Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 25


__ADS_3

Vania merasa kesepian dirumah sendirian. Setelah selesai semua pekerjaannya, dia berniat untuk pergi spa saja. Merilekskan otot-otot badannya.


Terdengar bunyi handphone. Vania mengambilnya.


"Van, aku kok kangen kamu ya"


Vania tersenyum membaca pesan dari Mas Adam. Vania cuma menbacanya, sebenarnya rasa itu tetap ada untuk Adam. Hanya saja Vania masih trauma dengan kisah cintanya.


"Yah,kok dibaca doank si? Kan bukan koran" chat Adam lagi.


Vania yang sedang menyetir memutuskan menelfon Adam dengan memakai handsfree.


"Assalamu'alaikum" suara Adam di ujung talian.


"Wa'alaikumussalam,Maaf mas,Vania mau spa. Makanya tadi cuma baca aja chatnya. Maaf ya " ucap Vania.


"Gpp Van, mas cuma rindu,"


Vania membalasnya dengan ketawa " rindu apanya,Mas? Vania ini isteri orang,"


"Oh iya,astagfirullah. Maaf Van," ucap Adam,


Vania pun memutus talian, setelah mengucap salam.


šŸ’”šŸ’”šŸ’”šŸ’”


"Kenapa susah sekali si mendapatkan Vania?, suaminya udah pergi. Masih aja dia bertahan? Sampai kapan aku harus menunggumu,Van. Rasaku tak pernah pudar dari dulu lagi," Adam meraup muka. Dia bingung dengan rasanya, terkadang dia mencoba menetralkan rasa dan berhasil, tapi terkadang dia begitu menggebu merindui Vania. Sungguh rasa ini menyakitkan sekali.


Adam pernah dekat beberapa kali dengan perempuan. Sayangnya semua hanya persinggahan. Adam belum menemui seseorang yang benar-benar mampu mengisi kekosongannya. Berbeda sekali dengan Vania, dia berbeda. Entah kenapa ketika bersamanya hanya nyaman dan tenang yang dirasa.


******


Dua jam sudah Vania spa,dipijat dilulur. Dia menggeliatkan badan saking enaknya. Berasa segar sekali tubuhnya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan pembayaran, Vania pun memutuskan untuk mampir di cafe langganannya. Siapa sangka disana dia bertemu Adam.


"Lah mas," Vania menyapa Adam.


"Eh Van, kayanya kita jodoh deh. Nih buktinya kita ketemu pas aku lagi rindu,"


"Hahaha, jodoh tu apa sih Mas? Vania mati-matian menganggap suami Vania itu jodoh. Karena buktinya kami menikah. Nyatanya dia pergi gitu aja dari hidup Vania. Malah hanya menunggu waktu kita pasti terpisah juga. Lantas jodoh itu apa,Mas? Bahkan pernikahan pun bukan bukti bahwa jodoh itu akhir segalanya?"


Adam tersenyum. "Jodoh itu simple Van, pernah gak dengar emak-emak bilang "wah jodoh pak, saya sedang nunggu tukang panci," atau ada yang bilang setiap dagangan ada jodohnya sendiri? . Ya begitulah hakikat jodoh. Kita pernah ketemu dulu, siapa nyana kita bisa bertemu lagi berarti kita jodoh. Suami kamu itu juga jodohmu, hanya saja jodohnya cuma sampai segitu tak sampai akhir hayat. Setiap orang yang kita temui itu Jodoh Van, hanya saja berbeda caranya. Ada yang berjodoh sebagai pembeli dan penjual, ada yang berjodoh sebagai pacar dan mantan, ada juga yang berjodoh sebagai teman dekat kemudian jadi suami hingga akhir hayat. Aamiin ,eh šŸ˜† " Adam tertawa.


Beginilah kalau bersama Adam, ada saja yang diobrolkan. Sememangnya hubungan harus seperti ini bisa ngobrol ngalor ngidul sambil minum kopi.


"Eh btw kamu cuma numpang duduk aja nih ,Van?" tanya Adam.


"Oh iya, Vania belum pesan apa-apa" dia tersenyum malu-malu pada Adam.


Vania memanggil waitress. Kemudian memesan Kopi hitam sedikit gula.


"Ngopi mulu?" tanya Adam.


Adam terkekeh.


"Ga pengen liburan,Van? Kemana gitu ayuk? Ajak Nando!"


"Pengen sih, tapi mau kemana? Nando tu pengen naik kuda." Vania sedikit sedih.


"Kok sedih? Cuma naik kuda aja kan gampang?" tanya Adam bingung.


"Masalahnya Vania cuma tahu naik kuda berarti harus ke Telaga Sarangan. Disana kan dingin,Mas "


Dan Adam masih aja bingung, dia berfikir apa hubungannya sih kuda, dingin ama sedihnya Vania. (Adam geblek ya wkwkwkšŸ¤­šŸ˜‚-author berasa pengen nampol Adam)


Vania yang melihat Adam bingung, langsung tersenyum.

__ADS_1


"Mas Adam yang manisnya sampai Mekkah, Di sarangan itu dingin mas, Vania jomblo pula. Apa ga sedih tu kalau harus ngajakin Nando kesana? Duh " Vania menapok jidatnya sendiri.


Adam tergelak, kemudian bilang " Mas, kok ga kepikiran sampai situ sih ya? "


"Ajak ke pacuan kuda Purwodadi aja,Van. Disana gak adem-adem banget. Pasti ntar Nando seneng. Mas siap nemenin kesana," Adam memasang senyuman termanisnya.


"Jangan dimanis-manisin senyumnya,Mas. Ntar Vania diabet,"


Mereka ketawa bareng dan author jadi pengen pacaran 🤣🤣🤭 (pas pacaran kan gini manissss bangeet šŸ˜)


"Permisi mbak, maaf lama," waitress datang dengan membawa kopi.


"Gpp mbak, terimakasih," ucap Vania.


Vania menyesap kopi pahitnya. Sejak ditinggal Umar, dia seperti kecanduan kopi. Karena hanya kopi yang mengerti pahitnya hati. Vania termenung mengingat banyaknya kenangan bersama Umar. Nikah,bulan madu,liburan bersama Nando. Sekarang semua sudah berbeda. Vania sendirian,menikmati hidup dengan kesepian, membesarkan buah hati tanpa pasangan. Ini bukan ujian yang menyenangkan. Siapa sangka Adam akan kembali disini, menemani melalui hari. Dia tetap sama lelaki yang menyenangkan sepanjang masa. Vania menarik nafas panjang.


"Hey,nglamun aja," Adam membuyarkan lamunan Vania.


Vania membalasnya dengan senyum. "Betewe gimana kabar mantanmu,Mas?"


"Ga tau,Van. Udah lama juga Mas ga berhubungan,udah males aja nginget-nginget"


"Jangan benci ama mantan,Mas. Seburuk apapun dia, dulu pernah saling menyamankan dan menorehkan kebahagiaan. Vania tak pernah memutuskan hubungan ama mantan, paling-paling ntar isterinya mantan yang blokir akses mereka ke Vania, hahahaa" Vania tersenyum sambil mengangkat alisnya.


"Kayanya Mas juga gitu , isteri Mas bakal blokir akses Mas ke Vania, takut kesaing," Adam mengerling.


" udah bayangin isteri aja?? Pacar aja ga punya!!!"


Lagi-lagi Adam hanya tergelak.


Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Vania pun meminta izin untuk pulang. Begitu juga dengan Adam, setelah membayar bill mereka melangkahkan kaki menuju mobil masing-masing.


#merinduimuadalahcandu

__ADS_1


Author jadi kangen mantan šŸ¤­šŸ˜‚ maaf ya spoiler šŸ˜šŸ˜‚



__ADS_2