, tapi apa daya hatiku tak mampu melihatmu menghadapi sedihmu sendirian. Aku tetap harus disini, biar sajalah takdir yang mengakhiri.


Adam memakan cake coklat yang hanya diaduk-aduk Vania. Dia mulai lapar namun tak tega merubah posisi Vania. Aku selalu lemah kalau berusan denganmu Van. Kenapa bisa sesayang ini sih? Adam letih.


Letih mencintai seseorang tanpa pamrih.

__ADS_1


***


Terlihat Nando dan opa omanya berjalan ke arah Adam.


Nando berlari menuju mereka "kok Bunda tidur sih?" sambil menggoyangkan badan Vania.


Vania menggeliat dan terbangun. Kaget melihat semua sudah disini.


"Kesini cuma mau pindah tempat tidur,Van" goda papa.


Vania tersenyum, meraup mukanya.


"Vania ke kamar mandi dulu," pamitnya sambil mencuit hidung Nando.


Vania mencuci mukanya, membenarkan riasan naturalnya. Dan segera kembali ke keluarganya.


Mereka sudah memesan makanan, Nando sudah berada dipangkuan Adam. "Apa kamu sedang menggodaku,Mas" batin Vania ketika melihat kedekatan Adam dan puteranya.


Vania duduk disamping Adam dan meminta Nando untuk makan bersamanya.


"Biar om makan juga,nak. Nando sama bunda aja,"


Nando menolak dan tetap memilih bersama Adam.


Adam tersenyum "Biar aja Van, aku masih bisa kok makan sambil mangkuin Nando. Jangankan Nando, sambil mangkuin kamu aja tetep bisa makan kok,"


Vania tergelak "Dasar komodo!! Ngegombal mulu," sambil melempari Adam dengan tisu.


Papa mama tertawa melihat mereka.


"Papa itu dulu kaya begitu,Van. Hobinya ngegombalin mama melulu,sampai sekarang malah,"


"Papa tu ga ngegombal ma, Papa selalu jujur dengan perasan papa," papa berkilah.


Gantian Adam dan Vania yang tertawa. Dan Nando asyik memakan ayam gorengnya tanpa memperdulikan sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2