Merinduimu Adalah Candu

Merinduimu Adalah Candu
Part 22


__ADS_3

Part 22


"Sudah 2hari Vania pulang,bahkan ia sama sekali tak menghubungiku. Smoga dia baik baik saja, smoga saja dia hanya lupa tuk menghubungiku" .


Kriiiing.. Adam hampir membuang hpnya karna kaget.


Dilihat sepintas no Vania . Adam buru buru menjawabnya.


"Hallo,Assalamu'alaikum" sapa Adam


"Wa'alaikumussalam mas, maaf ya Vania lupa hendak mengabari. Sampai rumah udah sibuk ngurusin Nando ama orderan"


"Gpp Van,mas faham. Cuma kuatir aja Vania kenapa kenapa"


"Alhamdulillah mas,Vania baik baik saja"


Setelah berbasa basi ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon ngumbah moto*eh keblabasan nyanyi. Vania mengakhiri panggilan.


Vania membuka blokiran semua akun sosmed Adam dan menambahkan ulang.


Adam melihat story terakhir Vania. "Terlalu jahat kah aku,hingga kau perlakukan sesuka hatimu?"


Vania masih enggan bercerita kisah rumahtangganya sedetailnya ke Adam. Adam hanya menghela nafas berharap semua segera temukan jalan keluar. Sungguh hatiku sakit melihat Vania disakiti sebegitu.


"Mas Adam,kapan sekiranya Vania boleh ketemu lagi" chat Vania di Wa.


Yaallah,apa Vania bisa membaca fikiranku? Secepat ini dia ngajakin ketemu.


"Secepatnya juga boleh Van" balas Adam.


"Nanti malam yuk mas, ngopi di cafe starfarm"


"Boleh,nanti mas kabari ya"


Sekarang jam 9,duh Vania lupa apa sih kalau aku masih di Semarang. Baiklah demi dia ,kupacu segera motorku agar bisa sampai sana .


"Bu,Adam pamit mau pergi bentar ya"


"Kemana?"


"Nemuin Vania" jawab Adam.

__ADS_1


"Hati hati nak, ibu masih berharap sekali dia jadi milikmu suatu hari nanti. Doa ibu menyertaimu.


Adam pergi dengan hati lega, ibu yang susah sekali memberi restu. Tiba tiba segitu luluhnya dengan pesona Vania.


Adam tak lagi menggebu-gebu soal perasaan. Dia benar -benar berserah pada Tuhan. Sungguh sebenarnya hatinya masih begitu sayang pada Vania.


Akhirnya sampai juga, Adam segera masuk kerumah dan meregangkan badannya. Beristirahat sebentar sambil menunggu malam. Tak lamapun Adam terlelap.


****


Seharian Vania hanya bermalas- malasan dikamar, dia meminta mama papa menjaga Nando. Vania tak habis fikir kenapa Kak Umar memperlakukannya sebegini. Kalau iya pun mau menikah lagi, setidaknya aku benar-benar dikabari. Bukan digantungkan seperti ini. Lagi- lagi Vania menangis.


"Mas,nanti jadi ya. Abis maghrib aja, biar gak terlalu larut," whatsap Vania ke Adam.


Setelah mengirim pesan, Vania membuka album pernikahannya. Membuka-buka lagi foto bahagianya bersama suaminya. Hanya sebatas inikah sayangmu, kak? Kenapa tega sekali mempermainkan hati?


Sekitar jam 5sore, Adam membalas pesan Vania. "Baik,Van. Maaf aku ketiduran"


Selang semenit ,Vania membalas "Oke mas, keberatan tidak kalau jemput Vania dirumah?"


"Apa boleh,Van?"


"Gpp mas, sampai depan rumah chat aja. Nanti Vania keluar"


"Baik,"


Setelah menunaikan sholat maghrib, Adam bergegas mengambil kunci mobilnya. Dia segera meluncur ke rumah Vania. Sambil bersiul-siul kecil seperti anak smp hendak kencan.


"Berasa udah lama, ga seseneng ini" batin Adam.


Ternyata rumah Vania tak terlalu jauh dari rumah Adam. Kok ga tau dari dulu ya? Kan aku sering maen kerumah bibi yang disitu.


"Van,aku sampai.


"Baik,Vania kedepan"


Vania melihat mobil putih Mas Adam, Vania melambai dan Adam menghentikan mobilnya didepan teras. Vania segera melangkah menuju mobil.


"Hai Mas Adam,makasih udah dijemput." Vania tersenyum sambil melabuhkan dikursi depan.


"Sama-sama," Adam terpesona melihat kecantikan Vania. Dia memakai baju yang pernah kubelikan beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


"Duh,baju ini masih disimpan. Apa kamu juga masih menyimpan semua kenangan kita dihati,Van" Adam hanya membatin.


Segera meluncur ke kafe pilihan Vania. Kebetulan pula disana tak terlalu rame,sehingga mereka leluasa memilih tempat. Vania memilih pojok ruangan yang dikelilingi banyak bunga. "Kamu masih sama , menyukai bunga Van"


"Hahaha,tak banyak yang berubah dariku Mas ,"


Adam membalasnya dengan senyum. Setelah memilih menu, kami mulai dengan obrolan ringan.


Tak lama kemudian pesanan datang, dan Vania memulai obrolan beratnya. "Mas,Vania ngajak mas kesini untuk bicara hal serius"


"Ada apa,Van?" tanya Adam.


"Seperti yang Mas udah tau, Kak Umar menghilang sekian lama, malah kemarin mama ngasih tau kalau Kak Umar mau menikah lagi"


"Hah? Adam tersedak minumannya,"


Vania sontak memberi Adam air mineral, "pelan-pelan,Mas" mereka bertatapan sebentar.


Vania segera sadar ," maaf Mas, Vania reflek"


"Hahaha,kamu masih mengkhatirkanku Van," tawa Adam syarat makna.


"Kenapa mama Umar bilang begitu?," tanya Adam.


Kak Umar menemui mereka dan mengutarakan itu. Namun Kak Umar tak pernah menemui aku dan Nando. "Vania bingung,mas. Vania harus bagaimana?" Vania meneteskan airmata.


"Duuuh, kalau nangis gini kudu aku gimanain?. Isteri orang ini," Adam nampak gelisah.


Entah dapat keberanian dari mana, Adam menggenggam tangan Vania. "Tenang Van, semua pasti ada jalan keluar. Tunggu penjelasan Umar, dan kamu bisa ambil keputusan."


"Gimana caranya mendapat penjelasan Kak Umar, Mas. Bahkan Mama papa sudah tak tau kemana lagi Kak Umar pergi, Vania lelah,Mas" kali ini Vania terisak lebih dalam.


Adam merenung sejenak, apa yang harus aku lakukan. "Minumlah, coklat hangat ini akan buatmu sedikit tenang," ucap Adam.


Vania mengusap airmatanya,dan meminum coklat hangatnya. Dia menghela nafas panjang.


"Maaf,Mas. Aku melibatkanmu dalam urusanku,"


"Tak mengapa,Van. Kalau kamu butuh apa-apa,insyaallah aku akan selalu ada," ucap Adam.


Vania membalasnya dengan senyuman terhangat "Terimakasih, kamu masih saja jadi yang terbaik,".

__ADS_1


Merinduimu adalah candu 💕


__ADS_2