
****Umar
"Ya Allah,apa yang sudah aku lakukan?" Batin Umar.
Dilihatnya Thalita yang tidur karena kelelahan, nampak sepintas bercak darah di seprei.
"Sudah dua kali aku merusak anak gadis orang, bagaimana dengan Vaniaku ?, aku sungguh sungguh tak pernah bisa mengawal nafsu" batin Umar.
Melihat Thalita polos tanpa busana,hanya tertutup selimut. Umar kembali mendekatinya.
"Lita,maafin mas ya" bisiknya pelan sambil mendaratkan ciuman dikeningnya.
Tiba tiba Thalita terbangun dan dia menangis.. "Mas, Thalita sudah ga suci lagi. Bagaimana kalau sampai bapak tau?"
"Mas akan tanggungjawab Lita, mas akan nikahin kamu"
"Mas,janji???" Tanya Thalita
"Mas janji, Umar meraup Thalita dalam pelukannya"
"Maafin kakak,Vania. Kakak benar benar tak kuasa menahannya"
*****
Seminggu setelah kejadian tersebut. Bapak Thalita menghampiri Umar.
"Nak,kamu sudah benar benar sembuh. Skarang kamu boleh pulang"
"Pak,apa boleh saya nikahi anak bapak?" Tanya Umar.
"Bukannya kamu udah punya isteri nak?" Tanya pak Ucup lagi.
"Iya pak,tapi saya sungguh tertarik dengan anak bapak"
__ADS_1
"Sekiranya engkau bisa adil, bapak izinkan tapi kamu harus tanya Thalita dulu nak"
Thalita yang sedari tadi menguping. Memberanikan diri keluar.
"Lita mau jadi istri Mas Umar pak"
Mereka berdua menoleh mendengar suara Thalita.
"Kamu yakin nak? Jadi yang kedua itu tak selamanya enak? Apalagi istri pertama belum tau halnya?"
"Thalita ikhlas bapak, Thalita sayang mas Umar" ucap Thalita mantap.
"Baiklah,kalau itu maumu nak" ucap bapak
Kita akan segera langsungkan pernikahan. "Tapi Umar lebih baik pulang dulu,beri tahu keluargamu dan juga isterimu.biarpun Thalita cuma isteri kedua setidaknya keluarga tau statusnya " ucap bapak.
"Baiklah pak, saya akan berkemas"
Akhirnya Umar pamit pada Thalita, dengan kegundahan hati dia nekat pulang ke rumah orangtuanya. Bahkan dibenaknya sudah terbayang tamparan keras ayahnya.
Didalam kereta Umar hanya bisa merenung, kenapa kehidupan menyeretnya sedemikian rupa. Kenapa ujiannya tak kunjung selesai juga. Apalagi kesalahanku yang malah meniduri Thalita. Tuhan apa aku memang berbakat jadi pezina??
Tak terasa dia sudah sampai lagi dikotanya. Dia segera mencari ojol untuk menuju kerumahnya. Dengan sisa keberanian dia pulang kerumah menemui ayah bunda.
Tok tok..... Umar mengetuk pintu
"Tunggu sebentar" terdengar teriakan bunda dari dalam.
Bunda terlihat kaget ketika membuka pintu. Apa bunda gak mimpi? Ini benar Umar? Anak bunda? Bunda menampar nampar pipinya dan segera memeluk Umar.
"Yaallah nak,kamu kemana saja?"
"Maafin Umar,bunda"
__ADS_1
Bunda terisak dan mendekap erat putra kesayanganya.
Dari dalam ayah segera keluar.. melihat siapa yang datang ayah segera melerai pelukan mereka.
"Plak, tamparan keras dipipi Umar. Kamu benar benar buat ayah malu, pergi tanpa alasan. Meninggalkan anak isteri tanpa penjelasan. Ayah tak pernah mengajarimu seperti itu nak" ayah menitiskan air mata.
Bunda cuma bisa memandang tanpa pembelaan. Diapun sebenarnya bingung harus bagaimana. Disisi lain dia rindu dengan putranya. Disisi lain diapun marah dengan tingkah anaknya. Sungguh kenapa begini akhirnya.
"Mari kita masuk kedalam nak, yah. Mari kita obrolkan dengan kepala dingin" ucap Bunda menengahi.
"Kamu kemana saja Umar? " tanya Bunda setelah semua duduk dan dia ambilkan air.
"Maafkan Umar bun, Umar harus pergi karna Umar sakit"
"Sakit?? Kamu sakit apa nak?" Ucap bunda
"Kau tak perlu mencari pembenaran Umar" balas ayahnya sinis.
"Maaf Bunda, Umar sedang tak ingin membahasnya lagi. Bolehkah Umar tahu bagaimana keadaan Vania dan Nando??"
"Setelah apa yang kau lakukan,kamu masih tak punya malu buat tanya keadaan mereka?? Ayah sungguh malu memiliki putra sepertimu" ayah pergi meninggalkan Umar.
Bunda hanya melihat sepintas, dia tau suaminya betul betul marah dengan sikap puteranya.
"Mereka baik baik saja Umar, Vania perempuan yang baik. Dia melanjutkan usahanya dan tetap mengasuh Nando dengan baik. Bahkan dia tetap bersilaturahmi dengan bunda. Nando tidur dikamar nak, Vania ada urusan kerjaan di luar kota" tutur bunda.
"Vania pergi dengan siapa bun?"
"Dia kemana mana selalu dengan Nando, tapi karna keluar kota. Jadi dia pergi sendirian nak"
Lihatlah Nando tapi ingat kamu masih punya hutang penjelasan ke Bunda.
Umar bergegas melihat puteranya. "Maafin ayah nak" dia menangis disamping ranjang puteranya. Tiba tiba semua terulang di memorinya, momen betapa bahagianya ketika tau Vania hamil, Vania melahirkan. Umar makin terisak dalam penyesalan. Aku sungguh tak pantas jadi lelaki. Aku sungguh tak berguna.. Dia memukul mukul kepalanya.
__ADS_1