
Raya berteriak dengan histerisnya, mendengar apa yang disampaikan oleh pak Arya kepala sekolah di SMPnya. Ibu Widya sampai kewalahan melihat Ray meraung raung seperti kesurupan mendengar apa yang pak Arya katakan. Wanita itu langsung memeluk tubuh putrinya sambil menahan debaran hatinya yang semakin besar.
Ibu Widya sebenarnya ingin menghentikan supaya pak Arya tidak meneruskan apa yang dibicarakan tapi ia kewalahan pada sikap Raya yang semakin menjadi jadi menangisnya. Dalam hatinya wanita itu penasaran tentang Ani tapi melihat Raya seperti itu keinginan untuk tahu tentang Ani jadi musnah seketika juga.
"Kalian jangan asal ngomong tentang Ani! Ani nggak mungkin meninggal? Ani masih hidup!" teriak Raya sambil memandang pak Arya dengan sinisnya.
Mungkin kalau tidak di peluk oleh ibu Widya, Raya sudah menerkam tubuh pak Arya yang ada dihadapannya. Tapi untungnya pelukan Ibunya membuat Raya tidak bisa berbuat apa apa apa. Mata Raya berkilat kilat memandang wajah pak Arya dan pak Vino.
"Saya nggak bohong bu, saya ada buktinya kalau Ani meninggal dunia." kata Pak Arya menjelaskan tanpa melihat kondisi Raya yang meraung raung.
Ya siang tadi pak Arya datang dengan wakil sekolah mengatakan yang tidak mungkin menurut Raya, ya Raya penasaran atas kedatangan kepala sekolahnya yang datang datang tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Raya yang ada di ruang keluarga langsung beranjak menyusul ibunya menemui pak Arya dan pak Vino, setelah salaman dan cium tangan Raya duduk di bawah kursi dekat ibunya duduk.
Pak Arya ragu ragu menyampaikannya, wajahnya beberapa kali memandang wajah Raya yang menunggu dengan pasti kedatangan dirinya yang tiba tiba sekali. Kerana Raya diam saja akhirnya pak Arya memutuskan menyampaikan apa yang ia ketahui.
"Maaf Bu, saya datang kesini ingin memberitahukan satu hal pada ibu, " kata pak Arya ketar ketir. Pak Arya bicara itu setelah ketiganya duduk di kursi.
"Ya pak ada apa yang sebenarnya apa yang bapak ingin katakan? " tanya ibu Widya menatap pak Arya yang terlihat gelisah.
Ya pak Arya terlihat gelisah, matanya beberapa kali melirik kearah wakasek nya yang duduk di sampingnya.
"Ini tentang Ani, bu. " kata pak Vino wakasek SMP yang melihat kepala sekolah seperti ragu ragu menceritakan apa yang terjadi.
"Ani? Ani anak saya? Kenapa Ani pak, selama ini Ani nggak pernah pulang saya sudah mencari ke semua penjuru tapi? " ujar ibu Widya mengejar pertanyaan dari petayaan pak Vino.
Wanita itu langsung terkejut saat mendengar nama Ani disebut, apa yang dikatakan oleh Ibu Widya memang benar, ia dan keluarganya mencari Ani tapi sampai sekarang belum ketemu sama sekali.
Raya yang mendengarkan tanpa sengaja langsung duduk di bawah kursi di samping kursi ibunya, ia juga mendengar tentang nama Ani. Sedangkan ia sendiri masih bertemu dengan Ani dan sering bercengkrama dengan Ani.
__ADS_1
Hatinya tergelitik saat pak Arya memberi tahu Ani pada keluarganya, hatinya bergerak ya tanya kenapa pak Arya dan pak Vino harus memberitahukan ibunya tentang Ani? Apa ada hubungangan ia dan Ani?
Untuk bertanya ia ragu terpaksa ia mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh pak Arya dan pak Vino pada ibunya. Dan yang paling kaget ketika ibunya menyebutkan Ani sebagai anak nya.
"Ani anak ibu? Kok Ani nggak cerita sama aku kalau aku dan Ani saudara? Saudara masa usia kami dekat? Pertanyaan itu meluncur begitu saja dalam hatinya.
"Ani nggak akan pulang bu, ia nggak akan pulang kerena ia sudah meninggal dunia. " ujar pak Arya.
Mata ibu Widya hampir meloncat dari kelopak matanya mendengar pengakuan dari pak Arya tentang anaknya Ani.
"Nggak nggak mungkin. Lalu siapa yang aku temui kemarin kemarin? "
Raya yang duduk di balik kursi langsung berdiri dengan cepat dan berteriak keras dan histeris saat ia mendengar pengakuan pak Arya tentang Ani. Raya frustasi.
"Bapak jangan bohong! Ani nggak meninggal! Ani masih hidup! Jangan bilang Ani meninggal kalau kalian ingin selamat!"
Raya menjerit dan menatap wajah pak Arya dan pak Vino dengan tajam. Ia tidak ikhlas kalau dua orang itu mengatakan kalau Ani telah meninggal, ia merasa Ani masih hidup dan selalu bersama dirinya.
Ia tidak mau kalau Raya berkata kasar kadang pak Arya dan pak Vino, ya bagaimana pun keduanya adalah guru Raya, ya seharusnya raya tidak mengatakan kasar dan kotor pada gurunya.
"Bu, kenapa ibu bela mereka berdua? " mereka bohong! Mereka pasti benci sama Ani dan mengatakan Ani meninggal kalau memang Ani meninggal mana buktinya! " teriak Raya.
"Bu, Raya sering ketemu Ani bu, percaya lah apa yang dikatakan Raya."
Ibu Widya yang ada di samping Raya melonggo. Mendengar keterangan dari Pak Arya kalau sebenarnya Ani telah meninggal dunia sejak kejadian ldks tahun yang lalu itu ia dapatkan informasi dari seseorang yang mengirimkan paket ke rumah pak Arya.
Dan yang lebih terkejut lagi ia juga mendengar kalau Raya sering bertemu dengan Ani! Mana yang banar pengakuan pak Arya atau Ani?
__ADS_1
Raya tidak bisa menerima kalau Ani yang ia temui adalah hantu gentayangan. Ini tidak bisa di percaya oleh hadia 14 tahun itu, hatinya menolak dengan keras kalau Ani adalah hantu.
"Nggak Ani nggak mungkin hantu, Ani manusia biasa seperti diriku. "
"Pak lebih baik bapak pulang saja, terimakasih atas apa yang bapak informasikan tentang Ani. " ujar ibu Widya dengan tegasnya.
Ibu Widya meminta kedua tamunya untuk pulang kerena melihat gelagat Raya yang B semakin sulit diatur. Sebenarnya wanita itu heran dan tidak percaya dengan informasi yang dibawa oleh pria itu, tapi ia harus menyelidiki apa yang terjadi pada Ani. Hatinya masih belum percaya kalau Ani meninggal, ya hanya Raya yang tahu semuanya tapi melihat Raya yang histeris dan mengamuk ibu Widya urung menanyakan semuanya.
Pak Arya hanya mengangguk saja, ia akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan yang aneh dan ganjil apa lagi saat Raya mengatakan kalau ia sering menemui Ani di sekolah!
"Apa jangan jangan hantu Ani! " tanya dalam hati sambil meninggalkan rumah Raya dengan hati ketat ketir.
"Raya! " panggil ibunya lembut.
"Bu, nggak mungkin kan Ani meninggal! Bu percaya sama Raya percaya Raya sering bermain dengan Ani," tangis Raya.
"Raya kamu tenang ya kamu yang tenang coba kami ceritakan apa yang terjadi? " ujar ibu widya lepaskan pelukan satu tubuh Raya.
Wanita 30 tahunan itu mengajak Raya untuk duduk di kursi, Raya mengikuti apa yang di perintahkan oleh ibunya. Raya menatap wajah wanita yang telah melahirkannya dengan tajam.
"Kamu ketemu Ani dimana? " tanya ibu Widya.
"Di perpustakaan bu, aku sering banget ke perpustakaan sekolah bertemu dan ngobrol sama Ani, " adanya pada wanita itu.
"Masa sih! "Gumam wanita itu heran.
"Ibu nggak percaya?"
__ADS_1
"Raya janji bakal membawa Ani ke rumah ini." lanjut nya menyakinkan ibu nya.
Wanita itu hanya diam saja, mendengarkan apa yang Raya katakan. Ia tidak bisa mengelakkan kerena melihat tatapan Raya yang sangat menyakitkan.*