MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 11


__ADS_3

Malam yang sunyi tiba tiba udara terasa dingin sekali, Mutiara yang dari sejak tadi belum tidur merasakan sesuatu yang berbeda dengan malam malam lainnya. Ia yang sedang mengerjakan pekerjaan sekolah juga mulai merinding merasakan udara yang sangat sejuk. 


Matanya langsung melihat ke jam dinding yang ada di kamarnya, jam telah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Pantesan saja udaranya dingin sekali, apalagi di kampung itu memang dekat dengan pegunungan. Tapi Mutiara seperti merasakan sesuatu yang berbeda dengan hati hari lainnya, tapi ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada malam itu. 


Tak 


Tak 


Tak


Tiba tiba Mutiara seperti mendengar suara orang yang berjalan menggunakan sandal, wanita muda itu hanya mengkerutkan wajahnya saat mendengar itu. Ia tidak nyakin kalau ibu dan bapaknya berjalan ditengah malam biarpun di dalam rumah, apalagi kakaknya Handi yang dari kemarin tidak pulang. 


Tiba tiba hidungnya menangkap aroma melati, hatinya langsung berdebar sangat kuat sekali. Ia akhirnya dengan hati hati mendekati pintu kamar untuk melihat apa yang terjadi, ia langsung keluar dari kamarnya dan tertegun melihat sebuah sosok putih yang berdiri dihadapannya. Matanya merah menyala, kulitnya hitam, wajahnya hancur tidak berbentuk lagi. Ia berusaha menahan ketakutan yang tiba tiba menyeruak di lubuk hatinya. 


Aaaaaaa


Mutiara berteriak dengan kerassnya, itu hanya  dalam hati saja kerena mulutnya seperti terkunci saat matanya dengan langsung melihat sosok yang mengerikan yang  ada dihadapannya. 


Tubuhnya bergemetar melihat sosok yang tiba tiba melintas dihadapannya, ia berusaha untuk menahan rasa geri dan takutnya supaya ia bisa berbicara dengan mahluk kasat mata. 


Bukan itu saja Mutiara juga melihat potongan tangan yang berlumuran darah segar, sedang di meja diam saja hanya jari jari tangan yang sedang menari, beberapa kali Mutiara menelan ludah dengan cepat melihat mahluk tanpa tubuh. Bulu kunduknya meremang seketika juga, disisi lain ia kadang menyesal menjadi orang yang bisa melihat hal hal aneh seperti itu, ingin  berteriak tapi ia tidak bisa berteriak saking takutnya. 


"Ka-kalian mau apa? " gugup Mutiara. 


"Kenapa kalian datang ke rumah ku, untuk apa? " kejar Mutiara terbatas bata. 


Kalimat itu yang keluar dari mulut gadis 25 tahun itu. 


"Ani! " 


"Tolong lah dia sekarang ada di ruangan perpustakaan tempat ia sekolahnya." ujar mahluk itu. 


"Ani? " 

__ADS_1


"Bukan, bukan Ani! " teriak tangan yang dari tadi diam saja diatas meja. 


"Lalu siapa? " bentak sosok itu melihat tangan  yang diatas meja. 


"Temannya Ani yang selalu Ani temui di sekolah. "


Mutiara hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan dua mahluk itu, percakapan mereka begitu jelas sekali di telinga dirinya. 


"Raya! " ujar Mutiara menimbrung percakapan dari kedua mahluk itu  


"Iya, dia! " teriak tangan itu gembira kerena Mutiara menyebut nama gadis teman  Ani. 


"Lalu Raya kenapa? " 


"Kalau kamu ingin jelas lebih baik kamu datang saja ke perpustakaan untuk tahu Raya. " kata sosok itu. 


"Baik lah! " 


"Ani! " panggil Mutiara spontan. 


Mutiara terkejut saat melihat seorang gadis menghampiri dirinya. Wanita itu langsung memeluk tubuh Ani, tapi tubuh itu hanya banyangan ssja. Mutiara yang merasakan itu hanya bisa tertegun, ditatap tubuh Ani yang tembus oleh tubuhnya. Seperti ada dimensi lain yang memisahkan dirinya dengan Ani. 


"Ni! " suara Mutiara bergetar melihat semuanya. Ia sangat tercekat saat tahu kalau gadis yang ada dihadapannya bukan manusia lagi. 


"Kamu kamu sudah meninggal? Kapan meninggalanya? Tante Widya tahu kalau kamu sekarang sudah tiada? " 


Mutiara mengejar semua pertanyaan  demi pertanyaan untuk dijawab oleh gadis yang ada di hadapannya Ani, gadis itu hanya mengangguk saja membenarkan apa yang akan dikatakan oleh saudara sepupunya. 


"Kak, bantu aku. Bantu Raya juga, aku nyakin kalau Raya bisa membantu aku tapi aku ingin kakak bantu Raya juga! " kata Ani menatap Mutiara. 


Mutiara hanya melongo saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ani, sebelum Mutiara menjawab pertanyaan dari Ani tiba tiba ada mahluk. Lain yang menghampiri dirinya. 


"Iya kak, lebih baik bantu Ani! " mahluk itu mengatakan itu. 

__ADS_1


Mutiara terbelalak saat ia melihat mahluk yang ada dihadapanya seorang kuntilanak dengan kondisi yang acak acakan, wajahnya hancur, lidahnya menjulir, matanya entah meman. Kakinya? Ia tidak punya kaki hanya melayang saja. 


Sedangkan Ani biasa saja. Menunjukan kondisinya yang utuh. Tidak seperti mahluk yang ada di samping Ani. 


Belum sempat Mutiara menjawab tiba tiba ada sentuhan di bajunya. 


"Kita harus selamatkan Raya, Raya berada di sekolah! " seru Handi. 


Mutiara tidak menjawab pertanyaan mahluk itu, ia dengan cepatnya mengikuti Handi meninggal akan tempat itu kerena tangannya ditarik oleh kakaknya, sampai Mutiara mau jatuh tapi untungnya tidak. Sedangkan Ani dan kuntilanak hanya menatap wajah Mutiara saja tanpa bisa berbuat apa apa. 


Ani dan mahluk itu hanya melihat kepergian kedua kakak beradik itu. Mutiara hanya bisa melihat keduanya menghilang. 


"Kak, coba jangan main tarik saja sih! " Tiara menghentakan tangannya supaya dilepas oleh Handi. 


"Tante telpon kalau Raya malam ini ke sekolah. " Handi akhirnya membuka suara. 


"Raya ke sekolah?" tanya Mutiara. 


"Kak, bawa motor! Aku tadi mau ke sekolah tante juga ngabarin aku kalau Raya disana? " tanya Mutiara dengan cepat. 


Handi seperti tersadar saat mendengar kata kata Mutiara, ia menghentikan langkah nya ya tadi ia mmihat Mutiara berdiri diantara motor yang telah di keluarkan tapi Handi malah langsung menarik tangan adiknya dengan spontan. Handi hanya menepuk keningnya, sambil berhenti dan menatap wajah adiknya gemas. 


Handi dan Mutiara akhirnya balik lagi ke rumahnya untungnya rumah nya belum jauh, kalau sudah jauh bisa bisa ngesot balik ke rumah. Untung motornya masih terparkir. Handi akhirnya mengambil motor dan langsung membawa Mutiara yang ada di belakang nya menuju sekolah. 


Sampai di sekolah, Mutiara terkejut melihat tubuh Raya tergeletak di ruangan perpustakaan, hatinya bertanya tanya tentang ruangan perpustakaan yang tidak terkunci sama sekali. 


Mutiara ingin membopong tubuh Raya untuk dibawa ke tempat yang lain, tapi Handi datang dan membopong tubuh Raya kedalam pelukannya. 


"Kita bawa pulang! " ujar Handi menatap adiknya. Mutiara hanya mengangguk saja menyetujui apa yang dikatakan oleh kakaknya. 


"Raya! " teriak ibu Widya tiba tiba menghambur ke tubuh Raya. Handi hanya diam saja sambil memangku tubuh Raya. 


Wanita itu histeris melihat keadaan Raya seperti itu, sedangkan Mutiara dan Handi hanya diam saja.*

__ADS_1


__ADS_2